Semangat dalam Sekotak Susu

Jurnalis : Veronika Usha, Fotografer : Veronika Usha
 
foto

* Senyum bahagia terpancar dari wajah para pasien. Kegiatan pembagian susu kepada 10 balita dan 15 pasien dewasa di Puskesmas Kedoya ini dilakukan pada pukul 09.15 hingga pukul 11.00 siang. Para relawan juga memberikan minyak ikan kepada para pasien dewasa.

Di dalam ruang tunggu sebuah Puskesmas Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat inilah, Cici Y Hanijoyo, Rosmawaty, dan Kwan Hui-sian, meneruskan semangat dua belas tahun silam.

Semangat ini berawal dari kepedulian seorang dokter bernama Mariana Mulyani. Awal tahun 1996, dr Mariana mendapatkan enam orang pasien yang memiliki keluhan pada paru-paru sehingga perlu menjalani ronsen. Tapi apa daya, perekonomian yang sulit membuat para pasien tersebut tidak bisa melakukan ronsen.

Melihat hal ini, Mariana teringat akan Yayasan Buddha Tzu Chi yang direkomendasikan oleh salah satu temannya, drg Natalie. “Waktu itu, drg Natalie bilang kepada saya agar apabila saya menemukan kesulitan, maka saya bisa menghubungi Yayasan Buddha Tzu Chi, karena mereka bergerak dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan,” ucapnya.

Setelah bertemu dengan beberapa relawan Tzu Chi, Mariana akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Tzu Chi. Tidak hanya bantuan dana untuk ronsen, Mariana juga mengajukan paket obat-obatan, mengingat saat itu, paket obat-obatan TBC pemerintah belum selancar sekarang. “Dan sejak saat itu, Yayasan (Tzu Chi) membantu menyediakan dana untuk ronsen, serta obat-obatan yang dibutuhkan.”

Para pasien paru biasanya sudah cukup mual dan tidak berselera untuk makan. Ini karena obat yang harus mereka minum cukup banyak. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan tambahan asupan gizi yang bisa diperoleh melalui susu. “Dengan mengonsumsi susu, kami berharap proses pemulihan masyarakat dari penyakit paru akan lebih cepat, karena asupan gizi yang mereka butuhkan sudah tersedia dari susu,” tambah Mariana

Namun masalahnya, perekonomian masyarakat Kedoya cukup lemah dan memprihatinkan. Untuk bisa makan makanan bergizi saja mereka kesulitan, apalagi membeli susu. “Tadinya kami sempat berpikir untuk memberikan mereka uang, tapi kami takut nantinya uang tersebut akan mereka gunakan untuk membelikan barang yang lain. Tidak mungkin kami memberi mereka ikan atau pun makanan yang bisa busuk dalam jangka waktu tertentu, oleh sebab itu, akhirnya kami (Mariana dan relawan Tzu Chi -red) memutuskan bahwa, susu menjadi jalan keluarnya,” jelas Mariana.

foto  

Ket : - Bergiliran, para penerima bantuan susu, menerima susu dan minyak ikan dari Cici Y Hanijoyo, Rosmawaty,
           dan Kwan Hui-sian. Pembagian susu kepada para penderita TBC telah dimulai Tzu Chi sejak 12 tahun lalu.

Sejak tahun 1996, pembagian susu kepada para pasien paru di Kelurahan Kedoya sudah berjalan, hingga sekarang. “Pembagian susu ini dilakukan setiap hari Kamis, minggu pertama, setiap bulannya,” ucap Kwan Hui-sian, salah satu relawan Tzu Chi yang hari ini, Kamis, 6 November 2008, turut serta membagikan susu.

Tiga buah kotak susu balita diberikan kepada para pasien paru yang berusia satu hingga tiga tahun. Sedangkan untuk orang dewasa, satu bungkus susu dan minyak ikan mereka terima setiap bulannya.

“Semenjak rutin minum susu, berat badan Nanda Firmansyah(5), dan Linda Oktaviani Putri(2), anak saya bertambah. Penyakit mereka juga jadi jarang kambuh,” tutur Susanto(31), salah satu orangtua pasien paru yang mendapatkan bantuan susu.

Awalnya Susanto dan istrinya, tidak pernah menyangka bahwa kedua anak mereka akan mengidap penyakit paru-paru. Dulu, pada umur satu tahun, Nanda sudah pernah terkena terkena vlek pada parunya. “Nanda memang sering main ke rumah tetangga saya yang pernah sakit TBC, mungkin di sana ia terkena penyakit itu.”

foto  

Ket : - Berkat susu yang diperoleh dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, kini berat badan Nanda Firmansyah,
           dan Linda Oktaviani Putri, buah hati Susanto bertambah hingga lebih kurang dua kilo dari sebelumnya.
           Penyakit mereka juga menjadi lebih baik.

Setelah menjalani pengobatan akhirnya Nanda dinyatakan sembuh. Namun entah mengapa, ketika menginjak usia lima tahun, penyakit tersebut kambuh lagi. Dan kali ini tidak hanya Nanda, Linda adiknya pun juga terkena penyakit yang tidak jauh berbeda. “Mana saat ini saya sudah tidak lagi bekerja,” tutur pria yang baru saja kehilangan pekerjaannya lebih kurang dua bulan lalu.

Beruntung, saat ini paket pengobatan TBC gratis dari pemerintah dengan mudah diperoleh dan diakses oleh masyarakat Kedoya. “Selain mencari pekerjaan, saat ini saya cuma ingin anak-anak saya sembuh. Selain rajin berobat, saya juga selalu rutin mengambil jatah susu dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Karena, kata dr Mariana, kalau mau cepat sembuh, Nanda dan Linda harus rajin minum susu,” ucap Susanto, menyemangati kedua anaknya.

 

Artikel Terkait

Banjir 2020: Mengurangi Keresahan Warga Kampung Panunggangan Barat Pascabanjir

Banjir 2020: Mengurangi Keresahan Warga Kampung Panunggangan Barat Pascabanjir

05 Januari 2020

Relawan Tzu Chi di He Qi Tangerang menyalurkan 500 paket bantuan banjir di Kampung Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Jumat, 3 Januari 2020. Paket berupa satu ember yang masing-masing berisi 1 botol besar air minum, 5 bungkus MI DAAI, 1 helai selimut, 2 helai sarung, handuk, serta peralatan mandi.

Bersatu Hati Menggarap Ladang Berkah

Bersatu Hati Menggarap Ladang Berkah

23 Januari 2019

Berbuat baik tidak harus selalu berupa sumbangan materi, namun bisa juga berupa perhatian, kasih sayang, maupun sumbangsih tenaga. Seperti para relawan yang mendedikasikan diri mereka sebagai relawan koordinator lapangan. Di sini setiap orang berperan penting dalam kelancaran dan keindahan acara.


Membangkitkan Semangat Relawan Dalam Mengukir Sejarah Tzu Chi

Membangkitkan Semangat Relawan Dalam Mengukir Sejarah Tzu Chi

27 Februari 2023

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia cabang Medan dari komunitas He Qi Cemara mengadakan pelatihan relawan Zhen Shan Mei  pada 18 dan 19 Februari 2023 di Cheagia Resort, Sidikalang. 

Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -