Sukacita Tur Aula Jing Si Anak Sekolah Minggu Vihara Buddha Jayanti Bekasi

Jurnalis : Sutini (He Qi Jakarta Pusat), Fotografer : Sutini, Susilawati (He Qi Jakarta Pusat)

Maria Fintje, relawan Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan, menjelaskan relief yang menggambarkan perjalanan Tzu Chi Indonesia. Melalui relief tersebut, anak-anak diperkenalkan pada berbagai kegiatan sosial Tzu Chi dalam menebarkan cinta kasih kepada masyarakat.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, sebanyak 11 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat berkumpul di lantai 1 Aula Jing Si, PIK, Jakarta, untuk menjalin jodoh baik dengan 80 anak Sekolah Minggu Vihara Buddha Jayanti Bekasi yang berusia 4 hingga 15 tahun. Anak-anak hadir bersama orang tua dan lima guru sekolah minggu.

Kemegahan dan keindahan bangunan Tzu Chi di Indonesia tidak hanya tercermin dari bentuk fisiknya. Di dalamnya juga terkandung nilai-nilai kebajikan yang berpedoman pada Dharma Buddha.

Cinta kasih dan welas asih yang besar dari pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen, kepada semua makhluk menjadi landasan kehadiran Tzu Chi di Indonesia dan berbagai negara di dunia. Pada dinding putih besar, terukir perjalanan Tzu Chi Indonesia. Di bagian tengah terdapat gambaran rumah Master Cheng Yen. Relief tersebut juga menggambarkan kedatangan relawan Taiwan dengan kapal ke Indonesia untuk menebarkan benih cinta kasih melalui berbagai kegiatan sosial, mulai dari pendidikan, bakti sosial kesehatan, pelestarian lingkungan, hingga budaya humanis. Seiring perjalanan waktu, banyak Bodhisatwa Indonesia turut bergabung dengan Tzu Chi.

Ajaran Master Cheng Yen serta Visi dan Misi Tzu Chi menjadi pedoman para relawan dalam menjalankan kegiatan. Langkah dan tindakan nyata mereka dalam membantu masyarakat diabadikan melalui poster dan foto di sepanjang jalur landai atau ramp yang menghubungkan setiap lantai. Poster dan foto tersebut menceritakan berbagai kegiatan dan program Tzu Chi, termasuk celengan bambu dan rumah susun.

Lina, salah satu peserta Sekolah Minggu Vihara Buddha Jayanti Bekasi, merasa senang dapat mengunjungi Aula Jing Si untuk pertama kalinya. Ia yang sebelumnya hanya melihat Tzu Chi melalui YouTube kini berkesempatan mengenal ajaran Buddha secara langsung di Aula Jing Si.

Anak-anak menyimak penjelasan relawan mengenai sejarah dan perjalanan Tzu Chi Indonesia di Memorial Expo Hall. Berbagai foto dan benda yang dipamerkan membantu mereka mengenal wujud nyata kepedulian relawan dalam membantu masyarakat.

Kunjungan kemudian berlanjut ke Aula Jiang Jing Tang Da Ting. Di bagian tengah aula besar ini terdapat gambar Buddha dengan tangan kanan menjulur ke bawah menyentuh bumi.

"Bagus ya disini, saya pernah melihat di youtube, baru pernah ke Tzu chi, happy banget karena diajarin agama Buddha,” tutur Lina (7), salah satu peserta.

Anak-anak juga mengunjungi Memorial Expo Hall, area yang memperkenalkan sejarah dan perjalanan kegiatan Tzu Chi Indonesia. Foto-foto besar yang terpampang di dinding memperlihatkan tindakan nyata para relawan dalam membantu masyarakat luas dengan dedikasi dan ketulusan.

Saat memasuki area tersebut, relawan terlebih dahulu memperkenalkan sosok Master Cheng Yen dan guru beliau. Relawan juga menjelaskan tiga peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Tzu Chi, yaitu bercak darah, perbincangan dengan tiga biarawati Katolik, serta kisah 30 ibu rumah tangga yang bersama Master Cheng Yen merintis Yayasan Buddha Tzu Chi pada 1966.

Di ruangan berbentuk setengah lingkaran itu terdapat replika meja dan buku Master Cheng Yen, serta berbagai kata perenungan beliau di dinding. Dipamerkan pula hasil daur ulang, seperti botol plastik yang diolah menjadi selimut dan tempat tidur plastik lipat untuk korban bencana alam.

Anak-anak mendengarkan penjelasan relawan mengenai replika rumah Master Cheng Yen di lantai 4 Aula Jing Si. Rumah berukuran kecil dengan perabot sederhana tersebut memperkenalkan keteladanan beliau dalam menjalani kehidupan yang bersahaja.

Anak-anak mengikuti penjelasan relawan dengan leluasa. Sesekali, mereka memegang hasil kerajinan tangan yang terbuat dari plastik bungkus kopi. Wajah mereka tampak terpukau. Suasana terasa hening saat mereka menyimak penjelasan dan mengikuti arahan relawan.

"Seru banget, excited, tempatnya mewah-mewah banget, “kata Nara, siswa kelas 5 SD yang mengikuti kegiatan.

Saat berada di lantai 2 Aula Jing Si, Maria Fintje, relawan Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan, menunjukkan pintu tembaga besar yang disebut Pintu Filosofi Guru. Karya seorang seniman asal Vietnam ini terdiri atas empat pintu tembaga besar dengan ukiran gambar Master Cheng Yen sedang membabarkan Dharma, disertai kutipan Sutra Tanpa Batas.

Di lantai 4, anak-anak bersorak gembira dan menikmati suasana di area luar, tempat replika rumah Master Cheng Yen berada. Rumah tersebut sederhana dan tidak besar, tanpa lampu, serta memiliki dua ruang dengan perabot sederhana. Replika ini menggambarkan kesederhanaan tempat tinggal Master Cheng Yen.

Keteladanan Master Cheng Yen dalam membina diri dan menjalankan kedisiplinan yang teguh menjadi landasan tumbuhnya Tzu Chi. Berawal dari satu, benih kebajikan terus berkembang hingga menjangkau berbagai negara.

Anak-anak Sekolah Minggu Vihara Buddha Jayanti Bekasi mengikuti tur Aula Jing Si dengan penuh sukacita. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan nilai cinta kasih, ketulusan, dan kepedulian kepada sesama sejak dini.

Kegiatan tur Jing Si berakhir pada pukul 14.00. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan nilai-nilai kebajikan kepada anak-anak sejak dini. Peran orang tua dan guru sangat penting dalam memberikan bimbingan agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan saat mereka berinteraksi dengan masyarakat luas.

Benih cinta kasih, ketulusan, dan kepedulian kepada sesama perlu terus dipupuk agar kelak anak-anak dapat turut melanjutkan semangat kebajikan Tzu Chi Indonesia dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

Maria Fintje pun menyampaikan harapannya setelah mendampingi kunjungan tersebut. “Sangat terkejut yang datang datang berkunjung adalah anak-anak kecil, terpikir sebelumnya orang dewasa. Semoga apa yang telah Tzu Chi lakukan bisa di ajarkan agar benih-benih kebaikkan tumbuh pada diri mereka dengan pendampingan guru sekolah minggu,” ungkap Maria Fintje.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Bersama Bersihkan Rumah, Bersama Bahagiakan Hati

Bersama Bersihkan Rumah, Bersama Bahagiakan Hati

18 Juni 2018

Minggu siang, 10 Juni 2018, relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Barat 1 membersihkan satu bagian rumah batin Tzu Chi yakni Gan En Lou lantai 7 yang berisikan 30 kamar tidur. Jika ada kegiatan besar, seluruh relawan di penjuru Indonesia menginap di bagian ini.

Wujud Kasih Menyambut Saudara Jauh

Wujud Kasih Menyambut Saudara Jauh

15 Oktober 2015
Mengawali bulan Oktober, 24 relawan Tzu CHi Hu Ai (komunitas) Kelapa Gading, 3 relawan Hu Ai PGC, Jakarta Timur, dan 20 relawan Tzu Chi binaan kampung Cilincing, Jakarta Utara melakukan kegiatan bersih-bersih Aula Jing Si, Tzu Chi Center.
Menyatukan Energi Positif di Aula Jing Si Bandung

Menyatukan Energi Positif di Aula Jing Si Bandung

05 November 2019

Setelah 15 tahun Tzu Chi Bandung bersumbangsih membantu masyarakat kurang mampu, akhirnya insan Tzu Chi Bandung memiliki rumah sendiri. Hadirnya rumah batin insan Tzu Chi di Bumi Pasundan ini mendapat dukungan dari seluruh insan Tzu Chi Indonesia. “Aula Jing Si adalah tempat menggalang Bodhisatwa, tempat untuk menyucikan hati manusia. Semoga adanya Aula Jing Si ini dapat membantu lebih banyak orang, melakukan lebih banyak hal lagi dan memberi perhatian kepada orang yang membutuhkan,” kata Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia.

Orang yang selalu bersumbangsih akan senantiasa diliputi sukacita. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa dilimpahi berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -