Tetap Bersumbangsih di Masa Pandemi

Jurnalis : Dwi Hariyanto (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Calvin, Dwi Hariyanto (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)


Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun melakukan kegiatan pengumpulan celengan bambu Tzu Chi di Jl. Nusantara dan Trikora, Tanjung Balai Karimun. Sebanyak 14 relawan ikut dalam kegiatan ini serta  menerapkan protokol kesehatan terkait Covid-19.

Pada Minggu, 17 Januari 2021, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan kegiatan pengumpulan celengan bambu Tzu Chi di sepanjang Jl. Nusantara dan Trikora, Tanjung Balai Karimun. Kegiatan pengumpulan celengan ini merupakan yang pertama kali dilakukan sejak masa pandemi Covid-19. Karena biasanya kegiatan tersebut dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat terkait Covid-19, setiap relawan harus mengenakan masker, selalu menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, dan setiap kelompok dibatasi orangnya. Para relawan pun di bagi menjadi 5 tim dan setiap tim berjumlah 3 orang.

Setelah briefing untuk tetap menjaga protokol kesehatan, kemudian relawan berangkat menuju ruko-ruko di sepanjang jl. Nusantara dan Trikora. Relawan mulai memasuki setiap ruko dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Karena pada masa pandemi ini banyak pemilik toko yang membatasi area masuk ke tokonya.


Setelah meminta izin, relawan mempersilahkan pemilik ruko dan toko menuangkan celengan bambu Tzu Chi.

Masa pandemi sekarang ini, semua kondisi menjadi berubah dengan cepat. Dampak terparah yang dirasakan dari pandemi ini adalah pada sektor perekonomian di masyarakat. Pembatasan aktivitas masyarakat, membuat perputaran perekonomian menjadi berubah drastis.

Begitu juga yang dirasakan oleh Asril (64) yang setiap harinya bekerja sebagai tukang sol sepatu. Pria yang lebih dari 40 tahun menyediakan jasa reparasi sepatu ini mengutarakan betapa sulitnya menjalani pekerjaannya selama masa pandemi Covid-19. “Sekarang ini sangat susah. Sebelum adanya Covid-19, biasanya kita dapat makan dan menabung. Sekarang kadang ada orang yang datang dan kadang juga tidak ada. Apalagi dulu, kalau ada orang Malaysia yang datang. Dapat tiga orang pelanggan saja sudah dapat untuk makan seminggu," ujarnya.

Walaupun mengalami masa sulit tetapi tidak menghalangi keinginan Asril untuk melakukan perbuatan baik. Ia tetap memasukkan uang ke dalam celengan bambu Tzu Chi setiap harinya. Beliau berharap dapat membantu sesama dan rejeki yang diperoleh akan semakin besar apabila telah membantu orang lain.


Asril (64), tukang sol sepatu dengan dua celengan bambunya. Penurunan ekonomi akibat Covid-19 tidak mengurungkan niatnya untuk bersumbangsih lewat celengan bambu Tzu Chi.

“Walaupun saya sendiri ini bukan orang yang mampu, tetapi setiap hari saya tetap memasukkan uang ke celengan. Kadang saya juga mengajak pelanggan saya untuk ikut berdana. Ya kalau kita sering membantu orang lain maka kita nanti juga akan mendapatkan yang lebih besar,” ungkapnya. Tentu saja apa yang dilakukan Asril ini seperti salah satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang berbunyi. “Beramal bukanlah hak khusus orang kaya saja, melainkan wujud kasih semua orang yang penuh ketulusan.”

Editor: Arimami Suryo A


Artikel Terkait

Pengumpulan Koin Cinta Kasih Tzu Chi Hospital dan Sharing Relawan

Pengumpulan Koin Cinta Kasih Tzu Chi Hospital dan Sharing Relawan

12 September 2022

Sebanyak 220 peserta dari seluruh divisi di Tzu Chi Hospital ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengumpulan koin cinta kasih yang ke-3 di tahun 2022 ini.

Menjadi Langkah Pertama

Menjadi Langkah Pertama

22 Januari 2016

Pada Tanggal 11 Januari 2016, relawan Tzu Chi Pekanbaru mengadakan Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi (SMAT). Kegiatan ini diadakan di sebuah perusahaan bernama Sejahtera General Houseware dan diikuti oleh 39 orang karyawannya.

Menjalin Jodoh dengan Bersumbangsih untuk Sesama

Menjalin Jodoh dengan Bersumbangsih untuk Sesama

01 Oktober 2014 Penuangan celengan bambu dilakukan oleh karyawan Bank Mandiri pada 25 September 2014. Dengan tulus mereka bersumbangsih tanpa melihat latar belakang dari masing-masing individu.
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -