Sebuah Tekad Menjadi Keluarga Besar Tzu Chi

Jurnalis : Marlina, Sufiani (He Qi Cikarang) , Fotografer : Marlina, Sufiani (He Qi Cikarang)

Wylen menyampaikan sejarah lahirnya misi kesehatan Tzu Chi yang diawali dengan kegiatan pengobatan gratis di Hualien, Taiwan, pada tahun 1972, sekaligus mengajak para relawan memahami semangat menghargai kehidupan dan mengutamakan manusia.

Bagi kebanyakan orang, Minggu pagi adalah waktu untuk bersantai atau mencari hiburan di luar rumah. Namun, tidak demikian bagi 86 relawan He Qi Cikarang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk berkumpul di Tzu Chi Center pada 28 Juni 2026. Sejak pukul 06.30 WIB, relawan dari wilayah Karawang, Cikarang, dan Bekasi mulai berdatangan memenuhi lobi Tzu Chi Center di PIK, Jakarta Utara. Jarak tempuh bukanlah sebuah rintangan. Mereka datang dengan satu tujuan, yakni memperkuat tekad awal sebagai relawan Tzu Chi melalui pelatihan. Di Tzu Chi, relawan tidak hanya diajak untuk berkegiatan sosial dan memberi manfaat bagi orang lain, tetapi juga diberi kesempatan untuk terus belajar dan bertumbuh melalui berbagai kegiatan serta pelatihan.

Pelatihan Relawan Abu Putih ketiga yang dikoordinasikan oleh Herty dan Rubbyanto kali ini mengusung tema "Keluarga Besar Tzu Chi". Rangkaian kegiatan diisi dengan dua sesi materi, penampilan isyarat tangan (shou yu), pelantikan relawan kembang (belum berseragam) menjadi relawan abu putih, serta ditutup dengan tur Jingsi.

Sesi pertama diawali dengan materi mengenai misi pelestarian lingkungan. Johnny Chandrina menjelaskan alasan Master Cheng Yen mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian bumi. Ia juga membagikan berbagai tips sederhana yang dapat diterapkan para relawan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap lingkungan.

Penyematan name tag kepada relawan pada Pelatihan Relawan Abu Putih menjadi simbol resmi bergabungnya peserta ke dalam barisan relawan Tzu Chi.

Kuntjoro Kesuma membagikan kisah perjalanan hidup Master Cheng Yen sejak masa muda, serta nilai-nilai yang melandasi lahirnya Yayasan Buddha Tzu Chi.

Materi berikutnya mengangkat misi pelayanan kesehatan yang disampaikan oleh Wylen. Ia mengajak para relawan mengenal sejarah misi pengobatan Tzu Chi yang berawal dari layanan pengobatan gratis yang diprakarsai oleh Master Cheng Yen pada tahun 1972 di Hualien, Taiwan. "Misi pengobatan Tzu Chi menerapkan nilai inti menghargai kehidupan dan berfokus pada manusia," ujar Wylen selaku Ketua He Qi Barat 3.

Setelah mengikuti dua sesi materi mengenai misi pelestarian lingkungan dan pelayanan kesehatan, para relawan diajak mengikuti tur Jingsi. Perjalanan diawali dari Exhibition Hall, tempat para peserta diperkenalkan pada berbagai misi Tzu Chi melalui rangkaian panel dan poster yang menampilkan sejarah serta perjalanan organisasi.

Saat memasuki ruang yang menampilkan berbagai praktik nyata pelestarian lingkungan, Veriyanto The mengajak para relawan memahami setiap kisah di balik poster-poster yang dipamerkan. Ketua He Qi Cikarang tersebut menjelaskan bahwa kepedulian terhadap bumi tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan daur ulang, tetapi juga melalui perubahan gaya hidup, salah satunya dengan menerapkan pola makan nabati yang lebih ramah lingkungan.

Micin (kanan) membagikan pengalaman pribadinya tentang perubahan kondisi kesehatan yang ia rasakan setelah menjalani pola makan vegetarian, yang membantunya pulih dari kista yang pernah diderita.

Pada sesi tersebut, Micin, relawan asal Karawang, mengambil kesempatan untuk membagikan pengalamannya tentang bagaimana pola makan vegetarian telah mengubah hidupnya. Sekitar sepuluh tahun lalu, ibu dua anak ini didiagnosis mengalami kista di rahim dan harus menghadapi pendarahan yang berlangsung hampir selama satu tahun. Atas saran seorang teman, ia mulai rutin mengonsumsi ramuan temulawak sekaligus mengurangi, bahkan menghindari, konsumsi daging. Perlahan, Micin mulai merasakan perubahan positif pada kondisi tubuhnya.

“Rasanya kita lebih sabar ya, orang ngomong apa kita bodo amat,” cerita Micin sambil tertawa kecil. Empat tahun menjalankan diet nabati, Micin kembali memeriksakan badannya dan mendapati kista yang bersarang di rahimnya sudah hilang. Ibu yang suka dengan kata perenungan Master Cheng Yen ini meneruskan diet nabatinya hingga saat ini.

Dari Bekasi, Paramitha Meidiani Putri dan ibundanya, Dessy Andayani, juga memiliki kisah yang menyentuh tentang perjalanan mereka hingga akhirnya menjadi relawan Tzu Chi. Keduanya telah mengenal DAAI TV sejak tahun 2008. Meski tidak rutin menonton, sebuah tayangan pada tahun 2012 begitu membekas di hati mereka hingga menumbuhkan keinginan untuk bergabung sebagai relawan Tzu Chi.

Perjalanan itu ternyata tidak berlangsung singkat. Keinginan tersebut tetap tersimpan dan terus terjaga, bahkan ketika Dessy mengalami stroke pada tahun 2017. Setelah kondisi kesehatannya pulih, pada tahun 2024 ia kembali mencari informasi tentang Tzu Chi melalui Facebook hingga akhirnya memperoleh balasan dari sekretariat Tzu Chi. Jalinan jodoh pun dimulai. Pada Agustus 2025, Dessy dan Paramitha mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan Tzu Chi untuk pertama kalinya di Summarecon Bekasi.

Paramitha Meidiani Putri dan ibundanya, Dessy Andayani, mengabadikan momen di depan replika rumah Master Cheng Yen sebagai kenangan dalam perjalanan mereka menjadi relawan Tzu Chi.

Bagi Dessy yang kini berusia 60 tahun, perenungan Dharma yang disampaikan Master Cheng Yen melalui DAAI TV telah menjadi tuntunan dalam menjalani kehidupan. Setelah memasuki masa pensiun, ia semakin rutin menyimak tayangan DAAI TV, mempraktikkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya mantap bergabung sebagai relawan Tzu Chi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Paramitha yang gemar membaca banyak memperoleh inspirasi dari buku-buku karya Master Cheng Yen. Perempuan muda yang bekerja sebagai staf General Affairs (GA) di sebuah perusahaan Jepang tersebut belajar tentang semangat pantang menyerah, cinta kasih, dan kepedulian terhadap sesama. Baginya, selama masih memiliki tekad, selalu ada jalan untuk berbuat baik. Melalui Tzu Chi, ia berharap dapat terus belajar, memperbaiki diri, serta menebarkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

Usai mendengarkan berbagai kisah dan pembelajaran selama tur, para relawan melanjutkan perjalanan dengan menyusuri lorong-lorong cinta kasih dari lantai satu hingga lantai empat gedung Jing Si Hall. Langkah mereka kemudian berakhir di replika rumah Master Cheng Yen, sebuah tempat sederhana yang menjadi pengingat akan awal mula lahirnya Tzu Chi. Siang itu, para relawan pulang membawa sukacita sekaligus tekad yang semakin mantap untuk terus menapaki Jalan Bodhisatwa melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Pelatihan Relawan Abu Putih Ketiga Tzu Chi Medan di Tahun 2021

Pelatihan Relawan Abu Putih Ketiga Tzu Chi Medan di Tahun 2021

01 Desember 2021

Pada masa pandemi Covid 19 saat ini yang mulai berkurang di bulan November 2021, Tzu Chi Medan mencoba mengadakan pelatihan relawan abu putih untuk yang ketiga kalinya di tahun 2021 pada Minggu, 28 November 2021.

Sebuah Tekad Menjadi Keluarga Besar Tzu Chi

Sebuah Tekad Menjadi Keluarga Besar Tzu Chi

02 Juli 2026

Sebanyak 86 relawan komunitas He Qi Cikarang mengikuti Pelatihan Relawan Abu Putih di Tzu Chi Center untuk memperdalam pemahaman tentang misi Tzu Chi, memperkuat tekad melayani, dan menumbuhkan semangat kebajikan.

Melatih Kebijaksanaan Melalui Pelatihan Relawan Abu Putih

Melatih Kebijaksanaan Melalui Pelatihan Relawan Abu Putih

03 Juni 2022

Tzu Chi Batam menggelar Pelatihan Relawan Abu Putih ke-3 yang dilaksanakan pada 22 Mei 2022 di Aula Jing Si Batam. Pelatihan kali ini diikuti oleh 117 relawan.

Tanamkan rasa syukur pada anak-anak sejak kecil, setelah dewasa ia akan tahu bersumbangsih bagi masyarakat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -