Tidak Lagi Bocor

Jurnalis : Su Li (Tzu Chi Batam), Fotografer : Wangi (Tzu Chi Batam)
 
foto

Bertahun-tahun rumah Yulma bocor sehingga tidak nyaman untuk ditinggali.

Setelah melewati jalan kecil yang sepi dan penuh lubang di Komplek Sei Nayon RT 02 RW 12, Bengkong Kolam, Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong, Batam, dari kejauhan nampak sebuah rumah kecil yang dibangun sederhana dengan papan triplek yang sudah mengelupas. Papan-papan itu dapat dikatakan hanya sekadar untuk menutupi bagian dalam saja, tidak lagi berfungsi menghangatkan. Tiang rumahnya kebanyakan sudah keropos dimakan rayap, sedangkan atap rumahnya juga bocor di berbagai tempat.

Tik! Tik! Tik! “Ma, di sini ada air juga,” terdengar seruan anak-anak yang melihat air hujan setetes demi setetes membasahi lantai ruangan rumah mereka. Tanpa disuruh, mereka kemudian bergegas menuju dapur mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan. Seolah-olah mereka sudah hafal apa yang harus dilakukan setiap kali melihat air hujan menetes terus dari atap rumah yang bocor. Itulah yang dialami keluarga Yulma Nelly setiap kali hujan turun.

Sejak ditinggal Zulfahmi, suaminya yang pernah menjadi pasien Tzu Chi, Yulma harus bekerja keras membiayai kehidupan rumah tangganya. Beberapa tahun lalu, bebannya menjadi lebih ringan setelah biaya pendidikan anak-anaknya dibantu oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Perwakilan Batam. Pagi-pagi sebelum subuh, Yulma sudah harus menyiapkan makanan dan segala keperluan untuk anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah, setelah itu barulah ia pergi bekerja. Demikian rutinitas mereka setelah suaminya meninggal dunia karena sakit.

Bagi seorang ibu rumah tangga, kehilangan seseorang yang mencari nafkah keluarga dan “diwarisi” 4 anak yang masih kecil-kecil merupakan kenyataan yang menyesakkan. Namun sifat dan karakter Yulma yang tegar membuatnya tidak mudah menyerah pada nasib. Ia malahan belajar mensyukuri segala yang dimilikinya dalam hidup ini.

Ia mendapatkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan (cleaning service) di sebuah kantor swasta. Meski bagi sebagian orang pekerjaan ini jauh dari membanggakan, Yulma memandangnya sebagai rezeki satu-satunya. Dengan pekerjaan ini, di samping dapat menutupi biaya rumah tangga, ia juga bisa menjaga anak-anaknya agar tidak terlantar. ”Saya sangat bersyukur pada Allah karena pada saat begini, saya bisa mendapat pekerjaan ini,” ungkapnya. “Karena jarak tempat kerja dengan rumah dekat sehingga saya bisa memanfaatkan jam istirahat siang untuk pulang ke rumah, mengontrol anak-anak dan shalat siang,” lanjut Yulma saat dikunjungi relawan Tzu Chi.

Tanggal 3 Agustus 2008, relawan melakukan kunjungan ke rumah Yulma. Kebetulan saat itu sedang turun hujan. Ketika para relawan dan keluarga itu sedang duduk di lantai sambil berbincang-bincang, salah seorang relawan tiba-tiba merasakan bahwa bajunya basah. Setelah diperiksa dengan seksama, ternyata air itu berasal dari atap rumah Yulma yang bocor. Kemudian relawan pun melihat ke ruangan lain yang ternyata juga basah karena atap sengnya sudah banyak berlubang. Keadaan ini membuat relawan memutuskan untuk memberikan bantuan kepada keluarga ini.

foto  

Ket : - Relawan Tzu Chi bahu membahu mewujudkan rumah baru bagi Yulma yang lebih sehat dan indah.

Sedih Ketika Sesama Menderita
Sebuah Kata Perenungan dari Master Cheng Yen menyatakan bahwa, “Saat orang lain menderita saya ikut merasa sedih.” Kata-kata ini nampaknya tepat menggambarkan kondisi hati relawan Tzu Chi Batam saat itu. Melihat kondisi rumah peninggalan alm. Zulfahmi yang memprihatinkan, terutama ketika musim hujan, membuat hati relawan yang mengunjunginya tergugah dan sedih. Banyak di antara mereka yang kemudian menyumbangkan bahan bangunan semampu mereka, seperti papan, kayu, seng, paku, maupun cat. Saat relawan membongkar rumah Yulma, ada sebagian bahan yang masih cukup baik untuk dipakai kembali.

Berkat jodoh baik ini, pada tanggal 24 Agustus 2008, dengan meminta izin terlebih dahulu kepada Ketua RT setempat, relawan Tzu Chi mulai membantu perbaikan rumah keluarga ini. Kedatangan relawan disambut dengan senang hati oleh Ketua RT dan warga setempat. Di mata masyarakat sekitar dan para tetangga mereka, keluarga Yulma merupakan keluarga yang baik dan sopan. Para tetangganya juga ikut berharap keluarga ini mendapat keadaan yang lebih baik, namun karena keadaan ekonomi para tetangganya sendiri juga pas-pasan saja, mereka tidak dapat membantu apa-apa. Namun, rasa kebersamaan di antara mereka tetap terjalin dengan baik.

Saat melihat relawan Tzu Chi datang untuk mulai memperbaiki rumah, para tetangga datang bergabung untuk menyumbangkan tenaga mereka. Dengan semangat gotong royong semua orang bekerja bahu-membahu. Ada yang menggergaji, ada yang memaku, dan ada yang mengangkat papan. Para relawan perempuan yang meski tidak dapat membantu pekerjaan-pekerjaan berat tersebut, mereka berperan menyiapkan paku seng, ataupun memindahkan barang-barang. Ada juga yang mengenalkan Tzu Chi dan mengajarkan isyarat tangan kepada warga dan anak-anak.

Membantu orang lain seperti cermin ajaib yang membuat kita dapat bercermin terhadap kehidupan sendiri. Seorang relawan bernama Heri, yang pertama kali ikut kegiatan peduli kasih ini, mengaku terkesan. ”Saya sangat senang bisa membantu di sini. Dengan membantu orang lain hidup kita baru benar-benar berarti. Setiap ada kegiatan di Tzu Chi, saya mau ikut,” tuturnya dengan penuh harapan.

foto  

Ket : - Lubang-lubang diatap dan dinding rumah tersebut kini telah tertutup rapat dan memberi keteduhan kepada
            penghuninya.

Lebaran yang Istimewa
Usaha merenovasi rumah Yulma dan 4 anaknya berjalan selama hampir 1 bulan lebih. Hujan membuat pekerjaan sempat terhenti beberapa kali, namun akhirnya dapat diselesaikan menjelang Lebaran. Rasa syukur dan bahagia terlihat di wajah Yulma dan anak-anaknya sewaktu melihat rumah mereka yang “baru”.

Tanggal 28 September 2008, beberapa relawan datang untuk mengecat rumah sebagai tahap akhir dari semua pekerjaan renovasi. Dengan membawa 2 kaleng besar cat beserta kuas, mereka mulai mengecat bagian luar dan dalam rumah.

Menjelang sore pekerjaan pengecatan selesai. Rumah mereka sekarang telah menjelma menjadi sebuah rumah yang indah dan nyaman. ”Kami sangat beruntung sekali bertemu dengan Tzu Chi. Kami sangat bahagia dan berterima kasih banyak. Sekarang kami bisa menempati rumah yang nyaman dan tidak kebanjiran lagi,” ungkap Yulma dengan wajah bahagia dan penuh haru. Menurutnya Tzu Chi telah banyak sekali membantunya, berawal dari bantuan pengobatan suaminya, biaya sekolah anak-anak, hingga sekarang ada rumah yang nyaman untuk ditempati. Demikian halnya dengan anak-anaknya, senyum dan tawa ceria menghiasi wajah mereka. Lebaran tahun ini adalah yang teristimewa, dengan bergotong royong kita dapat berbagi kebahagiaan dengan lebih banyak orang.

 

Artikel Terkait

“Dohan Jangan Bikin Mama Sedih Ya”

“Dohan Jangan Bikin Mama Sedih Ya”

13 Maret 2009 Dohan yang baru menginjak umur 15 tahun di mata Afung belakangan ini hampir selalu dinilai negatif. Berada di batas pertumbuhan antara anak dan dewasa memang tidak mengenakkan, baik bagi Dohan sendiri maupun mamanya. Jati diri yang sedang dicari Dohan, seperti kata Lulu, sering membuatnya mencoba banyak hal, namun itu malah membuat mamanya terus-menerus khawatir. Ujungnya, mamanya sering mengomelinya.
Bantuan Gempa Serui, Papua

Bantuan Gempa Serui, Papua

25 Juni 2010
Hari itu juga, 20 relawan Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Biak yang dikoordinir langsung oleh Susanto Pirono Shixiong segera mempersiapkan berbagai macam barang bantuan. Dalam bantuan tanggap darurat ini, relawan membawa 2.000 karton mi instan, 1.000 karton air mineral ukuran 600 ml, 30 karton sardine, dan 250 terpal yang dapat digunakan sebagai tenda darurat.
Di Balik Hari Tzu Chi (Bagian 1)

Di Balik Hari Tzu Chi (Bagian 1)

23 Desember 2010 Masih lekat dalam ingatan, bagaimana gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang Kota Padang dan sekitarnya pada tanggal 30 September 2009 lalu. Ratusan rumah luluh lantak diguncang gempa. Belum lagi sarana dan prasarana umum seperti rumah sakit dan sekolah.
Orang bijak dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi yang diperlukan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -