Sepuluh Tahun Kelas Budi Pekerti: Memberikan Hasil yang Maksimal

Jurnalis : Albert (He Qi Timur), Fotografer : Djohar Djaja

Anak-anak Kelas Budi Pekerti menampilkan bahasa isyarat tangan dalam memperingati satu dekade Kelas Budi Pekerti Er Dong Ban pada 25 Oktober 2015.

Sepuluh tahun sudah Kelas Budi Pekerti Tzu Chi di Jakarta telah berdedikasi bagi dunia pendidikan. Keberhasilan ini tidak lepas dari sumbangsih relawan Tzu Chi dalam membentuk kepribadian anak didiknya. Sebagai wujud rasa syukur, relawan Tzu Chi memperingati satu dekade perjalanan kelas budi pekerti dengan mengadakan pementasan isyarat tangan dan pementasan drama. Ini juga menjadi acara puncak menutup kelas budi pekerti di tahun 2015.

Untuk memaksimalkan pementasan ini, relawan Tzu Chi dan murid-murid Kelas Budi Pekerti atau yang biasa dipanggil Xiao Pu Sa (Boddhisatwa kecil) mempersiapkannya dari beberapa bulan lalu. Dengan penuh semangat, mereka mempelajari isyarat tangan dan mendalami drama dengan tema “Burung Gagak yang Berbakti.”

Rosvita Widjaja, selaku koordinator acara menerangkan jika dua bulan yang lalu relawan sudah memberi tahu kepada anak-anak dan membagi kelompok dan mulai latihan per grup untuk dipentaskan pada hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2015. “Tentu rasanya senang dan terharu melihat anak-anak telah tampil maksimal. Mengingat anak-anak sibuk di sekolah, banyak les. Sebetulnya waktu untuk mereka latihan tidak banyak. Tapi mereka masih bisa meluangkan waktunya tiap hari sabtu atau minggu datang latihan selama dua jam, sehingga hari ini tampil maksimal,” terang Rosvita dengan bangga.


Sebanyak 450 orang memenuhi ruangan pementasan yang diselenggarakan di International Hall, Aula Jing Si Lantai 3, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Oktober 2015.

 

Andrew Sulaiman memberikan sharing pengalamannya selama mengikuti Kelas Budi Pekerti.

Membentuk Generasi yang Berbudi Luhur

Sebanyak 450 orang memenuhi ruangan pementasan yang diselenggarakan di International Hall, Aula Jing Si Lantai 3, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Acara diawali dengan penampilan isyarat tangan yang menggambarkan empat badan misi Tzu Chi (Amal, Kesehetan, Pendidikan, dan Budaya Humanis), serta dilanjutkan pementasan drama “Burung Gagak yang Berbakti.” Pementasan drama ini seolah mengingatkan para murid untuk mengetahui bagaimana berbakti kepada orang tua mereka. Seperti yang dirasakan oleh Andrew Sulaiman. Lelaki kelahiran tahun 1996 ini adalah salah satu murid kelas budi pekerti pada generasi pertama. Seiring berjalannya waktu, banyak perubahan positif yang dirasakannya dengan ikut tergabung dalam pendidikan berbudaya humanis ini.

“Saya jadi berubah banget. Dulu saya bandel, malas, dan tidak nurut kepada orang tua. Tapi semenjak saya ikut acara ini saya jadi lebih berbakti, lebih ngerti perasaan orang tua sih,” terang anak sulung dari Linda Budiman, relawan Tzu Chi ini. ”Terima kasih sudah merawat saya sampai sekarang sampai sebesar ini dari kecil. Keputusan kalian tepat memasukkan saya ke Kelas Budi Pekerti Er Dong Ban (tingkat Sekolah Dasar) sampai akhirnya ke Tzu Ching. Saya bisa jadi orang yang lebih baik. Terima kasih banyak papa mama, i love you,” kata Andrew dalam sharingnya.

Mendengar sharing dari buah hatinya, Linda Budiman pun  menceritakan jika pada awalnya, ia memasukkan Andrew ke kelas budi pekerti hanya untuk mengisi waktu kosong putranya dengan hal yang positif. Tetapi tanpa disangka justru dengan bergabung ke kelas budi pekerti, Andrew juga memetik banyak pelajaran positif yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. ”Kalau dibandingkan dengan anak sebayanya yang lain, perubahannya cukup sangat besar. Dulu ketika Andrew masih SD, saya hampir tiap bulan dipanggil gurunya karena kenakalan-kenakalannya yang membuat saya pusing. Tapi semenjak masuk Er Dong ban, kemudian Tzu Shao Ban (tingkat SMP), sampai bertahan hingga sekarang itu perubahannya sangat drastis dan banyak sekali,” jelas Linda Budiman dengan gembira.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, semoga dengan keberadaan Kelas Budi Pekerti seperti yang diselenggarakan Tzu Chi ini, dapat terus menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berbudi luhur yang baik. 


Artikel Terkait

Menggapai Masa Depan yang Cemerlang

Menggapai Masa Depan yang Cemerlang

29 November 2016
Kelas budi pekerti Tzu Chi kembali menyelenggarakan Kamp Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi yang kali ini diperuntukkan bagi remaja berusia 13-16 tahun atau biasa disebut Tzu Shao. Kegiatan Tzu Shao Ban Angkatan VIII ini merupakan kegiatan penutupan kelas budi pekerti untuk tahun 2016 yang diikuti oleh 150 siswa kelas budi pekerti Tzu Shao.
Kesan Tak Terlupakan di Kamp Kelas Budi Pekerti Tzu Shao

Kesan Tak Terlupakan di Kamp Kelas Budi Pekerti Tzu Shao

17 April 2017

Kedatangan insan Tzu Chi dari tujuh kota membuat para relawan bekerja lebih keras mempersiapkan kamp ini. Ini agar para peserta kamp dapat merasa nyaman dan gembira seperti berada di rumah sendiri. Salah satu relawan yang  berusaha keras  menyelenggarakan kamp ini adalah Yenny Loa.

Sepuluh Tahun Kelas Budi Pekerti: Memberikan Hasil yang Maksimal

Sepuluh Tahun Kelas Budi Pekerti: Memberikan Hasil yang Maksimal

09 November 2015

Sepuluh tahun Kelas Budi Pekerti Tzu Chi telah membentuk kepribadian yang baik pada anak didiknya. Sebagai wujud rasa syukur, relawan Tzu Chi memperingati satu dekade perjalanan kelas budi pekerti dengan mengadakan pementasan isyarat tangan dan pementasan drama. Ini juga menjadi acara puncak menutup kelas budi pekerti di tahun 2015 pada tanggal 25 Oktober 2015. Pada acara ini dihadiri oleh 450 tamu undangan.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -