
Mariany memaparkan perjalanan Master Cheng Yen dalam menemukan arah batinnya. Tekad Master Cheng Yen adalah bahwa apa pun yang dilakukan, harus ingat untuk berjuang demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk.
Sebagai relawan Tzu Chi, sangat penting untuk terus mendalami filosofi dan semangat Tzu Chi yang menjadi pedoman dalam menjalankan misi kemanusiaan. Oleh karena itu, Tim Pelatihan Tzu Chi Pekanbaru dengan sepenuh hati menyiapkan berbagai materi pembelajaran yang diharapkan dapat memperkuat tekad para relawan dalam melangkah di jalan Bodhisatwa. Mengusung tema “Senantiasa Bersungguh Hati dan Giat di Jalan Bodhisatwa”, sebanyak 99 relawan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pada 28 Juni 2026, mulai pagi hingga pukul 15.00 WIB.
Tzu Chi yang kini telah memasuki usia 60 tahun tentu tidak tumbuh dan berkembang begitu saja. Mariany memaparkan perjalanan Master Cheng Yen dalam menemukan arah batinnya. Pada Februari 1961, di bawah pendampingan Guru Xiu Dao, untuk pertama kalinya Master Cheng Yen mengunjungi Hualien dan menetap sementara di Vihara Dong Jing. Di tempat inilah Master Cheng Yen bertemu dengan Bapak Xu Cong Min, sosok yang memiliki peranan penting dalam perjalanan spiritual Master Cheng Yen.
Dua tahun kemudian, setelah meninggalkan rumah untuk kedua kalinya pada periode Oktober 1960 hingga Oktober 1962, Master Cheng Yen akhirnya memutuskan menetap di Hualien untuk melanjutkan pelatihan spiritualnya.

Pada sesi ice breaking, para peserta pelatihan diminta untuk lebih fokus mengikuti pelatihan.
Pada 25 Desember 1962, saat belajar bersama Bapak Xu Cong Min, Master Cheng Yen membangun ikrar yang kokoh. Kemudian, pada Maret 1963, Master Cheng Yen menjalani pentasbihan di Vihara Linji dan menyatakan diri berguru kepada Master Yin Sun.
"Kamu dan saya memiliki jalinan jodoh yang istimewa. Karena telah meninggalkan keduniawian, maka harus memikul tanggung jawab Tathagata. Apa pun yang dilakukan, harus ingat untuk berjuang demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk."
Hati Master Cheng Yen begitu terguncang ketika mendengar pesan gurunya, Master Yin Sun. Dengan penuh keyakinan, Master Cheng Yen menjawab bahwa dirinya akan terus berjuang “Demi Ajaran Buddha, Demi Semua Makhluk.”
Pada 25 Januari 2026, dalam acara Pemberkahan Akhir Tahun 2025, Linda dan tim program Toko Cinta Kasih berikrar menyampaikan kepada Master Cheng Yen bahwa mereka akan memperluas program Toko Cinta Kasih. Program ini dijalankan bukan untuk menggalang dana semata, tetapi sebagai sarana menumbuhkan cinta kasih di tengah masyarakat.
"Kita menjalankan program Toko Cinta Kasih untuk menggalang cinta kasih, bukan demi uang. Dengan berbagi tentang celengan bambu Tzu Chi dan apa yang sedang dilakukan Tzu Chi, pemilik toko dapat membimbing orang lain untuk memahami sekaligus menyebarluaskan Tzu Chi," jelas Linda Shi Jie.
Para relawan dari tim program Toko Cinta Kasih, berbagi pengalaman suka- dukanya dalam menjalankan program Toko Cinta Kasih. Baik dari motivasi, kendala, maupun kesan-kesan selama menjalankan program Toko Cinta Kasih.
Wismina menambahkan bahwa ikrar tersebut bukanlah ikrar jangka pendek, melainkan ikrar jangka panjang, sebab semangat masa celengan bambu harus terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Yuli mengungkapkan motivasinya untuk menjalankan program Toko Cinta Kasih. Menurutnya, melalui program ini semakin banyak orang dapat diajak berbuat kebajikan, mulai dari pemilik toko, karyawan, pelanggan, hingga para pemasok yang datang berkunjung. Dalam pelaksanaannya, tentu terdapat tantangan, seperti menemukan celengan yang masih kosong ketika relawan datang berkunjung.
Melalui sesi berbagi, Kusniady menjelaskan bahwa satu koin yang disisihkan setiap hari dan satu niat baik yang dilakukan setiap hari akan menjadi berkah yang sangat besar bagi diri sendiri maupun orang lain. Sementara itu, Kiho menuturkan bahwa tidak sedikit pemilik toko yang merasa bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran relawan yang secara rutin datang untuk menggalang cinta kasih melalui celengan bambu yang ditempatkan di toko mereka.
Elisah Shi Jie memberikan contoh atas keteladanan relawan Zhu dari Zimbabwe dan relawan Chen yang menjadikan Tekad Guru sebagai tekadnya sendiri. Pada pelatihan relawan Tzu Chi ke-3 ini ada 99 relawan yang mengikuti pelatihan.
Melalui materi Hati Buddha Tekad Guru, Elisah Shi Jie memberikan contoh keteladanan relawan Zhu dari Zimbabwe dan relawan Chen dari Malaysia yang sungguh-sungguh menjadikan tekad guru sebagai tekad hidup mereka sendiri.
Elisah Shi Jie mengingatkan bahwa yang didengar adalah ajaran Buddha, yang diikuti adalah Master Cheng Yen, dan yang harus terus dilatih adalah diri sendiri. Ia juga membekali para relawan dengan 20 kata pelindung diri insan Tzu Chi, yaitu bersumbangsih tanpa pamrih, bersyukur, menghormati, cinta kasih, berjiwa besar, berpikiran murni, tidak membandingkan diri, serta tidak perhitungan.
Kiho kemudian membawakan materi tentang pelestarian lingkungan dengan berpedoman pada Empat Kebenaran Mulia. Ia menjelaskan bahwa penderitaan yang dialami manusia saat ini, seperti berbagai bencana alam, merupakan akibat dari kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Lenyapnya penderitaan dapat terwujud ketika dunia terbebas dari bencana, dan salah satu jalan menuju kondisi tersebut adalah melalui upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan secara konsisten.
Tim Isyarat Tangan memperagakan lagu Mencintai Keluarga Besar Tzu Chi dengan mengajak semua peserta membentuk satu barisan panjang bodhisatwa Tzu Chi.
Untuk mengingatkan relawan akan pentingnya budaya humanis, terutama dalam hal berpenampilan, Restuti bersama tim menyampaikannya melalui sebuah drama yang menarik dan mudah dipahami.
"Mengenakan seragam adalah salah satu sarana pelatihan diri. Karena selama mengenakan seragam, kita harus senantiasa mawas diri dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan," jelas Restuti.
Salah seorang peserta pelatihan, Lulu, mengungkapkan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut.
"Saya senang, bahagia, sekaligus lega karena merasa pilihan saya sudah tepat. Saya dapat lebih mengenal Tzu Chi dan merasa inilah tempat yang selama ini saya cari, tempat untuk menenangkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Tekad saya semakin bulat untuk ikut berpartisipasi menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama dengan aktif dalam kegiatan Tzu Chi selanjutnya. Terima kasih, Shi Xiong dan Shi Jie, atas jodoh baik ini," ungkap Lulu.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga sarana untuk meneguhkan kembali niat awal para relawan dalam menapaki jalan Bodhisatwa. Dengan hati yang bersungguh-sungguh, langkah yang tekun, dan semangat yang terus dipelihara, setiap relawan diharapkan dapat menjadi penyebar cinta kasih yang membawa manfaat bagi semakin banyak orang.
Editor: Anand Yahya