Suara Kasih: Memetik Hikmah dari Bencana dan Mensosialisasikan Pola Makan Vegetaris
Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News| Judul Asli:
Memetik hikmah dari bencana dan tidak bersikap lengah | ![]() | ||
| Saya sangat bersyukur karena Badai Tropis Trami telah melewati Taiwan dengan kekuatan ringan. Namun, pada pukul 02.40 dini hari tadi, ia menerjang Fujian, Tiongkok. Menurut laporan Badan Meteorologi, Badai Tropis Trami ini mendatangkan curah hujan yang tinggi. Semoga warga di sana bisa melewatinya dengan selamat. Kali ini, Badai Tropis Trami mendatangkan curah hujan yang tinggi. Kita jangan tidak percaya. Meski badai ini tidak langsung menerjang Filipina, tetapi dimulai dari Pulau Luzon hingga Manila, di semua wilayah itu telah turun hujan deras yang mendatangkan banjir. Di Pulau Luzon telah terjadi tanah longsor yang mendatangkan bencana besar. Begitu juga dengan di Manila. Sebagian besar Kota Manila tergenang banjir. Kemarin, begitu hujan reda, insan Tzu Chi langsung bergerak untuk mengunjungi tempat penampungan sementara. Sungguh, ada banyak sekali orang yang mengungsi di beberapa tempat penampungan. Insan Tzu Chi segera membagikan beras, selimut, baju bekas, roti, dan makanan hangat kepada mereka. Para relawan menghabiskan waktu seharian untuk menyalurkan bantuan, melakukan survei bencana, dan memberikan penghiburan. | |||
| |||
Saya sungguh tersentuh melihat berbagai lembaga pemerintah sudah mulai melakukan antisipasi badai sebelum badai menerjang. Baik anggota militer, polisi, tim pemadam kebakaran, Perusahaan Listrik Taiwan, maupun Perusahaan Air Taiwan, semuanya sangat bersungguh hati melakukan antisipasi badai untuk melindungi warga. Mereka membersihkan selokan dan memotong pohon yang ada di jalan. Para tentara juga turut melakukan antisipasi badai. Melihat mereka sangat serius melakukan antisipasi badai, hati saya sungguh merasa tenang. Walaupun sekarang badai sudah berlalu, tetapi kita juga tidak boleh menganggap remeh dan mengabaikannya. Bagi warga yang tinggal di daerah pegunungan ataupun di dataran rendah, hendaknya tetap bersikap waspada. Janganlah kita bersikap lengah karena berpikir badai sudah berlalu. Sungguh, kita harus meningkatkan kewaspadaan setiap saat. Janganlah kita terlalu dekat dengan wilayah perairan. Dari siaran berita, saya melihat ada orang tua yang membawa anak mereka yang masih kecil untuk melihat ombak di tepi laut. Mereka sungguh berani. Jika terjadi sesuatu, bukankah mereka akan memboroskan sumber daya masyarakat? Mereka bukan hanya mencelakai diri sendiri, tetapi juga memboroskan sumber daya masyarakat. Regu penyelamat juga harus menempuh bahaya demi menolong mereka. Saat peringatan badai dikeluarkan, kita hendaknya melakukan antisipasi sebaik mungkin. Kita hendaknya tinggal di rumah, berdoa dengan tulus,dan memanfaatkan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga. Bukankah begini lebih baik? Janganlah kita keluar rumah atau pergi mendaki gunung. Di wilayah pegunungan sangat tinggi. Ini karena meski hujan sudah reda, tetap ada kemungkinan terjadi tanah longsor. Karena itu, kita harus menjaga keselamatan, menjaga pikiran, dan membangkitkan ketulusan. | |||
| |||
Karena itu, Buddha merasakan sukacita. Tanggal 15 bulan 7 Imlek adalah hari sukacita bagi Buddha. Buddha sangat bersukacita melihat para Murid-nya telah memahami kebenaran tertinggi dan memperoleh kesadaran. Jadi, bulan 7 Imlek adalah bulan penuh berkah. Inilah yang terjadi pada 2.000 tahun lebih lalu. Sekarang, kita harus lebih giat mensosialisasikan makna bulan 7 penuh berkah ini. Kita juga harus mensosialisasikan pola makan vegetaris, mengimbau warga agar tidak membunuh hewan dan harus menghormati kehidupan. Dengan menghormati kehidupan, dan saling berinteraksi dengan harmonis, bukankah akan mendatangkan berkah? Namun, saya melihat media massa memberitakan bahwa banyak orang membunuh hewan untuk dijadikan persembahan dan membakar kerta sembahyang di bulan 7 Imlek. Membunuh adalah perbuatan buruk, mana mungkin mendatangkan berkah? Karma buruk akibat membunuh sangat menakutkan. Karma buruk ini tak akan terkikis sebelum kita menerima konsekuensinya. Kita juga bisa melihat bencana akibat ulah manusia. Konflik yang diakibatkan oleh manusia ini menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa dan banyak keluarga terpecah belah. Ini semua terjadi akibat pikiran manusia yang tidak selaras dan tidak sadar. Akibatnya, bencana terjadi silih berganti dan unsur alam pun menjadi tidak selaras. Unsur angin, air, api, dan lain-lain, menjadi tidak selaras. Semuanya menjadi tidak selaras. Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan, mawas diri, dan berhati tulus. Kita harus terus mensosialisasikan bulan 7 Imlek adalah bulan penuh berkah. Di bulan 7 Imlek bulan penuh berkah ini, kita harus mengimbau setiap orang untuk melindungi makhluk hidup, berbakti, dan berbuat baik. Jika setiap orang mempunyai keyakinan benar dan pandangan benar, saya yakin kehidupan masyarakat akan semakin harmonis dan tenteram. (Diterjemahkan Oleh: Karlena Amelia ) | |||
Artikel Terkait
Internasional : 1.900 Pasien di Sri Lanka
03 September 2010 Sebuah tim medis yang terdiri dari 130 relawan dari Malaysia dan Singapura mengadakan kilnik gratis selama tiga hari di sebuah daerah pegunungan terpencil di Sri Lanka, untuk menangani 1.882 pasien.
Topan Haiyan: Mengetuk Hati Para Guru
18 November 2013 Pada tanggal 15 November 2013, guru-guru TK Tzu Chi School juga melakukan penggalangan dana seusai meeting yang mereka lakukan. Sebanyak 5 orang guru diantaranya merupakan guru yang berasal dari Filipina.Dari Bencana Hati menjadi Cinta Kasih
23 September 2016Pelatihan Relawan Abu Putih digelar di Plaza Summarecon, Jakarta Utara oleh relawan Tzu Chi He Qi Timur yang diikuti sebanyak 62 relawan. Banyak sharing yang diperoleh relawan selama pelatihan mulai daribudaya humanis, sejarah awal Tzu Chi, hingga sharing pengalaman berjalan di jalan Tzu Chi.










Sitemap