Sejak pagi, para peserta mengikuti kegiatan screening baksos katarak tahap awal dengan penuh harapan.
Pernahkah kita membayangkan betapa berharganya kesempatan untuk kembali melihat dunia dengan lebih jelas? Bagi sebagian orang, gangguan penglihatan bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga dapat membatasi aktivitas sehari-hari, mengurangi kemandirian, bahkan memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat.
Menyadari pentingnya kesehatan mata dan akses terhadap layanan medis, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan Screening Baksos Kesehatan Tahap Awal pada Minggu, 11 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.
Sejak pagi, satu per satu calon pasien dengan tertib melakukan pendaftaran yang nantinya akan mengikuti beberapa rangkaian pemeriksaan yaitu cek tekanan darah, pemeriksaan gula darah, pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan, hingga konsultasi dengan dokter agar mendapatkan tindakan medis yang sesuai.
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi para calon pasien untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan sekaligus membuka kesempatan menjalani operasi katarak di Batam. Berkat dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta para relawan Tzu Chi yang turut membantu berjalannnya kegiatan ini menjadi wujud kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
Mengenali Katarak, Menjaga Kualitas Hidup
Saat kondisi lensa mata mulai mengalami kekeruhan hingga penglihatan menjadi berkabut, biasanya akan terjadi ketika sesorang bertambahnya usia dan kondisi ini disebut katarak. Tak hanya dialami oleh Lanjut Usia (Lansia), katarak juga bisa terjadi pada orang dewasa bahkan anak-anak.
Para penderita katarak, selain mengalami penurunan ketajaman penglihatan, mereka juga akan kesulitan membaca akibat pandangan yang dilihatnya akan menjadi tidak jelas, selain itu mereka juga akan merasakan silau ketika melihat cahaya masuk ke dalam mata. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi tersebut tentu akan semakin menghambat aktivas sehari-hari.
Dr. Ruly Andriyanto, Sp.M, dokter spesialis mata yang turut berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial screening katarak itu dengan penuh ketelitian melakukan pemeriksaan mata kepada salah satu peserta.
Dokter spesialis mata dalam kagiatan screening baksos kesehatan yang juga bertugas di Tanjung Balai Karimun, Dr. Ruly Andriyanto, Sp.M, menjelaskan bahwa gangguan mata, termasuk katarak, tidak hanya perlu diwaspadai oleh orang lanjut usia.
Dari rangkaian screening tersebut, sebanyak 35 calon pasien dinyatakan lolos untuk melanjutkan ke tahap medis selanjutanya baksos kesehatan katarak di Tzu Chi Batam. Bagi mereka yang telah lama mengalami gangguan penglihatan, kesempatan ini membawa harapan untuk mendapatkan tindakan operasi yang sesuai dan para peserta dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Bagi para calon pasien, tahapan screening awal itu bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi juga awal dari sebuah harapan. Salah satu calon pasien yang mengikuti kegiatan itu, Urbanus Subanwe Open (68). Bagi Urbanus, gangguan penglihatan yang dialaminya bukan sekadar membuat pandangan menjadi kabur, tetapi juga memengaruhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai Ketua RT. Dalam kesehariannya ia perlu membaca dan menulis berbagai dokumen untuk melayani kebutuhan warga. Namun, kondisi matanya membuat pekerjaan tersebut semakin sulit dilakukan.
“Memang kondisi mata kayak gini sangat mempengaruhi kegiatan saya. Apalagi masalah membuat surat-surat. Kebetulan, saya dipercaya menjadi Ketua RT, sehingga kondisi ini cukup menyulitkan ketika harus melayani permintaan warga masalah surat-menyurat,” ucap Urbanus Subanwe Open.
Di tengah kondisi tersebut, sang istri, Tjhang Ngiat Song (59), dengan setia terus mendampingi Urbanus Subanwe Open suaminya. Ia menceritakan bahwa suaminya sempat menjalani pemeriksaan ke dokter saraf sebelum akhirnya mendapatkan rujukan untuk memeriksakan mata ke dokter spesialis mata dan dinyatakan mengalami katarak dan dharuskan menjalani tindakan operasi. Namun, proses mendapatkan jadwal operasi melalui BPJS Kesehatan diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.
“Cuma kalau BPJS, menurut Dokter Ruly, itu kuotanya Bapak (panggilaan untuk suaminya) dapatnya itu diperkirakan Mei 2027,” tutur Tjhang Ngiat Song.
Urbanus Subanwe Open didampingi sang istrinya Tjhang Ngiat Song. Tampak antusias saat mengikuti screening untuk mendapatkan pemeriksaan medis terhadap kondisi matanya.
Bagi Urbanus dan istrinya, kesempatan mengikuti screening baksos kesehatan ini menjadi harapan untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut. Di tengah keterbatasan yang dihadapi, dukungan dan pendampingan menjadi hal yang berarti dalam upaya memperoleh kembali penglihatan yang lebih baik.
Salah satu dokter yang menjalani tugasnya, dr. Ruly, ia merasakan keterlibatannya dalam kegiatan bakti sosial ini bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan juga merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Salah satu alasan kenapa saya ikut bergabung di sini adalah sebagai panggilan hati saya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan operasi katarak,” ungkap dr. Ruly.
Menurutnya, kegiatan screening seperti ini memberikan manfaat besar, terutama bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi atau belum memiliki jaminan kesehatan.
“Besar sekali manfaatnya, karena dengan acara seperti ini, masyarakat yang tidak mampu, tidak punya jaminan kesehatan atau asuransi apa pun, itu sangat terbantu untuk dilakukan screening katarak dan akhirnya bisa sampai dilakukan operasi katarak,” jelasnya.
Melalui semangat kepedulian juga gotong royong para tim medis serta relawan Tzu Chi, kegiatan screening awal baksos katarak ini menjadi membuka kesempatan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Menjaga Kesehatan Mata Sejak Dini
Selain membantu masyarakat mendapatkan akses pemeriksaan, kegiatan itu juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan mata. Pemeriksaan mata tidak seharusnya dilakukan hanya ketika gangguan penglihatan sudah terasa berat atau menghambat aktivitas sehari-hari. Dr. Ruly mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mata sejak dini dan tidak mengabaikan keluhan yang muncul.
Dokter bersama relawan Tzu Chi melakukan pemeriksaan visus terhadap calon pasien untuk mengetahui tingkat ketajaman penglihatan sebagai bagian dari rangkaian screening baksos.
“Jangan menunggu sampai tidak bisa melihat, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari baru memeriksakan mata, bila ada keluhan kabur, ataupun merah, ataupun gejala-gejala lainnya yang mengganggu penglihatan, itu jangan menunda untuk lakukan pemeriksaan mata,” tambahnya.
Pemeriksaan mata secara berkala membantu mendeteksi gangguan penglihatan dan menentukan kebutuhan penanganan sesuai kondisi masing-masing individu. Bagi anak-anak, pemeriksaan sejak dini juga penting untuk mengenali gangguan penglihatan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang sementara bagi orang deawasa yang memiliki penyakit diabetes juga perlu menjadi perhatian.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari