Sang Penari yang Tak Pernah Menyerah

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni

Humaira saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMK Grafika Mardi Yuana Bogor. Di sekolah ia mengenyam pendidikan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).

“Sebutkan tiga elemen exposure pada kamera!” tanya sang guru.

Dengan sigap, Humaira mengangkat tangan dan menjawab mantap, “Aperture, Shutter Speed, dan ISO.”

Siang itu, Humaira, siswi kelas 12 tersebut tampak tekun mengikuti kelas fotografi jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Grafika Mardi Yuana, Bogor. Bagi banyak orang, pelajaran ini mungkin sekadar materi sekolah biasa. Namun bagi Humaira, setiap teori dan kesempatan memegang kamera adalah anugerah berharga yang ia syukuri sepenuh hati.

Di balik senyum tenangnya, tersimpan perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Humaira adalah salah satu anak yang tumbuh dalam kesederhanaan ekonomi keluarga. Saat itu (2024), pascapandemi Covid-19 yang melanda masih dirasakan sulit bagi keluarganya, ekonomi keluarganya mengalami penurunan drastis, hal tersebut membuat tunggakan pada biaya sekolah Humaira.

Selain mempelajari teori, Humaira beserta teman-temannya mengikuti praktik fotografi di sekolahnya.

Segala upaya telah diusahakan oleh Taufik dan Rina, orang tua Humaira, namun uang untuk melunasi tunggakan sekolah belum kunjung terkumpul, Rina pun dilanda kebingungan. Di dalam kebingunganya muncul sebuah petunjuk, ia mendengar tentang Yayasan Buddha Tzu Chi. “Saya mendengar kabar bahwa Yayasan Buddha katanya suka membantu orang yang lagi kesusahan, terutama kesehatan dan pendidikan,” jelasnya.

Informasi tersebut membawanya menuju salah satu wihara di dekat rumahnya, di sana ia di arahkan untuk ke Depo Pesertarian Lingkungan Tzu Chi di Jalan Siliwangi, Bogor. Sesampainya di sana, Rina bertemu dengan salah satu relawan Tzu Chi, Lenny Mulya. Dengan menceritakan keluh kesahnya, Rina ingin mengajukan bantuan biaya pendidikan untuk anaknya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi. Lenny, lalu meminta beberapa kelengkapan dokumen kepada Rina sebagai persyaratan pengajuan bantuan.

Suasana hangat tercipta saat relawan Tzu Chi komintas Xie li Bogor mengunjungi rumah Humaira dan berbagi cerita bersama keluarganya.

Di tengah angin segar harapan yang akan datang, muncul kembali masalah. Sebelum menetap di rumah peninggalan kakek Humaira di Komplek KPKN Lawanggintung, Batutulis, Bogor saat ini, keluarganya dulu sempat berpindah-pindah domisili. Rina pun berpacu dengan waktu untuk mengurus KTP dan domisili di kelurahan.

“Pas itu jam-nya depo Tzu Chi sudah mau tutup, dan hari itu terakhir untuk pengajuan bantuan biaya sekolah. Saya harus ngejar KTP dan KK, saya dadakan ke kelurahan minta tolong hari ini bisa jadi walaupun hanya domisili dulu. Pas lagi siang-siang saya enggak punya uang, saya jalan kaki, karena takut tidak kekejar waktunya, saya ke rumah tetangga minta anterin pakai motor. Alhamdulliah pas banget saya sampai depo, Bu Lenny sudah siap-siap mau tutup,” cerita Rina dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya harapan yang dinantikan datang, Humaira menjadi salah satu siswi penerima bantuan pendidikan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban biaya sekolah, tetapi juga memberi ruang bagi Humaira untuk terus belajar dan mengembangkan minatnya.

Di dalam kamarnya, Humaira memiliki banyak piala dan setifikat penghargaan dari berbagai lomba dan event tari yang telah dia ikuti.

Rasa syukur dirasakan Rina atas jalinan jodoh keluarganya dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Berkat bantuan biaya pendidikan yang diberikan Yayasan Buddha Tzu Chi, dapat meringankan beban keluarganya.

“Dari Tzu Chi sampai sejauh ini, setiap bulan dapat biaya SPP dan uang kegiatan. Bahagia banget, besyukur banget, mungkin ini doa-doa saya, saya selalu berdoa ‘Ya Allah dengan jalan apapun bantu saya’. Dan Alhamdulillah mungkin Tzu Chi ini yang dipilih memberi rezeki ke saya untuk keberlangsungan sekolah Humaira,” ucap syukur Rina.

Menari Membawa Prestasi
“Dari dulu saya selalu semangat, yang penting kita jangan pernah menyerah, walalupun kita kekurangan kita harus mencari solusi menutupi kekurangan kita”. Itu lah kata-kata yang terucap dari Humaira, yang menjadi pondasi bagi dirinya untuk terus berprestasi di tengah keterbatasan.

Selain menjalankan tugas utamanya bersekolah, Humaira juga menekuni hobinya yaitu menari. Banyak prestasi yang telah ditorehkan olehnya dari bakat menarinya itu. Di antaranya menjadi delegasi dari Indonesia dalam acara Indonesia Interternational Culture Festival (IICF) 2025, pengisi acara Pertukaran Budaya Jawa Barat dengan Yogyakarta 2024, Juara 1 Lomba Tari Tingkat Kota, dan berbagai macam kejuaraan lainnya.

Hingga saat ini Humaira masih aktif untuk menekuni tari tradisional di salah satu sanggar tari, dan di sekolah ia juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler menari. Tak lupa ia bersumbangsih menampilkan tariannya dalam berbagai kegiatan yang dilakukan sekolah maupun Yayasan Budha Tzu Chi.

Humaira merias wajahnya sendiri sebelum melakukan pentas tari. Selain latihan tari rutin, Humaira juga mempersiapkan riasan wajah serta kostum sendiri.

Pada Rabu, 4 Februari relawan Tzu Chi komunitas Xie li Bogor mengunjungi sekolah Humaira untuk berbincang dengan Kepala Sekolah SMK Grafika Mardi Yuana Bogor, Mario Marselus. Dalam perbicangan tersebut Mario Marselus mengapresiasi prestasi yang ditorehkan Humaria.

“Anak ini (Humaira), berkemauan kuat untuk maju terutama dalam hal seni. Humaira ini memiliki bakat untuk menari, bakat ini ia kembangkan terus. Di samping itu dia juga memiliki bakat lain yaitu kemampuan untuk desain grafis, fotografi dan videografi. Dia anak yang sangat berprestasi baik akademik maupun non-akademik,” tuturnya.

Tak lupa juga, Mario Marselus menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan Yayasan Buddha Tzu Chi kepada anak didiknya. “Saya bersyukur Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan kesempatan dan kepedulian terhadap pendidikan, salah satunya adalah kepada siswi saya Humaira dan siswa-siswi lain yang juga mendapatkan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” ujarnya.

Penampilan Tari Jaipong yang ditampilkan Humaira saat mengisi sebuah acara di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Setelah berkunjung ke sekolah, relawan Tzu Chi lalu menuju rumah Humaira untuk menyapa keluarganya. Sesampainya di sana, para relawan disambut hangat oleh Ibunda Humaira, Rina. Salah satu relawan Tzu Chi, Setiawati, merasa bangga akan semangat dan prestasi yang ditorehkan oleh Humaira.

“Saya sangat bangga, saya baru pertama kali melihat Humaira dan keluarganya. Humaira sangat berbakat dan semangatnya luar biasa. Harapan saya Humaira bisa jadi anak yang berbakti bagi kedua orang tuannya, dan menjadi kebanggaan keluarga, dan bisa menjadi sukses,” tutur Setiawati.

Relawan Tzu Chi berpamitan kepada keluarga Humaira setelah selelai berkunjung kerumahnya. Setelah berbagi cerita, Salah satu relawan Tzu Chi, Setiawati, merasa bangga akan semangat dan prestasi yang ditorehkan Humaira.

Kisah Humaira mengingatkan bahwa keterbatasan bukanlah garis akhir, melainkan ruang untuk menumbuhkan daya juang. Di balik setiap prestasi, ada latihan yang panjang, doa keluarga, bimbingan sekolah, serta kepedulian yang terus mengalir untuknya. Humaira terus menari membawa harapan, bukan hanya di panggung, tetapi juga di perjalanan hidupnya, dan kelak diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk tidak menyerah.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Dari Cemas Menjadi Syukur, Perjalanan Slamet Pulih dari Katarak

Dari Cemas Menjadi Syukur, Perjalanan Slamet Pulih dari Katarak

20 Agustus 2025

Relawan Tzu Chi Surabaya melakukan kunjungan kasih ke rumah Slamet Budiono, salah satu pasien operasi katarak pada Baksos Kesehatan Tzu Chi Ke-149 Juli lalu. Kunjungan ini sebagai bentuk pendampingan kepada pasien pascaoperasi.

Berfikir Positif Itu Harus

Berfikir Positif Itu Harus

02 Desember 2024

Kegiatan bernama kunjungan kasih dapat membuka pandangan seseorang dalam menatap kehidupan. Seperti kunjungan kasih yang rutin diikuti para relawan di Komunitas He Qi Pusat diharapkan dapat membuka pandangan 76 relawan dalam menatap kehidupan.

Dukungan Relawan untuk Kesembuhan Nurjaya

Dukungan Relawan untuk Kesembuhan Nurjaya

26 Juni 2024

Relawan kembali mengunjungi Nurjaya (23/06/2024), penerima bantuan Tzu Chi. Berat badan Nurjaya sudah lebih baik ketimbang ketika setahun lalu ketika relawan Tzu Chi pertama kali mengunjunginya di Juli 2023.

Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -