Pendonor menjalani proses pengambilan darah dalam suasana tenang, sebagai wujud nyata berbagi kehidupan.
Sabtu pagi, 18 April 2026, Lotte Mart Taman Surya, Jakarta Barat, kembali menjadi ruang bertemunya kepedulian. Sejak pukul 08.30 hingga 13.00 WIB, sebanyak 99 peserta hadir mengikuti kegiatan donor darah yang terselenggara melalui kolaborasi relawan Tzu Chi komunitas Jakarta Barat 1 dan PMI. Didukung 25 relawan Tzu Chi, termasuk 7 mahasiswa BINUS, serta 7 petugas PMI, kegiatan ini berhasil menghimpun 72 kantong darah melalui proses yang tertib dan penuh perhatian.
Area donor yang tertata rapi serta alur pelayanan yang teratur membuat seluruh rangkaian berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas pengunjung. Suasana yang hangat dan tenang membantu para pendonor menjalani setiap tahapan dengan nyaman.
Peran petugas PMI menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan. Dengan pendekatan yang ramah dan penuh empati, mereka memastikan setiap proses berjalan sesuai standar sekaligus menghadirkan rasa tenang bagi para pendonor.
“Selain memastikan kondisi pendonor aman, kami juga berupaya membantu mereka merasa nyaman. Melihat ketulusan masyarakat yang datang untuk berbagi membuat kami ikut tergerak untuk melayani dengan sepenuh hati,” ujar Mahdan selaku koordinator lapangan.
Nandhara yang sempat takut jarum akhirnya memberanikan diri dan bisa mendonorkan darahnya.
Pengalaman pertama dirasakan oleh Aga, pensiunan berusia 59 tahun yang tinggal di Perumahan Daan Mogot Baru. Ia datang pada kegiatan ini setelah beberapa kali menunda keinginannya untuk berdonor, hingga akhirnya menemukan waktu yang tepat berkat dorongan temannya.
“Sudah lama ingin ikut donor, tapi baru sekarang kesampaian. Selain membantu sesama, saya juga ingin menjaga kesehatan,” ungkapnya.
Saat menjalani proses awal, ia sempat merasa tegang, terlebih ketika melihat temannya tidak lolos pemeriksaan. Namun setelah dinyatakan memenuhi syarat, perasaannya berangsur tenang.
“Awalnya agak tegang, tapi setelah dinyatakan lolos, rasanya jadi lebih santai,” tambahnya. Pengalaman ini menjadi awal baginya untuk terus berbagi di kesempatan berikutnya.
Semangat berbagi juga hadir dari generasi muda melalui Nandhara, mahasiswi 19 tahun program Computer Science BINUS Kemanggisan. Ia mengikuti kegiatan donor darah ini setelah mendapat dorongan dari ibundanya saat usianya telah mencukupi. Pada pengalaman pertamanya, ia sempat merasa takut terhadap jarum suntik, namun pada kesempatan kedua ini ia mulai lebih tenang.
“Dulu sempat takut jarum, tapi sekarang sudah lebih nyaman. Saya jadi ingin terus berdonor,” ungkapnya. Ia berharap pengalamannya dapat menginspirasi teman-temannya untuk ikut berpartisipasi. Menurutnya, tantangan mahasiswa adalah mengatur waktu di tengah kesibukan kuliah, sehingga persiapan seperti istirahat yang cukup menjadi hal penting sebelum berdonor.
Yuliasmy mencoba ikut donor darah karena melihat informasi dari sebuh postingan temannya. Ia berharap dapat membantu orang lain.
Ketulusan untuk berbagi juga terlihat dari Yuliasmy (44), seorang pedagang yang tinggal di Taman Surya 2. Ia mengikuti kegiatan ini setelah tergerak dari pengalaman membaca buku tentang manfaat donor darah, yang kemudian diperkuat oleh unggahan di media sosial.
“Setelah membaca dan melihat postingan, saya jadi semakin ingin mencoba. Semoga bisa menjadi berkat dan membantu orang lain,” ujarnya.
Ia mengakui sempat merasa khawatir saat menunggu hasil pemeriksaan. “Awalnya takut tidak lolos screening,” tambahnya. Namun, niat baik membuatnya tetap mantap melangkah. Ia pun berharap ke depannya dapat mengajak suami dan anak-anaknya untuk ikut berdonor.
Leng Leng, bersama relawan komunitas Hu Ai Surya Palem terus mengajak masyarakat untuk berani mencoba, karena donor darah adalah cara sederhana untuk membantu sesama.
Ketua Hu Ai Surya Palem, Leng Leng, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah berjalan selama lima tahun sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat sekaligus membantu memenuhi kebutuhan stok darah di rumah sakit. Ia mengajak masyarakat untuk berdonor secara sukarela, meski mengakui masih ada tantangan berupa rasa takut yang dirasakan sebagian orang.
“Kami terus mengajak masyarakat untuk berani mencoba, karena donor darah adalah cara sederhana untuk membantu sesama,” ujarnya. Ia juga bersyukur atas antusiasme warga yang telah hadir sejak pagi hari sebagai tanda tumbuhnya kepedulian di tengah masyarakat.
Sejalan dengan pesan Master Cheng Yen bahwa menyelamatkan satu nyawa berarti menyelamatkan satu dunia, setiap tetes darah yang terkumpul menjadi wujud nyata cinta kasih yang mengalir tanpa henti.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa welas asih dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Dari keberanian langkah pertama, semangat generasi muda, hingga kepedulian dalam keluarga, semuanya menyatu dalam satu tujuan: menyambung kehidupan dan menyalakan harapan bagi sesama.
Editor: Metta Wulandari