Tangan Terampil Bersumbangsih, Hati Ikut Bertumbuh

Jurnalis : Silviani Hendra (He Qi Jakarta Utara 2), Fotografer : Charlie, Brigitte Laorence (He Qi Jakarta Utara 2)

Sebanayk 25 relawan mengikuti Training Relawan Abu Putih 4 bertema Memupuk Berkah dan Kebijaksanaan yang diadakan oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 2, Minggu, 18 Oktober 2026.

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 2 mengadakan Training Relawan Abu Putih 4 (AP4) bertema Memupuk Berkah dan Kebijaksanaan pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kegiatan ini diisi dengan empat materi, yaitu Bersumbangsih, Membina Diri; Refleksi Disiplin Diri melalui 10 Sila Tzu Chi; Zhen Shan Mei; serta Budaya Humanis dan tata krama, dilengkapi talkshow bersama dua Wakil He Qi Jakarta Utara 2. Melalui kegiatan ini, relawan diajak untuk terus membina diri, memupuk berkah dan kebijaksanaan, serta menerapkan nilai-nilai Tzu Chi dalam kehidupan sehari-hari.

“Apakah saya sudah bertumbuh? Tapi saya masih gini-gini aja.” Pertanyaan yang diungkapkan Yusuf Zainal Mutaqin, salah satu peserta, menjadi refleksi dalam mengikuti training ini. Ia merenungkan pertanyaan pembuka yang mengajak relawan melihat kembali niat awal bergabung dengan Tzu Chi, apakah hanya ingin berbuat baik, atau juga belajar memperbaiki diri?

Dalam materi “Bersumbangsih, Membina Diri”, Yusni mengingatkan bahwa semakin terampil seorang relawan dalam berkegiatan, semakin penting pula menjaga pertumbuhan batinnya. “Jangan sampai tangan kita semakin terampil bersumbangsih, tetapi hati kita tidak ikut bertumbuh,” pesannya.

Ujiannya bisa datang dalam situasi sederhana seperti merasa sudah berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin, tetapi masih dikoreksi relawan lain. Menyelesaikan tugas dan memberi manfaat memang memupuk berkah. Namun, kebijaksanaan baru tumbuh ketika koreksi itu didengarkan, dipelajari, dan perasaan dikelola. Materi itu lalu mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman, ketika dikoreksi, apakah kita lebih sibuk membela diri, atau mencoba memahami apa yang bisa dipelajari?

Dipandu Yusni (kanan), Sugi Harto Wijaya (kiri) dan Sani Hamir (tengah) berbagi pengalaman lebih dari sepuluh tahun menjadi relawan dalam talkshow “Bukan Hanya Berapa Lama Kita Melangkah, tetapi Bagaimana Kita Bertumbuh”.

Dalam sesi “Refleksi Disiplin Diri melalui 10 Sila Tzu Chi”, Lina Hon mengajak para peserta mengenali tekanan kehidupan modern, dari tekanan waktu hingga tuntutan menyeimbangkan banyak peran, yang kerap membuat hati sulit tenang.

Yusni menuturkan kegiatan, interaksi, dan Dharma menjadi sarana untuk memupuk berkah dan kebijaksanaan secara bersamaan. Berkah dipupuk dengan bersyukur dan menghargai apa yang dimiliki. Kebijaksanaan tumbuh dari hal kecil, bertoleransi saat berbeda pendapat, menenangkan perasaan sebelum bertindak, dan bekerja sungguh hati tanpa merusak keharmonisan antar relawan. Pengalaman panjang pun bukan alasan untuk merasa paling hebat. Relawan tetap perlu memeriksa niatnya tulus, atau sekadar ingin diakui.

Ujian berikutnya lebih halus karena datang dalam bentuk pilihan. Sesi “Refleksi Disiplin Diri melalui 10 Sila Tzu Chi” bersama Lina Hon berangkat dari keseharian yang akrab seperti terlalu banyak informasi, tekanan waktu, ekspektasi tinggi, hingga tuntutan menyeimbangkan banyak peran. Di tengah semua itu, hati dan pikiran mudah tidak tenang.

Peserta lalu diajak menimbang beberapa studi kasus. Salah satunya tentang seekor lovebird yang dibeli lalu dilepas ke alam bebas tanpa memikirkan dampaknya. Burung itu tidak bisa mencari makan sendiri, sementara alam bebas penuh predator. Yusuf menarik kesimpulan dari kasus ini. “Niat baik itu tidak selalu benar, harus mempunyai pengetahuan dan kebijaksanaan,” katanya. Tanpa melibatkan orang yang ahli, niat melepaskan justru bisa membunuh hewan itu, bertentangan dengan sila pertama, “Tidak membunuh makhluk hidup”.

Kasus lain menghadirkan godaan yang berbeda. Seorang relawan ditawari ikut taruhan dengan janji keuntungan besar. Ia berpikir, jika menang, sebagian uangnya dapat didanakan untuk membantu orang yang membutuhkan. Apakah tujuan yang baik selalu membenarkan cara yang digunakan? Kasus ini bersinggungan dengan sila ketujuh, “Tidak berjudi atau berspekulasi”. Memeriksa niat saja tidak cukup; caranya pun harus dijaga.

Sesi itu juga membuat Yusuf jujur pada diri sendiri. Ia mengaku masih melanggar lalu lintas, padahal sila kedelapan berbunyi “Mematuhi peraturan lalu lintas”. Menurutnya, jika sila terus diulas, insan Tzu Chi akan teringat setiap kali hendak melanggar. Disiplin diri ternyata diuji dalam pilihan sehari-hari, tidak hanya di tengah kegiatan.

Dalam sesi Zhen Shan Mei, Henry Tando menjelaskan Budaya Humanis (Ren Wen), mulai dari nilai yang diterapkan insan Tzu Chi hingga kebenaran, kebajikan, dan keindahan yang ditampilkan melalui Media Tzu Chi.

Tuntutannya kemudian naik satu tingkat. Dalam sesi Zhen Shan Mei, Henry menjelaskan Budaya Humanis dari dua sisi. Insan Tzu Chi menerapkan Gan En (bersyukur), Zun Zhong (menghormati), dan Ai (cinta kasih), sedangkan Media Tzu Chi menampilkan Zhen (kebenaran), Shan (kebajikan), dan Mei (keindahan). Zhen dimaknai sebagai keteladanan nyata dimana apa yang ditampilkan berangkat dari apa yang lebih dulu dijalani.

Keteladanan Budaya Humanis juga terlihat dari hal yang paling kasatmata, yakni sikap tubuh. Sesi Budaya Humanis dan tata krama bersama Lily Thang membahas posisi berdiri, anjali, berbaris, dan berbelok siku. Ia memberi contoh dari kegiatan amal dimana relawan yang bertolak pinggang atau tidak berdiri tegak dapat membuat para penerima bantuan, merasa tidak nyaman. Bagi Jane Rachel Sung, peserta lainnya, training ini memberinya pengetahuan tentang tata krama yang benar, nilai moral yang tepat, serta pengingat kembali akan visi dan misi Tzu Chi.

Lalu, seperti apa semua nilai itu dijalani ketika keadaan tidak sesuai harapan? Jawabannya tampak dalam talkshow “Bukan Hanya Berapa Lama Kita Melangkah, tetapi Bagaimana Kita Bertumbuh”, yang menjadi bagian dari materi pertama. Dua Wakil He Qi Jakarta Utara 2, Sugiharto Widjaja dan Sani Hamir, telah lebih dari sepuluh tahun menjadi relawan sejak bergabung pada 2012. Keduanya datang dengan niat sederhana untuk bersumbangsih dan berbuat baik. Seiring waktu, mereka mendapati bahwa menjadi relawan juga menjadi jalan belajar bagi diri sendiri.

Bagi Sani, pelajaran itu datang dari sebuah kunjungan kasih. Di sana ia bertemu seorang anak yang sejak lahir memiliki kelainan pada tulang punggung. Ia mengaku dulu mudah mengeluh dan banyak keinginan. Pertemuan itu membuatnya bercermin dan bersyukur dapat tumbuh dalam keadaan sehat, yang ia sebut jian ku zhi fu: melihat penderitaan orang lain, lalu menyadari berkah yang dimiliki.

Pengalaman Sugi membawa cerita kembali pada pertanyaan di awal. Ia pernah dipercaya menjadi PIC pembagian paket beras. Beban tanggung jawab itu, menurutnya, terasa lebih berat daripada beras yang dibagikan. Ia bertanya kepada relawan senior, lalu merangkum rencana kerja. Namun, pada hari pelaksanaan, sang senior mengubah alur yang telah ia susun.

Sugi mengaku sempat kesal. Di titik itu, pilihannya sama dengan pertanyaan di awal training: membela diri, atau belajar. Ia memilih menghargai pendapat seniornya dan menjalankan alur baru itu. Kegiatan justru berjalan lebih lancar. Dari situ ia belajar menurunkan ego. Sikap seperti inilah yang menumbuhkan semangat He He Hu Xie: he xin (sehati), heqi (harmonis), hu ai (saling mengasihi), dan xie li (bergotong royong).

Jane Rachel Sung (kiri) menceritakan kesannya mengikuti Training AP4 saat diwawancarai.

Cerita-cerita itu yang paling membekas bagi Jane. Bagian yang paling ia ingat adalah saat para relawan senior berbagi pengalaman. Training juga membuatnya lebih banyak berinteraksi dengan sesama shijie. “Mungkin seperti perasaan saling berbagi kenangan bersama shijie lain yang bisa selalu diingat,” ungkapnya.

Rasa syukur yang sama tumbuh pada Ali Shaleh Al Ayuubi, peserta lainnya. Ia menyebut materi training “sangat bisa menampar diri saya”. Sebelumnya, ia mengaku sering memikirkan dan mengeluhkan cobaan berat dalam hidupnya. “Setelah mengikuti pelatihan ini saya jadi lebih bersyukur atas nikmat yang saya punya dan banyak-banyak melihat ke bawah daripada melihat ke atas,” tulisnya. Ia juga merasa lebih bijaksana dalam menyikapi banyak hal, terutama berkah yang ia dapat.

Materi training ditutup dengan satu pertanyaan bagi setiap peserta, apa satu hal dalam diri saya yang masih ingin saya perbaiki? Lebih sabar, lebih rendah hati, lebih bersyukur, atau lebih mampu memahami orang lain. Yusuf menjawabnya dengan sebuah harapan. Ia ingin hatinya lebih bertumbuh dan rasa empatinya makin tinggi, sehingga ia berkegiatan bukan hanya karena melihat orang lain, tetapi benar-benar dari hati. Ujian sesungguhnya mungkin bukan di ruang training, tetapi pada kegiatan berikutnya, ketika sebuah koreksi kembali datang.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Mengubah Hati, Menggerakkan Tangan dan Menerangi Kehidupan dengan Welas Asih

Mengubah Hati, Menggerakkan Tangan dan Menerangi Kehidupan dengan Welas Asih

08 Juli 2025

Tzu Chi Batam mengadakan Pelatihan Relawan Abu Putih ke-3 di tahun 2025 pada Minggu, 29 Juni 2025. Pelatihan yang berlangsung di Aula Jing Si Batam ini diikuti 103 relawan.

Genggam Momen Saat Ini, Giat Bersumbangsih Selama Pandemi

Genggam Momen Saat Ini, Giat Bersumbangsih Selama Pandemi

08 September 2020

Untuk kedua kalinya, Tzu Chi Medan mengadakan pelatihan relawan abu putih di tahun 2020. Diadakan di Kantor Tzu Chi Medan, pelatihan diikuti oleh 54 peserta. Protokol kesehatan diterapkan secara ketat dalam pelatihan ini.

Membina Insan Tzu Chi Berbakat melalui Pelatihan

Membina Insan Tzu Chi Berbakat melalui Pelatihan

02 Juni 2023

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 1 mengadakan Pelatihan Abu Putih ke-3, di ruang Xi Shi Ting, Aula Jing Si, PIK, Penjaringan, Jakarta Utara pada Minggu, 28 Mei 2023. 

Cinta kasih tidak akan berkurang karena dibagikan, malah sebaliknya akan semakin tumbuh berkembang karena diteruskan kepada orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -