Suara Kasih: Berbagi Melalui Celengan Beras
Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News| Judul Asli:
Petani di Myanmar membantu sesama lewat celengan beras | ![]() | ||
| Setiap hari, sebelum matahari terbit, saya harus keluar untuk memberikan ceramah pagi. Setiap kali akan beranjak keluar, saya pasti berdiri di koridor dan memandang ke langit. Dunia ini sungguh indah. Saat melihat langit yang tidak bertepi, saya akan teringat Buddha Sakyamuni, Yang Maha Sadar di Alam Semesta, kebijaksanaan-Nya juga tidak bertepi. Saat itu, lingkungan sekitar sangat hening. Saya pun berdiri di sana dan seakan mendengar dengan jelas alam yang sedang bernapas. Suara napas alam terdengar sangat bermelodi dan indah. Saya juga memandangi setiap bintang dengan hening. Meski bintang-bintang berada jauh dari saya, namun saya bagaikan mendengar Buddha sedang membabarkan Dharma bagi alam. Setelah itu, saya beranjak ke aula untuk melakukan penghormatan kepada Buddha dan memberikan ceramah. Setiap orang berada dalam kondisi batin yang sangat hening dan jernih. Saya dapat melihat batin setiap orang begitu harmonis dan bebas dari pikiran yang kompleks serta pikiran yang keliru. Jika terdapat pemikiran yang kompleks dan keliru, keharmonisan tidak akan terwujud. Jadi, untuk menyucikan batin manusia tidaklah sulit, asalkan kita bisa menyebarkan Dharma di masyarakat. | |||
| |||
| Suatu hari, saat berada di Taichung, terdapat seorang anggota komite di samping saya. Saat itu, ada ide yang terlintas di benak saya. Saya pun meminta anggota komite tersebut mengambil segenggam beras. Sambil bingung dia pun bertanya,“Master, untuk apa menyuruh saya mengambil segenggam beras?” Saya menjawab, “Jangan tanya dulu, pokoknya ambil saja.” Dia pun segera melakukan yang saya minta. Lalu, dia kembali ke hadapan saya sambil menggenggam beras di tangannya. Saya meminta dia untuk menghitung berapa jumlah beras di dalam genggamannya. Dia merasa sedikit heran, namun tetap menghitung beras-beras tersebut. Selesai menghitung dia pun kembali dan berkata, “Master, berasnya ada 1.300 sekian butir.”Saya lupa jumlah pastinya. Yang saya ingat, jumlahnya adalah seribu tiga ratus sekian. Saya berkata, “Ya, jumlah itu bermula dari sebutir demi sebutir beras.”Saya pun berbagi dengannya tentang filosofi segenggam beras. Beberapa tahun lalu, Myanmar dilanda bencana yang sangat parah. Karena jalinan jodoh itulah, insan Tzu Chi bisa berangkat ke Myanmar dan segara menyalurkan barang yang dibutuhkan warga, seperti pakaian, kebutuhan sehari-hari, makanan, selimut, dan lainnya. Lalu, kita pun mulai memikirkan cara untuk memulihkan perekomomian setempat. Berhubung mayoritas warga adalah petani, kita pun memberikan bibit padi dan pupuk kepada mereka. Warga setempat sangatlah polos dan merupakan umat Buddha yang sangat tulus dan taat. Setiap orang pasti mengetahui bahwa Myanmar adalah negara Buddhis. Meski mengalami gagal panen dan tidak memiliki beras untuk makan, mereka masih mengantarkan persembahan ke vihara. Mereka sangat tulus. Saat menyalurkan bantuan ke Myanmar, insan Tzu Chi berbagi kepada para warga bahwa Tzu Chi berasal dari Taiwan dan bermula dari 50 sen; sebagai praktisi Buddhis, mereka harus memahami hukum sebab akibat. Kita juga berbagi dengan warga bahwa setiap orang bisa menjadi orang yang membantu sesama dan berdana melalui celengan bambu. Ada banyak kisah yang dibagikan kepada mereka. Mereka baru pertama kali mendengarnya. Meski mereka semua meyakini Buddha, Dharma, dan Sangha, tetapi mereka tidak pernah mendengar ajaran untuk menjadi orang yang menolong sesama. Setelah mendengarnya, mereka sangat senang dan ingin turut membantu sesama. Insan Tzu Chi berkata kepada mereka bahwa mereka bisa turut membantu sesama dengan menyisihkan 50 sen ke dalam celengan bambu. Uang 50 sen dalam mata uang Myanmar adalah jumlah yang sangat sedikit, namun mereka tetap bisa memasukkannya ke dalam celengan bambu. | |||
| |||
Jadi, saya berkata pada anggota komite tadi, “Lihat, dengan menyisihkan segenggam beras yang dapat dimasak menjadi semangkuk nasi, setiap orang dalam keluarga di Myanmar tadi hanya makan 80 persen kenyang. Jadi, mereka dapat menghemat semangkuk nasi dan menggunakannya untuk membantu orang lain.” Belakangan ini, insan Tzu Chi di Taiwan terus mensosialisasikan pola makan cukup makan 80 persen kenyang untuk membantu sesama. Cerita tadi adalah asal mulanya. Sebelum meninggalkan kantor cabang Tzu Chi di Taichung, saya mendapatkan ide tersebut. Setelah kembali ke Hualien, saya mulai berbagi pola makan cukup kenyang 80 persen ini. Ketahuilah bahwa manusia masa kini sangatlah boros dan menciptakan banyak sampah dapur. Jika kita bisa meminimalisasi sampah dapur dan cukup makan 80 persen kenyang, itu akan baik untuk kesehatan tubuh kita dan sampah dapur juga akan berkurang. Inilah cara yang bisa digunakan untuk menolong orang lain. Sesungguhnya, kita tidak perlu menghamburkan banyak uang. Dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya ada banyak hal yang dapat dihemat sehingga kita dapat membantu orang lain. Jadi, beramal bukanlah sesuatu yang sulit. Yang sulit adalah mengembangkan rasa syukur dan rasa hormat. Selain bersumbangsih tanpa pamrih, kita pun harus berterima kasih kepada penerima karena dengan melihat penderitaan merekalah karena dengan melihat penderitaan merekalah kita baru dapat menyadari bahwa kita adalah orang yang penuh berkah. Jadi, lewat penderitaan mereka, kita dapat memahami betapa beruntungnya kita. Karena itu, kita harus merasa puas dan rela memberi. Kita yang memiliki berkah harus berbagi. Janganlah terus-menerus merasa kurang. Kita harus menyadari berkah dan berbagi. Jadi, kita harus membangkitkan cinta kasih, bersumbangsih tanpa pamrih, serta mengucapkan terima kasih. dan berterima kasih kepada penerima bantuan. Di Tzu Chi, kita berharap setiap orang memiliki hati yang seperti ini. Janganlah meremehkan sebutir beras atau memboroskan air setetes pun. Kelak, di seluruh dunia sumber daya air akan semakin berkurang. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, selain menolong orang lain, kita juga harus menerapkan pola hidup hemat. Dengan berhemat, kita bisa lebih banyak memberi. Alangkah baiknya jika setiap orang bisa menjadi orang yang kaya lahir dan batin. Diterjemahkan oleh: Laurencia Lou. | |||
Artikel Terkait
Gempa Palu dan Lombok: Bantuan Bagi Korban Gempa di Palu dan Lombok
05 Oktober 2018Mendengar kabar duka gempa berkekuatan 7,4 skala Richter diikuti tsunami yang melanda Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat petang (28 September 2018), keesokan harinya relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi segera berkoordinasi untuk bergerak memberikan bantuan. Proses pemberian bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kepada para korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala terus dilakukan sejak keberangkatan relawan kloter pertama (1 Oktober 2018) yang memberikan bantuan di Makassar, Sulawesi Selatan maupun relawan kloter kedua (2 Oktober 2018) di Palu, Sulawesi Tengah.
Tiga bulan sebelumnya, gempa bumi berkekuatan 6,4 SR juga mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 29 Juli 2018 dan menimbulkan korban jiwa, dan ratusan orang luka-luka, serta merusak ribuan rumah di wilayah Lombok Timur dan Lombok Utara. Atas kejadian tersebut, Tzu Chi Indonesia memberikan bantuan langsung kepada para korban luka berat gempa Lombok berupa santunan biaya hidup.
Hidup Penuh Syukur di Tumpukan Sampah
29 September 2015 Relawan Tzu Chi memberikan perhatian kepada warga yang tinggal di sekitaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang pada Minggu, 20 September 2015. Dalam kesempatan tersebut relawan membagikan 150 paket bingkisan kepada anak-anak sekaligus belajar bersyukur dalam menjalani kehidupan.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bandung: Kunci Harapan dari Warung Muncang, Kota Bandung
20 Februari 2026Kunjungan Menteri PKP RI Maruarar Sirait bersama Wakil Ketua Tzu Chi Bandung dan relawan Tzu Chi ke Kelurahan Warung Muncang, Bandung Kulon, menjadi momen penuh makna bagi warga.










Sitemap