Tonggak itu Telah Berdiri

Jurnalis : Himawan Susanto, Fotografer : Anand Yahya
 

fotoRelawan Tzu Chi Padang mengelilingi bundaran tempat pencangangan pembangunan gedung SMA Negeri 1 Padang sambil berdoa agar pembangunan tersebut lancar.

 

Tetabuhan kendang dan kenong terdengar bertalu-talu, 9 penari berlenggak-lenggok. Inilah penampilan tarian Pasambahan yang dipertunjukkan oleh siswi-siswi sekolah SMA Negeri 1 Padang saat menyambut kedatangan Walikota Padang Fauzi Bahar dan para relawan Tzu Chi dari Jakarta yang dipimpin oleh Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma, yang baru saja tiba di lokasi. Tarian Pasambahan yang ditampilkan ini memiliki arti simbolis penerimaan tuan rumah terhadap tamu yang sedang berkunjung.

 

Lokasi batu peletakan pertama yang dua hari lalu masih berupa tanah urukan, kini sudah rapi dan siap untuk dijadikan tempat peletakan batu pertama pembangunan sekolah SMA Negeri 1 Padang, Sumatera Barat.

Bisa Menjadi Tempat Perlindungan
Dalam kata sambutannya, Sugianto Kusuma mengatakan, gedung sekolah yang akan dibangun selain berfungsi sebagai sekolah, juga akan berfungsi sebagai shelter (tempat perlindungan) bagi masyarakat sekitar Belitang Raya, Padang Utara jika terjadi gempa bahkan tsunami sekalipun. “Gedung ini dirancang tahan terhadap gempa sampai 9,5 skala Richter dan di atasnya nanti akan juga dibangun helipad,” ujarnya.

Saat itu, di awal kata sambutannya, Sugianto Kusuma juga secara singkat menjelaskan profil Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kepada ratusan orang yang hadir. “Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia adalah yayasan sosial yang lintas suku, agama, ras, dan golongan,” tuturnya.

 

foto  foto

Ket: - Tiga orang siswi SMA Negeri 1 Padang membawakan tarian penyambutan tamu kepada rombongan Tzu Chi            yang datang dari Jakarta dan relawan Padang lainnya. (kiri)
       - Para siswi SMA Negeri 1 Padang memperagakan pertunjukan isyarat tangan. Isyarat tangan adalah salah           satu budaya khas Tzu Chi yang sering dipertunjukkan kepada khalayak umum. (kanan)

Walikota Padang, Fauzi Bahar dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia karena telah bersedia membangun sebuah sekolah.  “Tidak ada kata-kata yang dapat saya ungkapkan untuk mewakili perasaan saya saat ini,” pungkasnya. Sebelumnya, di awal kata sambutannya Fauzi Bahar meminta para tamu undangan untuk berdiri dan mengheningkan cipta sejenak dan berdoa bagi para korban gempa tanggal 30 September silam.

Bagi Fauzi Bahar, Tzu Chi bukanlah sesuatu yang baru baginya. Sejak 4 tahun lalu, ia telah mengenal Tzu Chi dari Ferryanto Ghani, ketua Tzu Chi Padang. Maka ia pun mengenal beberapa budaya humanis Tzu Chi. “Salah satunya adalah kalau pas makan harus dihabiskan,” terangnya kepada para tamu undangan.

 

foto  foto

Ket: - Relawan Tzu Chi Padang bersama relawan Jakarta membawakan 36 sekop sebagai tanda dimulainya             peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Negeri 1 Padang. (kiri)
       - Tangan-tangan penuh cinta kasih dibentangkan untuk SMA Negeri 1 Padang sehingga gedung lama yang             hancur karena gempa kini bisa dibangun kembali. (kanan)

Dalam acara ini, ratusan siswa dan siswi SMA Negeri 1 Padang, para guru, para kepala sekolah di Padang, dan aparat pemerintahan datang dan menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan sekolah ini, 10 November 2009.

Tepuk tangan hadirin terdengar saat Fauzi Bahar dan Sugianto Kusuma saling berjabat tangan setelah surat nota kesepakatan dan kepemahaman (MOU) yang telah ditandatangi diserahkan ke masing-masing pihak. Saat itu, Ferryanto Ghani juga turut mendampingi penandatanganan MOU tersebut.

Dalam kesempatan itu juga, Menko Kesra Agung Laksono yang diwakili oleh Andreas Supiandi menyerahkan bantuan tunai kepada pemerintah propinsi dan kota Padang untuk para korban gempa yang diterima secara simbolis oleh Fauzi Akbar.

 

foto  foto

Ket: - Sebanyak 36 orang yang terdiri dari relawan Tzu Chi dan tamu undangan melakukan penyekopan simbolis            sebanyak 3 kali. Gedung sekolah ini dibangun di atas cinta kasih orang banyak yang dihimpun Tzu Chi. (kiri)
       - Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma, menandatangani MOU pembangunan           gedung sekolah SMA Negeri 1 Padang usai pencanangan pembangunan.. (kanan)

Usai penandatanganan MOU, para undangan dan para relawan Tzu Chi melakukan penyekopan pasir tepat di tonggak yang telah disiapkan. Dengan tiga kali sekopan, pembangunan gedung sekolah pun secara resmi dimulai. Dalam acara tersebut, para relawan Tzu Chi juga menampilkan pertunjukan isyarat tangan, salah satunya adalah Satu Keluarga. Sebuah bahasa isyarat yang menggambarkan bahwa manusia di dunia ini adalah sama, tiada perbedaan sama sekali. Siswi-siswi SMA Negeri 1 Padang juga sempat menampilkan satu pertunjukan isyarat tangan kepada para tamu undangan.

Kini, usai gempa hebat mengguncang Padang, sebuah tonggak baru telah dipancangkan. “Semoga dengan adanya gedung baru ini, SMA Negeri 1 Padang dapat segera berstatus sekolah internasional,” tandas Fauzi Bahar saat diwawancara usai peletakan batu pertama.

 
 

Artikel Terkait

Mengenal Lebih Dekat Sosok Guru dan Tzu Chi lewat Sosialisasi

Mengenal Lebih Dekat Sosok Guru dan Tzu Chi lewat Sosialisasi

07 Mei 2018
Tzu Chi Surabaya kembali mengadakan Sosialisasi Relawan Baru pada 29 April 2018 yang bertempat di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya. Acara yang bertemakan Mengenal Lebih Dekat Sosok guru dan Tzu Chi ini berlangsung dengan sangat meriah namun tetap khidmat. 
AsiaXchange 2025: Menyatukan Kekuatan Iman Demi Kemanusiaan

AsiaXchange 2025: Menyatukan Kekuatan Iman Demi Kemanusiaan

09 Oktober 2025

Di forum AsiaXchange 2025, Hong Tjhin dari Tzu Chi Indonesia mengajak para pemimpin lintas iman untuk memperkuat kolaborasi demi sesama. Ia menegaskan, kemanusiaan tak mengenal sekat, dan kasih harus melampaui batas keyakinan.

Kunjungan Anak TK Sekolah Pelangi Kasih ke Depo Tzu Chi PIK: Menanamkan Benih Cinta Lingkungan Sejak Dini

Kunjungan Anak TK Sekolah Pelangi Kasih ke Depo Tzu Chi PIK: Menanamkan Benih Cinta Lingkungan Sejak Dini

30 Maret 2026

Anak-anak juga diajak merasakan langsung praktik daur ulang, memilah botol dan menghias tutup botol menjadi barang yang bermanfaat.

Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -