Semangat Menempa Pendidikan Walau Kurang Pendengaran
Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta WulandariHidup dengan kekurangan memang tak mudah. Seperti yang dijalani oleh Liani sekeluarga. Liani adalah seorang tunarungu yang menikah dengan suaminya yang juga tunarungu. Dari pasangan ini, lahirlah tiga orang anak yang dua di antaranya menderita kekurangan yang sama, dan hanya satu yang pendengarannya normal. Walaupun dengan keadaan yang tidak sempurna, Liani tetap menjalani kesehariannya dengan maksimal, meski harus berjuang dua kali lebih keras daripada orang lainnya.

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat mengunjungi kontrakkan Liani di daerah Senen, Jakarta Pusat dan memberikan satu paket sembako untuk keluarganya.

Denasari (seragam biru putih) dan Liefa (seragam abu putih) berbincang dengan Liani dan suaminya. Karena tunarungu, Liani dan relawan berbincang dengan masker terbuka agar memudahkan Liani mengerti ucapan dengan membaca gerak bibir relawan.

Detty Marbun, Kepala Sekolah SMP Advent 1 Jakarta menyambut relawan Tzu Chi dengan hangat. Mereka berbincang banyak tentang misi kemanusiaan.

Liani menjemput Rachell di sekolahnya setiap hari. Ia khawatir kondisi pendengaran yang kurang bisa membahayakan Rachell di jalan.

Liani mengajari Denasari bahasa insyarat tangan ‘terima kasih’ di akhir pertemuan mereka.
Artikel Terkait
Melatih Empati dari Kunjungan Kasih
01 September 2023Komunitas relawan Smartfren Regional Jawa Tengah bersama Paguyuban Sinar Mas Yogyakarta dan Solo melakukan kunjungan kasih ke Yayasan Lentera, pada Minggu (20/8/23). Yayasan ini menampung anak-anak penderita HIV-Aids.
Berbagi Kebahagiaan Bersama Oma dan Opa
12 Februari 2020Sebanyak 75 anak murid Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Tebing Tinggi beserta relawan Tzu Chi mengunjungi oma opa di Panti Jompo Yasobas Tebing Tinggi (02/02/2020). Kegiatan ini dalam rangka merayakan Imlek bersama, sekaligus memupuk budaya berbakti dalam diri anak-anak terhadap orang tua mereka.
Begitu Berartinya Sebuah Pacemaker
23 Februari 2023Kondisi jantung Arif Ngadianto (81) semakin membaik selepas operasi pemasangan alat pacu jantung, pacemaker, yang merupakan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Meski ia hanya bisa terbaring karena tenaganya belum pulih, namun wajahnya tampak segar. Ia juga tak pernah pingsan lagi seperti sebelum-sebelumnya.







Sitemap