Grace Kelly, satu dari sepuluh Tzu Shao yang akan lulus SMA tahun ini, sangat berterima kasih kepada orang tuanya yang telah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa. Grace merasa Tzu Chi adalah rumah kedua Grace.
Relawan Tim Pendidikan Tzu Chi Pekanbaru mengadakan gathering penutupan kelas Budi Pekerti tahun ajaran 2025/2026 pada Minggu, 3 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri 300 peserta yang terdiri atas 76 Xiaopusa, 71 Huobanmen, 106 papa mama, dan 47 relawan. Meiliana membuka acara gathering dengan mengajak seluruh hadirin menyaksikan video kilas balik Kelas Budi Pekerti Tahun Ajaran 2025/2026.
Menyambut Hari Ibu Sedunia, gathering kali ini mengusung tema “Berbakti kepada Orang Tua” yang dibawakan oleh Mettayani dengan mengutip kata perenungan Master Cheng Yen, “Berbakti kepada orang tua yang sesungguhnya adalah dengan membangun kemampuan diri dan menjalankan prinsip kebenaran.”
“Untuk berbakti kepada orang tua tidaklah sulit,” ujar relawan Mettayani. “Membantu mama mencuci piring,” sahut Huobanmen Arthur dari Tzu Shao Ban, yang tahun ajaran ini menjadi tahun terakhirnya di Kelas Budi Pekerti karena akan lulus SMA.
Xiaopusa Qin Zi Ban Besar memperagakan lagu dan isyarat tangan bertema “Gui Yang Tu” (Lukisan Anak Kambing Berlutut) di depan relawan, dan orang tua murid.
Acara dilanjutkan dengan penampilan menyanyi oleh Xiaopusa Qin Zi Ban Kecil yang membawakan empat lagu medley, yaitu “Shi Shang Zi You Mama Hao”, “Kasih Ibu”, “I Love You Mommy”, dan “Papa Mama Xie Xie Ni”. Selanjutnya, Xiaopusa Qin Zi Ban Besar menampilkan lagu isyarat tangan “Gui Yang Tu” atau “Lukisan Anak Kambing Berlutut”.
Kemudian, ada sesi berbagi ungkapan kasih sayang kepada orang tua dari 10 Huobanmen Tzu Shao Ban yang lulus SMA pada tahun ajaran ini. Salah satunya, Grace Kelly Wijaya, mengungkapkan rasa syukurnya kepada orang tua dan para relawan Tzu Chi.
“Saya sangat gan en kepada mama yang sudah melahirkan dan membesarkan saya. Saat sakit, mama selalu ada; saat susah, mama juga selalu ada. Gan en juga kepada papa yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, serta kepada Shigu dan Shibo yang membuat saya merasa Tzu Chi adalah rumah kedua. Selama di Kelas Budi Pekerti, saya belajar banyak, terutama cara berbakti kepada orang tua. Dulu waktu kecil saya suka melawan mama, tetapi sejak masuk Tzu Chi saya belajar menjadi lebih baik dan lebih banyak membantu mama,” tutur Grace.
Relawan pendamping kelas Budi Pekerti membagikan suvenir kepada Huobanmen yang akan lulus SMA tahun ini.
Hal senada juga disampaikan Huobanmen Triyana Elissa yang telah mengikuti Kelas Budi Pekerti Tzu Chi sejak kelas 4 SD. Lissa mengungkapkan rasa syukur kepada papa dan mama yang selalu merawat serta membimbingnya. Ia juga berterima kasih kepada para shigu dan shibo yang telah membantunya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih memahami arti berbakti kepada orang tua.
Sementara itu, Huobanmen Fanny Ariella Cornelia berbagi pengalaman dan rasa syukurnya selama mengikuti Kelas Budi Pekerti.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada papa mama yang telah mendaftarkan saya. Tahun ini saya akan kuliah. Saya juga sangat berterima kasih kepada shigu dan shibo yang telah membimbing saya selama di Tzu Shao. Jika tidak ada mereka, mungkin saya bisa kehilangan arah dan tidak belajar menjadi pribadi yang lebih baik seperti sekarang,” ungkap Fanny.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan tim isyarat tangan melalui lagu “Mama”, kemudian disusul penampilan flash mob lagu “Shou Qian Shou (Bergandengan Tangan)” oleh Huobanmen Tzu Shao Ban.

Lina Tjoandra, yang memiliki tiga anak, belajar di Kelas Budi Pekerti Tzu Chi, memberikan pengalaman perubahan yang baik terhadap tiga orang anaknya yang belajar di kelas budi pekerti, Grace sangat bersyukur Tzu Chi membuka kelas budi pekerti.
Selanjutnya, sesi berbagi juga diisi oleh para orang tua murid. Lina Tjoandra, salah satu orang tua murid, mengungkapkan rasa syukurnya karena ketiga anaknya mengikuti Kelas Budi Pekerti Tzu Chi.
“Saya sangat bersyukur ketiga anak saya, Felissa Hanson, Clarissa Hanson, dan Livietta Hanson, bisa belajar di Kelas Budi Pekerti. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak dan bersyukur ada wadah seperti Tzu Chi yang mendidik anak-anak dalam lingkup budi pekerti. Di sekolah, pendidikan karakter belum terlalu banyak didapatkan, sehingga kami sebagai orang tua merasa sangat terbantu.
Anak-anak diajarkan berbakti kepada orang tua dan memiliki bekal yang baik untuk masa depan. Gan en kepada seluruh tim pendidikan yang sudah mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kami semua,” ungkap Lina penuh haru.
Rahmah, orang tua dari Arthur Prawiron, juga menyampaikan perubahan positif yang dirasakan anaknya sejak mengikuti kegiatan Tzu Chi.
“Arthur mengalami banyak perubahan sejak bergabung dengan Tzu Chi. Ia menjadi lebih aktif dan mampu berkomunikasi dengan baik. Saya melihat Tzu Chi sangat mengutamakan cinta kasih tanpa melihat kondisi anak seperti apa. Semua dibimbing dengan sepenuh hati. Arthur kini aktif mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi, seperti Budi Pekerti, Isyarat Tangan, dan kegiatan lainnya. Dengan begitu, ia bisa memanfaatkan waktunya dengan lebih baik,” tutur Rahmah sambil tersenyum.
Relawan Tzu Chi pendamping kelas Budi Pekerti memberikan souvenir kepada semua murid. Ada 300 peserta yang terdiri atas 76 Xiaopusa, 71 Huobanmen, dan 106 papa mama yang hadir dalam gathering penutupan kelas Budi Pekerti tahun ajaran 2025/2026.
Di penghujung acara, pembawa acara Meiliana menyampaikan informasi mengenai pendaftaran Kelas Budi Pekerti tahun ajaran baru. Acara kemudian dilanjutkan dengan pesan cinta kasih dari Mulyady Salim selaku Ketua He Qi Pekanbaru dan ditutup dengan sesi foto bersama serta pembagian suvenir.
Editor: Anand Yahya