Hok Lay (paling kiri), Livia Tjhin (kedua dari kiri), dan Anie Widjaja (kedua dari kanan) berbagi pengalaman batin dalam sesi talk show yang dipandu Kartini. Ketiganya mengajak para peserta untuk berani menaklukkan ego, merawat keharmonisan keluarga, dan menjaga kerendahan hati dalam bersumbangsih.
Apa sebenarnya makna dari “Siap Berjalan di Jalan Bodhisatwa” yang menjadi tema pelatihan kali ini? Pertanyaan tersebut barangkali sempat terlintas di benak 50 relawan abu putih dan abu putih logo saat mengikuti pelatihan pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Bertempat di ruang Xi She Ting, Aula Jing Si Lantai 1, PIK, Jakarta Utara pelatihan gabungan relawan komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Jakarta Barat 4 menjadi kesempatan bagi para relawan untuk menengok kembali ke dalam batin. Kehadiran 47 panitia yang melayani dengan tulus menyadarkan peserta bahwa sebelum melangkah menolong sesama, fondasi utamanya adalah membenahi karakter diri.
Hal ini tecermin saat Livia Tjhin, relawan Tzu Chi, berbagi pandangan dalam sesi talk show tentang menjaga keharmonisan tim melalui peredaman ego pribadi. "Ajaran Master yang paling saya ingat adalah kita harus berani minta maaf kepada orang lain, walaupun kita tidak salah," ungkap Livia Tjhin.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa berjalan di jalan Bodhisatwa membutuhkan keberanian untuk merendahkan hati dan menjaga jalinan jodoh baik tetap harmonis.
Refleksi batin semakin terasa ketika para relawan diajak menyusuri Aula Jing Si untuk memahami sejarah dan filosofi yang menjadi fondasi "rumah" mereka. Suasana kemudian dicairkan melalui kuis interaktif yang membangun semangat kebersamaan.
Melatih Karakter dan Ketulusan di Jalan Bodhisatwa
Memahami sejarah Aula Jing Si adalah langkah awal, tetapi menjaga langkah tetap di jalur yang benar melalui disiplin diri adalah bekal utama. Hal ini ditekankan Auliani Gunawan, relawan Tzu Chi, saat membedah Sepuluh Sila Tzu Chi sebagai sistem perlindungan dari Master Cheng Yen agar batin relawan tetap terarah.
Bagi Auliani, sila bukanlah daftar larangan yang mengekang. "Sila itu bagaikan penggaris, sebuah standar di dalam hati untuk meluruskan apa yang miring. Ia memberi tahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan," ungkapnya.
Para peserta Pelatihan Relawan Abu Putih dengan saksama menyimak penjelasan Efi, relawan Tzu Chi, saat tur di ruang Exhibition Hall, Aula Jing Si, PIK, Jakarta Utara.
Thalia Oktorina (kiri), salah seorang peserta pelatihan, tampak tekun mencatat poin-poin penting yang disampaikan Efi selama tur Aula Jing Si. Kesungguhan ini mencerminkan tekad para relawan untuk menyerap sejarah dan filosofi Tzu Chi.
Ia mengibaratkan sila seperti rambu lalu lintas. Tanpa aturan, kendaraan dapat saling berbenturan. Begitu pula dalam komunitas, sila membantu mencegah benturan ego antar-relawan sehingga setiap orang dapat berjalan harmonis.
Pesan tersebut juga diterapkan dalam keseharian, seperti menjaga kebersihan rumah sebagai bentuk melatih nurani. "Kenapa semut bisa datang ke meja? Karena mereka diundang oleh sisa makanan yang kita tinggalkan. Dengan rajin menjaga kebersihan, kita sebenarnya sedang melindungi nyawa makhluk lain sekaligus menjaga batin agar tidak muncul niat membunuh," jelas Auliani.
Auliani juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dalam komunitas. "Fokuslah pada masalah yang dihadapi, jangan pada orangnya. Jangan menyebarkan kesalahan pribadi rekan ke luar karena hal tersebut akan melukai jodoh baik yang sudah terjalin," tegasnya.
Nilai-nilai tersebut semakin nyata melalui sesi talk show yang menghadirkan tiga relawan senior: Livia Tjhin, Hok Lay, dan Anie Widjaja.
Hok Lay, relawan Tzu Chi, membagikan transformasi batinnya setelah mengikuti pelatihan diri di Tzu Chi.
"Dulu saya merasa siapa lu siapa gue. Saya ayahnya, saya pencari nafkah, jadi saya merasa paling benar," kenang Hok Lay. Kesadaran batin membuatnya berani meminta maaf kepada anaknya. "Saya akhirnya menemui anak saya dan minta maaf. Saya bilang kepada anak, Papa minta maaf atas kesalahan Papa selama ini. Tolong tunjukkan apa saja salah Papa biar Papa bisa berubah," kenangnya.
Anie Widjaja, relawan Tzu Chi, melengkapi sesi tersebut dengan pesan untuk menjaga semangat dalam melayani. "Setiap interaksi dengan orang baru adalah kitab kehidupan yang berbeda. Kalau kita merasa jenuh, itu tandanya batin kita mulai berhenti belajar," jelas Anie.
Melalui kisah para relawan senior, peserta memahami bahwa menjadi relawan Tzu Chi adalah perjalanan panjang memperbaiki diri. Senioritas bukan tentang posisi, melainkan tentang kemampuan menaklukkan ego dan memperluas hati untuk memaafkan serta mengasihi sesama.
Antusiasme peserta mewarnai ruangan saat para relawan mengikuti kuis interaktif usai tur Aula Jing Si, PIK. Permainan ini menjadi cara menyenangkan untuk mengingat kembali sejarah dan filosofi Tzu Chi yang baru saja mereka pelajari.
Menyentuh Hati melalui Misi Amal
Pembelajaran mengenai karakter menemukan praktik nyatanya dalam Misi Amal. Rusni mengajak para relawan Tzu Chi lainnya melihat bagaimana cinta kasih diwujudkan melalui seni menyentuh hati.
Rusni menjelaskan rumus khas Tzu Chi dalam menyalurkan bantuan, yaitu 10-30-60. "Sepuluh persen materi, tiga puluh persen pendampingan relawan, dan enam puluh persen sisanya adalah upaya menyentuh hati serta membangkitkan kemandirian penerima bantuan," jelas Rusni.
Pesan tersebut terlihat dalam pendampingan relawan komunitas Hu Ai Angke terhadap Akmal, anak penderita Cerebral Palsy (lumpuh otak). Bantuan bukan hanya hadir dalam bentuk susu khusus, tetapi juga melalui kepedulian relawan yang menyentuh hati keluarganya.
Berbagi pengalaman mendampingi pasien di lapangan, Rusni mengajak para relawan untuk aktif bersumbangsih dalam Misi Amal Tzu Chi. Ia menegaskan bahwa membantu sesama bukan sekadar menyalurkan materi, melainkan seni merangkul penderitaan orang lain.
"Awalnya, ibu dari Akmal merasa ada tembok perbedaan karena masalah ras atau keyakinan. Ia sempat ragu, mana mungkin orang yang berbeda latar belakang mau peduli padanya," kenang Rusni.
Prasangka itu luruh ketika melihat ketulusan relawan yang bersedia memeluk dan menggendong Akmal tanpa canggung.
Kini, ibu Akmal bahkan tergerak menabung melalui Celengan Bambu untuk membantu orang lain. Ia berkata kepada relawan."Saya sudah cukup, bagian saya tolong bagikan saja kepada orang lain yang lebih membutuhkan," ucap Rusni mengutip perkataan Ibu Akmal.
Menyatukan Hati melalui Harmoni Isyarat Tangan
Pelatihan ditutup dengan lomba Shou Yu (isyarat tangan). Lagu Pu Tian San Wu (Tiga Tiada) merangkum perjalanan batin peserta tentang tekad untuk mencintai, mempercayai, dan memaafkan semua orang tanpa syarat.
Gerakan tangan yang selaras menjadi cerminan semangat He He Hu Xie (gotong royong dan keharmonisan). Kompetisi bukan lagi tentang siapa yang paling sempurna, tetapi bagaimana menyatukan hati dalam satu ritme kasih sayang.
Dengan saksama, Susanti (ketiga dari kiri) menuliskan butir-butir pembelajaran berharga selama sesi materi di Xi She Ting. Catatan ini bukan sekadar rangkuman teori, melainkan pengingat batin untuk terus membenahi karakter sebelum melangkah menolong sesama.
Juara pertama diraih oleh komunitas Hu Ai Angke dari He Qi Jakarta Barat 4, disusul Hu Ai Muara Karang dari He Qi Jakarta Utara 3 sebagai juara kedua.
Rangkaian kegiatan hari itu memberikan jawaban bahwa "Siap Berjalan di Jalan Bodhisatwa" bukan tentang seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan kesediaan untuk terus memperbaiki diri, mengecilkan ego, dan menjaga keharmonisan.
Berbekal pesan Master Cheng Yen untuk memiliki "Hati Buddha dan Tekad Guru", para relawan melangkah keluar dari Aula Jing Si dengan batin yang lebih jernih untuk menjadi lentera pembawa kehangatan bagi masyarakat.
Editor: Fikhri Fathoni