Suara Kasih : Mendidik dengan Tepat
Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News| Judul Asli: Membimbing Generasi Muda dengan Cara yang Tepat Siswa-siswi harus dibimbing dengan cara yang tepat dan bijaksana | ![]() | ||
“Kalian memberi bantuan bagi anak-anak yang tidak kalian kenal, membuat kami merasakan kehangatan, dan membawa senyuman serta kebahagiaan. Kondisi keluarga (yang kurang mampu) membuat kami kesulitan memperoleh pendidikan. Bantuan Tzu Chi sungguh berarti bagi kami,” kata salah seorang murid. Bangga Menjadi Donatur Tzu Chi “Saya tahu bahwa insan Tzu Chi sering membantu anak-anak di La Romana, membantu warga setempat, dan menolong para korban bencana seperti di Haiti dan Tiongkok. Saya bangga menjadi donatur Tzu Chi,” kata donatur Tzu Chi lainnya. Saat melihat penderitaan di dunia setiap hari, kita sering berkata bahwa dengan begitu kita akan menyadari berkah yang dimiliki. Jika manusia tak menyadari adanya penderitaan, mereka akan terjerumus dalam kesesatan dan menjalani hidup dengan semaunya. “Mari kita sambut Paman Lai. Selamat pagi, Paman, Amitabha,” kata relawan Tzu Chi kepada anak-anak yang berkumpul. “Setelah kertas-kertas dipilah, maka akan dapat didaur ulang. Saya belajar banyak dari Paman Lai. Meski memiliki keterbatasan fisik, beliau tetap mau membantu orang lain,” kata relawan lainnya. | |||
| |||
Mensosialisasikan Kata Perenungan Kepada Generasi Muda Dengan alasan hak asasi manusia, mereka tak bersedia mendengarkan orang lain. Saya pun menjawab, “Bukan mereka tak mau menerima, melainkan Anda belum menemukan cara untuk mengajarkannya kepada mereka. Anda mungkin tak cukup sabar dan teguh.” Ia pun menambahkan bahwa ia tak tahu cara memulainya. Saya menjawab, “Bisa.” Lihatlah, para insan Tzu Chi, mereka datang ke sekolah, melakukan pendekatan kepada para siswa, dan berbagi tentang kisah orang-orang yang menderita akibat bencana alam maupun kesulitan ekonomi lewat tayangan video. Cara ini akan dapat membangkitkan cinta kasih dalam hati mereka. Ketika cinta kasihnya terbangkitkan, mereka akan sungguh-sungguh tersadarkan. Jika tidak, mereka akan tetap tenggelam dalam kesesatan. Kita harus menggunakan cara yang tepat sesuai dengan watak dan kemampuan mereka. Setelah bepikir, ia menjawab, “Benar juga. Anak-anak zaman sekarang hidup terlalu nyaman, terutama karena jumlah anak yang lebih sedikit, orangtua terlalu memanjakan mereka. Akibatnya, mereka tak menyadari penderitaan di dunia.” Saya pun berkata, “Bodhisatwa sekalian, kalian pun harus lebih sungguh-sungguh memikirkan anak-anak kalian. Jika tidak mendidik siswa sekolah menengah maupun perguruan tinggi dan hanya mendidik siswa SD, maka akan terlambat.” | |||
| |||
Inilah yang saya katakan kepadanya. Seseorang lainnya berkata, “Master, setiap hari saya mendorong anak saya untuk menyisihkan uang dalam celengan.” Ia memulainya dari diri sendiri. Karena berprofesi sebagai seorang dosen, ia pun mengajak rekan-rekannya melakukan hal yang sama. Mereka pun bertanya kepadanya, “Bukankah baik jika hal ini juga disosialisasikan kepada para siswa?” Ia pun menjawab, “Jangan, mereka tidak punya banyak uang.” Saya pun langsung menambahkan, “Salah. Kita harus mendorong siswa bersumbangsih berapa pun nilainya. Meski hanya satu atau dua dolar, yang penting adalah membangkitkan cinta kasih mereka.” Setiap Hari Berniat Baik Celengan bambu ini terlihat istimewa karena terdiri dari empat ruas yang setiap ruasnya memiliki warna berbeda. Ketika masuk akademi tersebut, para siswa diberikan sebuah celengan bambu. Pada tiap akhir tahun ajaran, mereka akan memotong satu ruas dan menghimpun dana yang terkumpul. Kemudian, sang kepala sekolah bercerita kepada para siswa bahwa himpunan sedikit demi sedikit dana itu dapat digunakan untuk menolong orang lain. Mendengar cerita ini, dosen tadi berkata, “Benar juga, mengapa tak terpikir oleh saya? Saya selalu menganggap siswa meminta uang dari orang tua dan tidak memiliki uang sendiri.” Saya berkata, “Siswa zaman sekarang sangat konsumtif. Anda harus membimbingnya memakai uang dengan tepat agar dapat bermanfaat bagi orang lain.” Inilah cara kita membimbing orang dengan menggunakan Dharma. Kita harus membimbing mereka untuk tidak meremehkan sumbangsih yang kecil. Yang terpenting adalah niat. Bukankah Sutra Makna Tanpa batas berbunyi, “Meneteskan embun Dharma untuk meredam nafsu keinginan duniawi.” Kita harus “membuka pintu nirwana” dan “menghembuskan angin pembebasan”. Apakah artinya? Mengenai nirwana, banyak orang mengira bahwa nirwana adalah keadaan setelah mati. Sesungguhnya bukan. Nirwana adalah keadaan yang hening. Artinya adalah keadaan yang damai, tenang, dan penuh keharmonisan. Untuk mencapai keadaan tersebut, hati manusia harus lebih dulu disucikan. Ketika hati telah tersucikan, barulah kita disebut memperoleh pembebasan dan tidak lagi terganggu oleh berbagai kekotoran batin. Untuk itu, Dharma sangat dibutuhkan, bagaikan sumsum tulang yang diperlukan oleh penderita kanker darah untuk memproduksi sel darah baru. Inilah manfaat donor sumsum tulang. Sesungguhnya, untuk hidup sehat manusia harus memiliki darah yang bersih dan aliran darah yang lancar. Begitu pula agar kebijaksanaan bertumbuh, kita membutuhkan Dharma. Dengan demikian, barulah kebijaksanaan kita akan bertumbuh. Diterjemahkan oleh: Erni & Hendry Chayadi | |||
Artikel Terkait
Gathering Mahasiswa Karir Tzu Chi : Menuai Wawasan Baru
08 Desember 2014 Gathering program mahasiswa karir Tzu Chi yang ketiga diadakan di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara pada Minggu (7/12). Lebih dari 100 mahasiswa/i karir hadir dalam acara ini. Mereka berasal dari berbagai jurusan tahun pertama dan kedua. Turut hadir 30-an relawan pendamping.
Turut Merasakan Penderitaan Sesama
18 Agustus 2009 Bencana topan di Morakot, Taiwan mendatangkan simpati dari berbagai pihak. Sedikitnya terdapat 500 orang dikabarkan meninggal dunia dan ratusan lainnya hilang. Berita tentang hal ini pun sampai ke Indonesia dan mengetuk hati banyak orang untuk turut bersumbangsih. Hal ini pun terjadi di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Jawa Barat.Peresmian Jembatan Simpay Asih Sungai Cilaki
23 Desember 2015Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan sejak peletakan batu pertama pada 7 April 2015, proses pembangunan Jembatan Gantung Sungai Cilaki telah rampung dan diresmikan pada 18 Desember 2015, di Lapang, Kampung Haminten RT 01 / RW 08, Desa Panyirapan, Kec. Soreang, Kab. Bandung.










Sitemap