Tanam Padi untuk Kemandirian
Jurnalis : Himawan Susanto, Fotografer : Himawan Susanto
|
| ||
Belajar Bertani Saat itu, Nana juga mengatakan bahwa dalam menanam benih di sawah kita juga harus teliti dan sesuai dengan sudut-sudut penanaman yang telah disiapkan. Apa pelajaran yang ia dapat hari itu? “Bagi kita yang tadinya cuma bisa makan nasi aja, sekarang paham ternyata susah banget nanem padi itu,” katanya lagi. Makna lainnya bagi Nana adalah dapat menjalin komunikasi dengan para petani, jadi lebih banyak tahu, dan bertanya kepada mereka. “Kita yang biasanya lewat dan lihat petani biasa aja sekarang dapat berempati dan merasakan apa yang dirasakan para petani. Di tengah sawah yang terik banget kaya begini ternyata itu susah,” ujarnya berempati.
Ket : - Dua santri dari Pesantren Nurul Iman ini tampak sedang mempersiapkan benih padi yang akan ditanam. (kiri) Ketika menanam padi di sawah, Nana juga sempat diajarkan oleh Mamad Rahmat, seorang anggota Sispandu Karawang. “Emang gampang-gampang susah, karena kita dari biji sampe jadi (padi) harus menanam dengan teratur dan rapi. Karena ini buat dimakan. Nana bagus juga mengikuti sudah ada yang di lapangan,” kata Mamad Rahmat. Mendengar hal tersebut, Nana pun lantas berujar, “Bapaknya juga komunikatif, mau ngajarin dan tidak diacuhin. Pelajaran hari ini pastinya semakin tinggi kita seharusnya semakin merunduk seperti padi. Jangan menyepelekan profesi yang namanya petani.” Sawah Wujud Kemandirian Bagi pesantren, sawah di Karawang ini memang telah sejak lama dipersiapkan untuk mengimbangi konsumsi beras yang dibutuhkan setiap bulannya. Jika dahulu dikelola sendiri, sekarang bekerja sama Tzu Chi. Untuk pengelolaannya, dimulai dari tahap penggarapan, pembibitan hingga panen tiba. “Diharapkan dengan adanya penanaman padi ini, 50 % kebutuhan pangan para santri dan santriwati pesantren dapat terpenuhi,” kata ustad lagi. Sebenarnya, bagi para santri di pesantren mengelola sawah dan menanam padi bukanlah yang pertama. Sebelumnya, mereka juga telah menanam padi di pesantren. Hal itu dilakukan oleh para santri dalam mata pelajaran kewirausahaan. “Hasilnya cukup memuaskan walau skalanya juga masih kecil,” katanya. Maka tak heran, para santri yang terlibat dalam penanaman padi pagi itu sangat mendukung walau banyak kendalanya. Dari yang tadinya hanya belajar di kelas sekarang harus di sawah. “Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya,” imbuhnya.
Ket : - Bagi Nana (bertopi), menanam padi di sawah adalah pengalamannya yang pertama. Hari itu, ia menyadari betapa tidak mudahnya menjadi seorang petani. (kiri). Solusi Jangka Panjang Karena itu, terkait dengan managemen dan teknologi pertanian, Yayasan Buddha Tzu Chi kemudian menggandeng PT Sumber Alam Sutera (SAS) sebagai mitra teknis dalam hal bagaimana menghasilkan panen yang baik. “Kita coba kelola dan tularkan kepada para santri semuanya. Dan nantinya mereka dapat menanamnya sendiri. Apa yang hendak mereka capai adalah untuk kemajuan pesantren,” ujar Winarso. Winarso juga mengatakan bahwa Tzu Chi juga berharap para santri ke depannya akan lebih bisa mandiri dan giat memajukan pesantren. Dalam program kemandirian pangan ini, rencananya Tzu Chi akan melakukan pendampingan minimal 2 kali panen. “Khawatir kalau satu kali tidak mateng,” tandas Winarso. | |||
Artikel Terkait

Memperkenalkan Budaya Humanis
03 November 2009 Dalam kunjungan itu, sebanyak 66 jemaat diperkenalkan secara singkat dan luas tentang misi dan visi Tzu Chi. Cinta kasih dan bersyukur tidak hanya diberikan kepada sesama umat manusia, tetapi juga kepada bumi tempat manusia berpijak. Tzu Chi melakukannya dengan menerapkan pelestarian lingkungan.
Suara Kasih : Menggunakan Dharma untuk Mengobati Batin
09 Januari 2014 Kita harus giat membina ajaran baik untuk menyucikan hati manusia. Kita harus terlebih dahulu menyucikan hati sendiri. Setelah melakukannya sendiri, kita baru bisa membimbing orang lain untuk melakukannya.