Ketua Harian TIMA, drg. Fransiscus Xaverius Ganny memberikan sambutan sekaligus pesan cinta kasih kepada seluruh anggota TIMA.
Pada Minggu, 20 September 2026, Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bagi calon anggota TIMA tahun 2026. Acara yang dilaksanakan di Xi She Ting, lantai 1 Aula Jing Si, Tzu Chi Center PIK ini diikuti oleh 84 peserta yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, analis kesehatan, apoteker, tenaga teknis kefarmasian, ahli gizi, radiografer, optometris, perekam medis, dan fisikawan medis.
Ketua Harian TIMA, drg. Fransiscus Xaverius Ganny menuturkan, acara ini dilaksanakan dengan tujuan mengajak para tenaga kesehatan untuk bergabung sebagai relawan medis Tzu Chi. Dengan begitu, ilmu dan keterampilan yang mereka miliki dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama yang membutuhkan, khususnya mereka yang belum memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan kesehatan dengan mudah. Hal ini pun sejalan dengan pesan Master Cheng Yen yang sering beliau sampaikan kepada para tenaga medis Tzu Chi.
“Jika ada yang bertanya, ‘Dok, apakah untuk menjadi anggota TIMA kita harus punya banyak waktu?’ Jawabannya adalah: ‘Tidak.’ Karena kalau kita menunggu sampai memiliki banyak waktu, mungkin sampai pensiun pun waktunya belum tentu ada. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak waktu yang kita miliki, melainkan seberapa banyak cinta kasih yang dapat kita berikan melalui waktu yang ada,” tutur drg. Ganny.
Sebanyak 84 peserta yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, analis kesehatan, apoteker, tenaga teknis kefarmasian, ahli gizi, radiografer, optometris, perekam medis, dan fisikawan medis mengikuti Sosialisasi TIMA.
Namun, menjadi anggota TIMA bukan hanya tentang kesempatan menolong sesama dengan ilmu yang dimiliki. Di dalamnya juga ada kesempatan untuk belajar berbagi, menerima ladang berkah, dan menjalin jodoh baik. Sebab, dalam keseharian, memeriksa pasien mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Memberikan obat pun terasa seperti hal yang biasa. Bagi dokter gigi, mencabut gigi juga merupakan pekerjaan sehari-hari. Namun, ketika ilmu tersebut dibawa dalam pelayanan TIMA, ada hal lain yang turut diberikan, yaitu sentuhan humanisme kepada pasien. Bagi seorang pasien yang selama bertahun-tahun tidak mampu berobat, pelayanan kesehatan yang diberikan TIMA mungkin bukan sekadar pemeriksaan atau pengobatan, melainkan sebuah pengalaman yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Pada akhirnya, mungkin pasien lupa obat apa yang kita berikan. Mungkin mereka juga lupa siapa yang memeriksa mereka. Namun, mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Karena itu, mari kita melayani pasien bukan hanya dengan tangan dan ilmu, tetapi juga dengan hati. Kita datang dengan ilmu, kita melayani dengan cinta kasih, dan kita pulang membawa kebahagiaan,” pesan drg. Ganny.
“Semoga melalui TIMA, kita tidak hanya menjadi tenaga medis yang semakin terampil, tetapi juga menjadi manusia yang semakin memiliki rasa syukur, kepedulian, dan cinta kasih,” lengkapnya.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Master Cheng Yen bahwa cinta kasih tidak cukup hanya disimpan di dalam hati. Cinta kasih perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Bagi para tenaga kesehatan yang hadir dalam sosialisasi ini, kesempatan bergabung bersama TIMA menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan cinta kasih itu melalui ilmu, keterampilan, dan waktu yang mereka miliki.

Pasangan drg. Stephanus dan drg. Shirly Ismail memberikan sharing, dimana mereka menyempatkan datang jauh dari Bawen, Kabupaten Semarang untuk mengikuti Sosialisasi TIMA.
Seperti kisah sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter gigi ini. Mereka adalah drg. Stephanus dan drg. Shirly Ismail yang menyempatkan datang jauh dari Bawen, Kabupaten Semarang untuk mengikuti sosialisasi ini. Perjalanan mereka ke sini bukan hanya untuk mendengar tentang TIMA, tetapi juga menjadi keinginan yang sudah mereka pendam sejak beberapa waktu lalu.
Menurut drg. Stephanus, keinginan untuk bergabung menjadi anggota TIMA sudah ada sejak dua tahun lalu, tapi ia baru bisa berjodoh tahun ini saat mendapatkan informasi tentang adanya kegiatan baksos di Kabupaten Semarang pada bulan Juli. Baksos tersebut pun menjadi kesempatan bagi keduanya untuk memulai jodoh bersama TIMA. Selanjutnya pada bulan Agustus, mereka juga mengikuti kegiatan baksos pengobatan di Sekolah Bodhicitta, Tangerang.
Pasangan tidak takut menempuh perjalanan jauh hingga ratusan kilometer untuk bersungbangsih. Justru dari satu baksos ke baksos berikutnya itu, niat yang semula hanya ingin mencoba mulai tumbuh menjadi sebuah tekad untuk terus hadir dan membantu. Bagi drg. Shirly, kesempatan untuk melayani bahkan terasa seperti sebuah jalinan jodoh yang terjalin yang membawanya semakin dekat pada keinginan untuk mengabdikan diri bagi sesama.
“Awalnya saya pikir biar suami saya dulu (yang ikut baksos), tapi ternyata ada baksos di dekat wilayah saya. Kenapa nggak? Ya sudah lah saya sekalian ikut. Akhirnya jadi berlanjut karena menurut saya di TIMA ini kan baksos di mana-mana, (nah baksos ini) kelihatannya seperti membuka jalan bagi saya untuk lebih mengabdikan dan mengisi hidup saya untuk kemanusiaan dan berbagi cinta kasih kepada sesama secara lebih luas,” tutur drg. Shirly bersukacita.
Editor: Metta Wulandari