Marlita menyanyikan lagu untuk relawan Tzu Chi. Marlita menyambut kunjungan relawan Tzu Chi Pekanbaru dari Hu Ai Timur. Marlita yang bercita-cita menjadi dokter tampak bahagia bernyanyi bersama relawan saat Kunjungan Kasih ke Rumah Singgah YKAKI Pekanbaru, 12 September 2026.
Sabtu pagi, 12 September 2026, suasana di rumah singgah YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia) di Jalan Kartini, Pekanbaru, terasa hangat. Senyum dan keceriaan anak-anak menyambut kedatangan relawan Hu Ai Timur yang kembali hadir dalam kegiatan rutin Kunjungan Kasih.
Pukul 10.29 WIB, ada 17 relawan dan relawan kembang tiba di rumah singgah. Kedatangan mereka disambut gembira oleh anak-anak dan para orang tua pendamping. Pada hari itu, terdapat delapan anak yang berada di rumah singgah, sementara tujuh anak lainnya sedang menjalani pengobatan di rumah sakit.
Kunjungan kali ini dikoordinasikan oleh Mariana. Selain menjalin silaturahmi dengan para penghuni rumah singgah, Mariana juga mempersiapkan berbagai kegiatan hiburan untuk anak-anak. Permainan lempar bola dan pembagian hadiah bagi mereka yang berhasil menjawab pertanyaan membuat suasana semakin meriah.
Dengan wajah ceria, anak-anak hanyut dalam alunan lagu yang diperdengarkan. Mereka pun dengan senang hati menyanyikan lagu-lagu favorit. Keceriaan sederhana itu menghadirkan suasana penuh sukacita bagi semua yang hadir.
Di balik tawa dan keceriaan tersebut, para relawan Tzu Chi menyadari bahwa anak-anak sedang menghadapi perjuangan yang tidak mudah. Kepolosan dan semangat mereka seakan mampu menyamarkan penderitaan yang tengah dialami.
Bagi para relawan, momen tersebut menjadi pembelajaran kehidupan. Dalam kondisi apa pun, hati diharapkan tetap tenang, terutama ketika menghadapi keadaan yang berada di luar keinginan.
Melihat kondisi anak-anak, Harunsyah, relawan Kembang, mengungkapkan rasa harunya.
“Tidak terbayangkan perasaan orang tua yang anaknya menderita penyakit berat seperti ini,” ujarnya.
Tiada seorang pun yang menghendaki kondisi kurang baik terjadi pada dirinya maupun keluarganya. Namun, ketika keadaan tersebut harus dihadapi, diperlukan keikhlasan, keyakinan, serta semangat untuk menjalaninya. Dengan demikian, setiap kesulitan dapat dilalui selangkah demi selangkah.
Semangat Seorang Ibu
Hal tersebut pula yang dialami keluarga Ibu Jelita yang berasal dari Kampar. Selama satu tahun, ia tinggal di rumah singgah untuk mendampingi putrinya, Marlita, yang kini berusia tujuh tahun dan menderita leukemia.

Jelita, ibu Marlita, menceritakan perjuangannya mendampingi sang anak. Meski sempat sulit menerima keadaan, ia terus menguatkan diri dan mendampingi pengobatan Marlita.
Sebelum penyakit menggerogoti tubuhnya, Marlita dapat berjalan seperti anak-anak seusianya. Namun, ketika berusia 4,5 tahun, ia terjatuh di depan rumah. Sejak saat itu, kondisinya mulai terganggu, terutama pada bagian kaki. Perlahan, kekuatan kakinya semakin melemah hingga ia tidak dapat berjalan normal seperti sebelumnya.
Ketika dokter menyatakan Marlita menderita leukemia dan membutuhkan perawatan, orang tuanya sangat terpukul. Awalnya, Ibu Jelita pun merasa sulit menerima kenyataan tersebut. Namun, sebagai seorang ibu yang memiliki iman dan keyakinan, ia terus menguatkan diri. Semangat dan perjuangan membuatnya perlahan mampu menerima keadaan dan mendampingi proses pengobatan putrinya.
Setiap hari, Ibu Jelita menggendong Marlita untuk mengantarnya ke sekolah agar tetap dapat mengikuti pelajaran.
Di tengah kondisi yang dihadapinya, Marlita tetap menunjukkan semangat dan keceriaan. Ketika ditanya mengenai kelas dan cita-citanya, anak yang pintar bernyanyi ini menjawab dengan penuh semangat.
“Marlita kelas 1, mau jadi dokter. Agar bisa mengobati yang sakit,” katanya.
Jawaban yang sederhana tersebut menyentuh hati para relawan. Pada usia muda, Marlita telah menunjukkan keinginan yang kuat untuk membantu sesama. Ia ibarat sebatang lilin kecil yang bersinar indah, menyalurkan cahaya dari dalam dirinya dan berkeinginan untuk meneruskan cahaya tersebut kepada orang lain.
Marlita juga merupakan anak yang berprestasi di sekolahnya. Semangatnya untuk terus belajar menjadi bagian dari perjuangannya dalam menjalani hari-hari bersama kondisi kesehatan yang dihadapinya.
Semoga tekad dan kegigihan Marlita, disertai dukungan orang tua dan keluarga, dapat mengantarnya mewujudkan cita-cita menjadi seorang dokter.
Relawan Tzu Chi membagikan buah-buahan kepada anak-anak di Rumah Singgah YKAKI Pekanbaru. Perhatian dan dukungan bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan dan pemulihan. Kunjungan Kasih ini berlangsung di Rumah Singgah YKAKI Pekanbaru, 12 September 2026.
Belajar Bersyukur
Bagi sebagian relawan, pertemuan dengan anak-anak di rumah singgah menjadi pengalaman yang menggugah hati. Salah satunya dirasakan oleh relawan kembang Dewi Anggreni yang baru pertama kali mengikuti kegiatan Kunjungan Kasih.
Ketika ditanya mengenai kesannya, Dewi menjawab sambil berurai air mata.
“Sebenarnya sangat sedih melihat kondisi mereka. Awal datang, belum begitu tahu kondisi anak-anak seperti apa. Sekilas mereka terlihat sehat. Tapi di balik itu, ternyata mereka sedang menderita penyakit,” ungkap Dewi. Pada saat itu, di dalam diri Dewi Anggreni timbul rasa syukur karena memiliki anak-anak yang sehat.
Dewi Anggreni, relawan kembang yang baru pertama kali mengikuti kegiatan, tersentuh melihat kondisi anak-anak di rumah singgah. Dewi semakin bersyukur atas kesehatan anak-anaknya. Momen tersebut menjadi pengalaman yang membuka hatinya untuk lebih peduli terhadap sesama.
Kunjungan kasih ini membuat Dewi melihat kembali kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Di balik pertemuan singkat bersama anak-anak, tumbuh kesadaran bahwa kesehatan dan kebersamaan bersama keluarga merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Setelah anak-anak puas bermain bersama para relawan dan relawan kembang, orang tua, serta pengurus rumah singgah, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang kembali hangat. Milie memandu anak-anak, orang tua, serta para relawan untuk bersama-sama memperagakan bahasa isyarat tangan dengan judul lagu Satu Keluarga.
Gerakan tangan yang dilakukan bersama menjadi penutup Kunjungan Kasih pagi itu. Tidak hanya menghadirkan hiburan, pertemuan tersebut juga mempererat kebersamaan antara relawan, anak-anak, orang tua, dan pengurus rumah singgah.
Relawan Tzu Chi Pekanbaru berfoto bersama anak-anak dan keluarga penghuni Rumah Singgah YKAKI. Kebersamaan dalam Kunjungan Kasih di Rumah Singgah YKAKI Pekanbaru, 12 September 2026, menjadi momen untuk berbagi perhatian, semangat, dan cinta kasih kepada anak-anak yang sedang menjalani pengobatan.
Pukul 11.30 WIB, para relawan berpamitan untuk kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Meski kunjungan berlangsung singkat, perjumpaan tersebut meninggalkan makna yang mendalam.
Seperti yang diajarkan Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, setiap orang hendaknya tetap memiliki rasa syukur dalam hati di tengah berbagai kondisi yang dihadapi. Menyalakan cahaya dalam diri sendiri berarti menjaga kebaikan dan keteguhan hati agar cahaya tersebut dapat diteruskan kepada orang lain.
Dengan terjun langsung ke tengah masyarakat dan merasakan penderitaan yang dialami sesama, hati welas asih pun dapat tumbuh. Dari sebuah kunjungan sederhana, para relawan Tzu Chi belajar bahwa cahaya paling indah justru terpancar dari mereka yang sedang berjuang menghadapi kegelapan.
Marlita, dengan senyum dan cita-citanya yang sederhana, menjadi salah satu cahaya kecil itu.
Editor: Anand Yahya