Sharing Penuh Haru di Kelas Bertema Berbakti Kepada Orang Tua

Jurnalis : Restuti (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Kho Ki Ho (Tzu Chi Pekanbaru)

Sebanyak 170 orang siswa mengikuti kegiatan kelas bertema Berbakti Kepada Orang Tua, yang diadakan oleh relawan Tzu Chi Pekanbaru di Sekolah Wahidin, Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi.

Sejalan dengan kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang dilaksanakan di Bagansiapiapi pada Sabtu, 17 Januari 2026, pada pagi harinya relawan Tzu Chi Pekanbaru mengadakan kegiatan kelas bertema Berbakti Kepada Orang Tua di Sekolah Wahidin, Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi. Setibanya di Sekolah Wahidin, para relawan disambut oleh Hasanto, S.IP, selaku pengurus Sekolah Wahidin, kemudian bertemu dengan Kepala Sekolah SMA, Ir. Nur Sugiarto.

Kegiatan kelas diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, Restuti salah satu relawan Tzu Chi, dilanjutkan dengan kata sambutan dari pihak Sekolah Wahidin yang diwakili oleh Ir. Nur Sugiarto, serta sambutan dari Yayasan Buddha Tzu Chi yang disampaikan oleh Bapak Hong Thay. Kegiatan ini diikuti oleh 170 siswa-siswi dari kelas X, XI, dan XII, dengan dominasi siswa kelas XII yang didampingi oleh seorang guru, Kepala Sekolah SMA, serta 14 orang relawan.

Dalam sambutannya, Nur Sugiarto menyampaikan pesan kepada siswa-siswi mengenai dua hal penting dalam kehidupan yang tidak dapat ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan. Pesan tersebut selaras dengan isi surat dari Tzu Chi Pekanbaru kepada pihak sekolah terkait izin pelaksanaan kegiatan ini. Nur Sugiarto mengungkapkan kesan mendalam terhadap kalimat dalam surat tersebut karena singkat, mudah diingat, dan sarat makna.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada tim dari Buddha Tzu Chi yang telah mau memberikan pengetahuannya, terkesan yang disampaikan surat dari Buddha Tzu Chi, ada dua perbuatan yang tidak boleh ditunda,” jelas Nur Sugiarto.

Kepala Sekolah Wahidin, Ir. Nur Sugiarto berpesan dalam sambutannya kepada siswa siswi tentang ada 2 hal yang tidak bisa ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.

Sebelum memasuki materi utama, Restuti, relawan Tzu Chi yang juga bertindak sebagai pembawa materi mengajak siswa-siswi untuk mengingat kembali materi yang telah disampaikan pada tahun sebelumnya. Antusiasme siswa-siswi pun terlihat jelas, mereka masih mengingat materi Pelestarian Lingkungan serta mampu mempraktikkan yel-yel 5R dengan baik.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi Berbakti Kepada Orang Tua secara interaktif melalui yel-yel “I LOVE MOM & DAD”. Yel-yel ini dipraktikkan bersama dengan gerakan sederhana, yaitu kata “I” dengan menunjuk ke diri sendiri, “Love” dengan membentuk simbol hati menggunakan jari, “Mom” dengan kedua tangan di dagu menyerupai bunga, serta “Dad” dengan gerakan ibu jari dan telunjuk di dagu yang melambangkan kumis ayah.

Melalui kelas bertema berbakti kepada orang tua ini, diharapkan siswa-siswi dapat memahami jerih payah serta pengorbanan orang tua, menumbuhkan sikap berbakti dan kesediaan untuk mendengarkan nasihat orang tua, serta memiliki keinginan untuk membantu orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video Perjuangan Kasih Ibu dan Ayah. Sebelum video diputar, siswa-siswi diajak untuk hening selama satu menit guna menenangkan diri dan memusatkan perhatian. Saat video berlangsung, tampak beberapa siswa meneteskan air mata hingga akhir pemutaran. Video ini mengajak siswa-siswi untuk memahami pengorbanan orang tua, menumbuhkan rasa syukur, serta menyadari pentingnya tidak menunda bakti agar tidak menyesal di kemudian hari.

Selanjutnya diputar video kedua, yaitu Dharma dari Master Cheng Yen dengan tema Berbakti, Apakah Sulit? Melalui video ini juga, siswa-siswi diajak untuk memahami bahwa berbakti tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi, tetapi juga melalui ketulusan hati, perhatian, pendampingan, serta pelayanan yang dilakukan dengan sukacita. Menggunakan tubuh pemberian orang tua untuk bersumbangsih dan berbuat kebajikan juga akan menjadi pahala bagi orang tua. Kehidupan tidaklah kekal, oleh karena itu berbuat baiklah selagi masih ada kesempatan.

Sameli, salah satu siswi Sekolah Wahidin, memberikan sharing yang menyentuh tentang orang tuanya.

Jonathan, siswa Sekolah Wahidin juga memberikan cerita menyentuh hati. Ia menceritakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbakti kepada ibunya karena sang ibu telah meninggal dunia.

Usai pemutaran kedua video tersebut, siswa-siswi dibagikan kertas berbentuk hati (love) dengan dua warna, yaitu kuning dan pink. Kertas love berwarna kuning digunakan untuk menuliskan ungkapan penyesalan atau permohonan maaf kepada orang tua, sedangkan kertas love berwarna pink digunakan untuk menuliskan doa serta ungkapan terima kasih. Sebelum mulai menulis, siswa-siswi diajak menyaksikan video ketiga berjudul Anak Kambing Berlutut untuk merenungkan makna lagu didalam video tersebut, sekaligus bernyanyi bersama. Setelah video selesai diputar, siswa-siswi diberi waktu beberapa menit untuk menuliskan isi hati mereka pada kertas love.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan bersama kata perenungan dari Master Cheng Yen: “Berbakti kepada orang tua adalah akar dari segala kebajikan.” Lalu, sesi kuis pun dimulai. Salah satu pertanyaan kuis mengulas kembali dua hal yang tidak dapat ditunda dalam kehidupan, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan. Setelah itu, siswa-siswi diajak untuk berbagi pengalaman secara langsung di depan kelas.

Sharing pertama disampaikan oleh Sameli yang sangat mengharukan. Ia menceritakan pesan orang tuanya kepadanya. “Orang tua saya berpesan untuk menjaga adik saya apabila kedua orang tua telah tiada,” cerita Sameli. Tak lupa Sameli mengajak seluruh hadirin untuk berbakti kepada orang tua dan membantu mereka selagi masih ada kesempatan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Jonathan, dengan sharing yang menyentuh hati. Ia menceritakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbakti kepada ibunya karena sang ibu telah meninggal dunia dan berdoa agar ayahnya sehat dan Panjang umur. “Ibu saya telah tiada saat berusia tiga tahun. Untuk ayah saya doakan agar ayah selalu diberikan umur Panjang,” ungkap Jonathan.

Kertas pesan berbentuk hati yang ditulis para siswa untuk orang tuanya. Tulisan berisi doa dan harapan untuk kedua orang tuanya.

Gunarny dan Flemming, relawan Tzu Chi Pekanbaru memberikan suvenir bunga uang kepada para siswa-siswi yang nantinya dipersembahkan kepada orang tua mereka.

Relawan kemudian mengajak siswa-siswi untuk menyampaikan isi kertas love kepada orang tua. Salah satu siswa yang tinggal jauh dari orang tuanya karena harus kos di Bagansiapiapi berkesempatan melakukan panggilan video dengan orang tuanya. Ia membacakan langsung isi kertas love kuning dan pink. Awalnya orang tua tersebut tampak bingung, namun setelah dijelaskan mengenai kegiatan berbakti kepada orang tua, ia tampak sangat terharu dan mengucapkan terima kasih atas kegiatan yang telah dilaksanakan.

Menjelang akhir kegiatan, relawan membagikan bunga yang dibuat dari uang kertas kepada seluruh siswa-siswi. Bunga tersebut dimaksudkan untuk diberikan kepada orang tua dengan cara berlutut sebagai ungkapan terima kasih. Siswa-siswi juga diminta untuk mendokumentasikan momen tersebut melalui foto atau video.

Sebagai penutup, relawan membagikan suvenir berupa notebook dan snack kepada seluruh siswa-siswi yang hadir. Para relawan juga berharap kegiatan ini bisa membawa manfaat yang mendalam, dan menjadi bekal bagi siswa-siswi untuk mempraktikkan bakti kepada orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Menumbuhkan Benih Budi Pekerti

Menumbuhkan Benih Budi Pekerti

25 Februari 2015 Pagi itu di Minggu kedua Desember 2014, sedikit berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, karena kegiatan Qin Zi Ban (kelas Budi Pekerti) diadakan lebih awal dari yang seharusnya di minggu keempat.
Menumbuhkan Budi Pekerti Sejak Dini

Menumbuhkan Budi Pekerti Sejak Dini

14 November 2025

Kelas Budi Pekerti He Qi Pusat menghadirkan suasana penuh kehangatan antara murid, orang tua, dan relawan. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak menumbuhkan rasa syukur, kepedulian, dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Terus Menanam Benih Kebajikan

Terus Menanam Benih Kebajikan

10 Juli 2018
Anak-anak Kelas Budi Pekerti di Tzu Chi Bandung diajak untuk membuat celengan bambu dari barang yang sudah tak terpakai dan mengubahnya menjadi barang yang berguna. Para Xiao Pu Sa pun antusias menggambar pada kertas yang disediakan, nantinya kertas tersebut ditempel pada sisi celengan yang mereka buat.
Orang yang selalu bersumbangsih akan senantiasa diliputi sukacita. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa dilimpahi berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -