Sosialisasi Perdana TIMA Bandung: Menumbuhkan Welas Asih Melalui Profesi Kesehatan

Jurnalis : Rizki Hermadinata (Tzu Chi Bandung) , Fotografer : Muhammad Dayar (Tzu Chi Bandung)
dr. Subekti N. Kartasasmita (kiri) dan drg. Kesuma (kanan) membagikan kisah pengabdian mereka sebagai relawan medis Tzu Chi Bandung. Sebagai anggota generasi TIMA Bandung sejak tahun 2005, keduanya menginspirasi peserta melalui pengalaman melayani masyarakat dengan penuh cinta kasih.

Sebuah profesi bukan hanya menjadi tugas pokok semata, tetapi juga dapat menjadi sarana menebarkan cinta kasih kepada sesama. Dari semangat itulah relawan Tzu Chi mengadakan Sosialisasi Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Bandung yang diselenggarakan pada Minggu 26 Juli 2026 lalu di Aula Jing Si Tzu Chi Bandung.

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini dihadiri oleh puluhan tenaga kesehatan dari berbagai profesi, seperti dokter, perawat, apoteker, analis kesehatan, fisioterapis, hingga mahasiswa kesehatan. Mereka hadir dengan satu tujuan yang sama, yakni mengenal lebih dekat TIMA sebagai wadah pengabdian profesi kesehatan dalam misi kemanusiaan.

Acara diawali dengan pengenalan dunia Tzu Chi serta semangat cinta kasih universal yang diwujudkan melalui pelayanan kesehatan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat. Kemudian dilanjutkan dengan perkembangan tim medis TIMA yang dimulai dari Taiwan hingga tersebar ke seluruh dunia dan sampai ke Indonesia dan Bandung.

Suasana kebersamaan yang penuh kehangatan itu terjadi ketika peserta menyaksikan berbagai kisah pelayanan kemanusiaan yang dilakukan para relawan medis. Tayangan tersebut menjadi pengingat bahwa profesi kesehatan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar profesi.

Ketua TIMA Bandung, dr. Subekti N. Kartasasmita, menyampaikan bahwa sebagai dokter bukan hanya berfokus pada kesehatan fisik saja. “Sebagai dokter, disini kita bukan hanya sampai menyembuhkan penyakit, tapi bagaimana kita bisa menyembuhkan mentalnya membantu setiap pasien atau orang yang datang dengan melayaninya penuh cinta kasih dan memberikan harapan baru” ujarnya.

Sosialisasi pertama TIMA di Bandung dihadiri sebanyak 28 peserta dari berbgaia profesi tenaga kesehatan.

Kegiatan selanjutnya para peserta diajak mengenal sejarah berdirinya TIMA lewat materi sosialisasi. Hal itu lahir dari kepedulian Master Cheng Yen terhadap masyarakat yang kesulitan memperoleh layanan kesehatan. 

Materi sosialisasi selanjutnya peserta diajak mengenal sejarah berdirinya TIMA, yang lahir dari kepedulian Master Cheng Yen terhadap masyarakat yang kesulitan memperoleh layanan kesehatan. Dari semangat tersebut, muncul jaringan tenaga medis sukarelawan yang kini tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di Bandung sendiri, TIMA telah hadir menyelenggarakan berbagai program pelayanan kesehatan sejak 2005, mulai dari bakti sosial kesehatan umum, pelayanan kesehatan gigi, operasi katarak gratis, edukasi kesehatan masyarakat, donor darah, hingga berbagai aksi kemanusiaan saat terjadi bencana.

Melayani dengan Ketulusan Hati
Selain memaparkan jejak perjalanan TIMA serta program dan tugasnya, pada kesempatan ini juga ada sesi berbagi pengalaman dari salah satu anggota senior TIMA, drg. Kesuma. Sebagai anggota generasi pertama TIMA Bandung, ia membagikan pengalaman dan perjalanan pengabdiannya sebagai relawan medis Tzu Chi.

Bagi drg. Kesuma, menjadi bagian dari TIMA Indonesia memberikan banyak pelajaran hidup yang berharga. Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak hanya sebatas memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga belajar memahami serta merasakan apa yang dialami oleh mereka yang membutuhkan.

“Saya bergabung sejak tahun 2005, saat awal berdirinya TIMA Bandung. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Pelayanan kesehatan bukan hanya tentang memeriksa pasien, tetapi bagaimana kita ikut merasakan apa yang mereka rasakan,” tuturnya.

Sebagai dokter gigi yang telah menangani begitu banyak pasien selama bertahun-tahun, drg. Kesuma meyakini bahwa pelayanan kesehatan di Tzu Chi tidak hanya mengandalkan keterampilan medis, tetapi juga ketulusan hati. Baginya, setiap pelayanan merupakan wujud kepedulian dan cinta kasih kepada sesama.

“Di klinik, tugas saya sebatas memeriksa dan mencabut gigi. Namun di Tzu Chi, yang bekerja bukan hanya tangan, tetapi juga hati. Kami mendengarkan keluh kesah pasien dan memahami perjuangan mereka untuk bisa datang berobat,” tambahnya.

dr. Sri Yuni Fariyantini menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan yang dilakukan dengan hati yang tulus tak hanya membantu proses penyembuhan pasien, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi mereka.

Misi Kesehatan Tzu Chi tak terbatas dari penyembuhan fisik, tapi bagaimana relawan bisa memberikan harapan baru bagi setiap orang yang datang. Setiap pelayanan selalu memberikan pelajaran tentang rasa syukur, kerendahan hati, serta pentingnya melihat pasien sebagai sesama manusia yang membutuhkan perhatian, bukan sekadar penerima layanan medis.

Hal tersebut juga dirasakan dr. Sri Yuni Fariyantini, relawan TIMA Bandung lainnya, seorang dokter umum yang sudah bergabung menjadi relawan sejak 2009 menceritakan bahwa momen paling berkesan bukanlah ketika berhasil menyembuhkan pasien, melainkan saat melihat senyum dan rasa lega yang terpancar dari wajah mereka.

"Terkadang obat yang paling dibutuhkan bukan hanya resep, tetapi juga perhatian, senyum ramah dengan memperlakuklan mereka seperti kelurga, atau orang tua sendiri jadi kita melanyaninya dengan ketulusan hati” Ucap dr. Sri Yuni Fariyantini

Sepanjang perjalanan melanyani pasien, ia hampir tidak merasakan duka yang begitu berat. Kebahagian dan keterangan yang justru ia dapatkan selama ini “Kalau ditanya suka duka di TIMA, saya akan menjawab lebih banyak sukanya ya, setiap pasien membawa kisah yang berbeda. Meski rasa sakit yang mereka alami mungkin serupa, kebahagiaan bagi saya adalah melihat senyum tulus mereka setelah mendapat pelayanan,” tambah dr. Yuni

Para peserta diperkenalkan dengan TIMA serta diajak mengenal lebih dalam tentang duniaTzu Chi.

Antusiasme peserta juga terlihat sepanjang acara, mereka dengan seksama mendengarkan materi hingga sesi berbagi pengalaman anggota TIMA. Salah seorang peserta mengaku tersentuh disaat mengikuti sosialisasi. "Saya baru mengetahui bahwa ternyata profesi tenaga kesehatan membuka banyak kesempatan untuk mengabdi. Pelayanan tulus yang dilakukan Tzu Chi membuat hati saya tersentuh dan ingin ikut berkontribusi melayani sesama.” dr. Wenni Agustin Wijaya.,MM.,C.PS.

Jalinan jodohnya berawal dari ia ajakan salah satu anggota TIMA Bandung sekaligus kolega di RS. Kebon Jati untuk diajak ikut salah satu bakti sosial kesehatan Tzu Chi. pertama kali ikut ia berpikir nyatanya pelanyanan kesehatan dengan hati jauh bisa membuat pasien bahagia.

“Saya di ajak dr. Djuli kolega saya di rumah sakit, saat ikut pertama kali ternyata saya ikut berkontribusi hal baik dengan waktu dan jasa saya yang saya punya untuk memberikan sesuatu yang baik bagi masyarakat. Saya langung berpikir sebaik ini ya, seindah ini yang bisa melanyani masyarakat” cerita dr. Wenni.

drg. Fransiskus Xaverius Ganny ketua harian TIMA Indonesia memberikan pesan cinta kasih dalam kegiatan sosialisasi tersebut.

Sosialisasi ini semakin memantapkan tekad 28 peserta untuk bergabung menjadi anggota TIMA Bandung. Menjelang akhir acara, seluruh peserta diajak melakukan refleksi bersama mengenai makna menjadi seorang tenaga kesehatan. Mereka diingatkan bahwa tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi profesional, tetapi juga membangun empati, menghargai setiap kehidupan, serta menjaga martabat setiap pasien yang dilayani.

Dari kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak relawan medis yang siap bergabung bersama TIMA Bandung. Dengan semakin banyak tenaga kesehatan yang terlibat, pelayanan kemanusiaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Pembinaan TIMA Bandung Kepada Relawan Tzu Chi mengenai “Manajemen Stres”

Pembinaan TIMA Bandung Kepada Relawan Tzu Chi mengenai “Manajemen Stres”

17 Februari 2014 Stres merupakan respon secara fisik, mental, atau emosional terhadap suatu kejadian yang menyebabkan terjadinya ketegangan fisik atau mental.
HUT TIMA Indonesia ke-21: Bersatu Hati Kembali Melayani Setiap Insan

HUT TIMA Indonesia ke-21: Bersatu Hati Kembali Melayani Setiap Insan

20 November 2023

TIMA Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-21 di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara pada Minggu, 19 November 2023. Dalam acara ini, TIMA Indonesia juga melantik 151 anggota baru.

"Dagusibu"

12 Agustus 2015

Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang (Dagusibu) Obat dengan Baik menjadi topik seminar yang diadakan TIMA Indonesia pada Sabtu, 8 Agustus 2015 di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.Seminar ini ditujukan untuk para relawan dan masyarakat umum lainnya untuk menambah pengetahuan tentang obat-obatan serta manfaat donor darah.

Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -