Setetes Darah, Sejuta Harapan: Cinta Kasih yang Terus Mengalir

Jurnalis : Willani (He Qi Jakarta Pusat), Fotografer : Rholea, Ivana (He Qi Jakarta Pusat)

Para pendonor saat menjalani proses pengambilan darah yang dilayani oleh tim medis PMI Kramat.

Setetes darah yang disumbangkan dengan ketulusan, dapat menjadi penyambung harapan bagi kehidupan sesama di kemudian hari. Di balik tindakan sederhana tersebut, tersimpan cinta kasih yang tidak mengenal batas, sebuah kepedulian yang diwujudkan melalui sumbangsih nyata.

Semangat kemanusiaan inilah yang tercermin dalam aksi donor darah rutin relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Sunter yang digelar di Sekolah Ekayana Dharma Budhi Bhakti, Sunter Agung, Jakarta Utara, pada Sabtu, 19 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini mendapat sambutan antusias dari warga sekitar maupun anggota komunitas. Dengan dukungan tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) Kramat dan relawan Tzu Chi, proses skrining kesehatan hingga pengambilan darah berlangsung tertib dan penuh kehangatan. Dari 62 peserta yang mendaftarkan diri, sebanyak 54 orang berhasil mendonorkan darah, masing-masing sebanyak 350 cc.

Keteladanan yang Menginspirasi
Di antara para pendonor, terlihat kehangatan yang menyentuh dari seorang ibu dan putrinya, Ibu Gea (52) dan Pandora (21), yang hadir berdampingan untuk mendonorkan darah.

Kebiasaan bersumbangsih tersebut berawal dari keteladanan sang ibu yang telah rutin mendonorkan darah selama bertahun-tahun. Melihat kebiasaan baik sekaligus manfaat yang dirasakan ibunya, Pandora pun perlahan tergerak untuk mengikuti langkah tersebut. Kini, donor darah menjadi salah satu agenda yang mereka lakukan bersama. Bahkan, ayah dan kakaknya pun turut mengikuti kebiasaan baik ini.

Ibu Gea (53) dan Pandora (21) pasangan ibu dan anak yang bersama-sam hadir untuk mendonorkan darah yang dilaksanakan oleh relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Sunter dan PMI Kramat.

“Awalnya Mama yang rajin donor. Setelah donor, Mama selalu kelihatan lebih sehat dan bahagia. Lama-lama saya penasaran dan terinspirasi. Sekarang menjadi agenda rutin kami berdua, bahkan ayah dan kakak juga,” tutur Pandora.

Bagi Ibu Gea, kebahagiaan terbesar bukan hanya ketika dapat memberikan darah kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga ketika melihat nilai kepedulian tersebut tumbuh dalam keluarganya.

Walaupun sebenarnya, jarum suntik merupakan sesuatu yang ia takuti dahulu. Namun, pandangannya berubah ketika ia menyadari bahwa satu kantong darah yang disumbangkan dapat memiliki arti yang begitu besar bagi seorang pasien.

“Saya tadinya takut jarum. Tetapi setelah Covid, juga setelah menyadari betapa berartinya satu kantong darah bagi pasien yang membutuhkan, saya rutin mendonor darah setiap ada kesempatan. Di samping itu, saya memandang ini sebagai salah satu bentuk sumbangsih yang dapat saya berikan di luar sumbangsih yang sifatnya materi,” ungkap Ibu Gea di sela-sela pemulihan setelah mendonorkan darahnya.

Donor kali ini menjadi pengalaman ke-11 bagi Ibu Gea. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa kebajikan, ketika dilakukan dengan konsisten, perlahan dapat menjadi kebiasaan dan kemudian menular menjadi keteladanan bagi orang-orang terdekat.

Hal tersebut sejalan dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen: “Manfaatkanlah tubuh yang sehat ini untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.”

Dari cinta kasih seorang ibu menurun kepada anak, cinta kasih tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga diwariskan melalui tindakan nyata.

Nurjanah dan rekan kerjanya mengikuti tahap pendaftaran donor darah. Mereka sebelumnya terinspirasi oleh kebiasaan sang atasan yang rutin mendonorkan darah.

Semangat untuk bersumbangsih juga tampak tumbuh di lingkungan kerja. Nurjanah (42) peserta yang hadir untuk mendonorkan darah bersama atasan dan rekan-rekan kerjanya. Mereka sebelumnya terinspirasi oleh kebiasaan sang atasan yang rutin mendonorkan darah.

“Awalnya ragu, tetapi begitu melihat atasan rutin donor dan sering bercerita betapa bermanfaatnya kegiatan ini, saya dan rekan-rekan jadi ikut terinspirasi dan sepakat untuk datang bersama hari ini,” ungkapnya.

Baginya, kegiatan donor darah bukan hanya kesempatan untuk membantu sesama, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan di luar rutinitas pekerjaan.

Langkah Kecil yang Terus Mengalir
Di tengah kesibukan kegiatan, kehangatan juga terasa di meja konsumsi. Para relawan Tzu Chi dengan sigap menyiapkan sajian bagi para pendonor sebagai bagian dari dukungan selama proses pemulihan.

Salah satu relawan Tzu Chi yang bertugas menyiapkan konsumsi, Linawati Heng memandang setiap orang dapat memberikan apa yang dimiliki sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Di sela tugasnya, Linawati bahkan turut melangkahkan kaki ke area donor untuk menyumbangkan darahnya.

“Bagi saya dan tim, sumbangsih itu memiliki beragam bentuk. Kami bahu-membahu menyumbangkan apa yang kami bisa, baik tenaga, waktu, maupun kemampuan yang kami miliki saat ini. Menyiapkan konsumsi merupakan salah satu bentuk sumbangsih kami, dan mendonorkan darah menjadi pelengkapnya,” ungkap Linawati.

Salah satu relawan Tzu Chi yang bertugas menyiapkan konsumsi, Linawati Heng turut serta mendonorkan darah di sela kegiatan.

Melalui kegiatan donor darah ini, relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Sunter berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah secara berkala dapat terus bertumbuh.

Sebab, kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat berawal dari apa yang dimiliki hari ini seperti dari tubuh yang sehat, waktu yang tersedia, tenaga yang dapat diberikan, maupun kemampuan untuk hadir bagi sesama.

Setetes darah mungkin terlihat sederhana bagi yang memberi. Namun bagi seseorang yang sedang membutuhkan, setetes darah tersebut dapat menjadi bagian dari harapan untuk melanjutkan kehidupan.

Ketika satu kebaikan menginspirasi kebaikan lainnya, cinta kasih pun bisa terus mengalir dari keluarga, lingkungan kerja, komunitas, dan akhirnya menjadi gerakan kemanusiaan yang lebih luas.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Saatnya Peduli

Saatnya Peduli

16 Juni 2014 Sebagian besar pendonor, baru pertama kali melakukan donor darah. Rasa takut tampak terpancar dari wajah masing-masing pendonor. Namun demi rasa berbagi cinta kasih, para pendonor memberanikan diri untuk tetap mendonorkan darahnya.
Menjadikan Donor Darah Sebagai Gaya Hidup

Menjadikan Donor Darah Sebagai Gaya Hidup

17 September 2019

Relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Timur kembali bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) menyelenggarakan kegiatan donor darah yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 September 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan triwulan yang diadakan di Mall Kelapa Gading 1. Sebanyak 24 relawan Tzu Chi terlibat dalam kegiatan ini. Dari 78 calon pendonor hanya 50 orang yang memenuhi kriteria setelah melalui pemeriksaan awal seperti tekanan darah dan kadar darah hemoglobin (HB).

Jangan Menunda Berbuat Baik

Jangan Menunda Berbuat Baik

14 Oktober 2019

Relawan komunitas Hu Ai Medan Barat mengadakan kegiatan donor darah pada Minggu, 6 Oktober 2019 bekerja sama dengan PMI Batam. Para relawan sangat antusias dalam mengajak masyarakat untuk donor darah, dengan menempelkan brosur-brosur donor darah di rumah makan vegetarian dan lainnya.

Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -