Sukandi memaparkan materi 10 Sila Tzu Chi serta mempraktikkan sila berfungsi melindungi diri sendiri dan oran lain dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada hari Minggu, 30 Agustus 2026, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang mengadakan Training relawan Abu Putih (AP) ke-4 di Tzu Chi Center, PIK. Kegiatan itu dihadiri oleh 106 peserta termasuk mentor serta 43 orang panitia yang turut mendukung kelancaran seluruh rangkaian acara.
Training AP ini bertema Berjalan di jalan Bodhisatwa, “Mengembangkan Jiwa Kebijaksanaan Dalam Diri” yang menjadi kesempatan bagi para peserta untuk kembali belajar, mengembangkan jiwa kebijaksanaan dalam diri, dan mempererat kebersamaan dalam semangat cinta kasih.
Acara dibuka oleh Dessy selaku pemandu acara. Materi pertama disampaikan oleh ketua He Qi Jakarta Barat 2, Johnny Chandrina yang membahas tata krama dalam Namaskara dan Pradaksina. Dalam sesi ini, peserta juga diperkenalkan dengan tata cara budaya humanis yang baik dan benar, mulai dari beranjali (He Zhang) yang memiliki makna menjalani kehidupan dengan prinsip jalan tengah dan mengonsentrasikan pikiran yang risau, hingga tata cara berjalan saat melakukan Pradaksina.
Materi kedua mengenai 10 Sila Tzu Chi disampaikan oleh Sukandi dengan tema “Menjaga Sebersit Pelita Batin” dalam sesi ini, peserta kembali diingatkan bahwa sila merupakan latihan atau aturan moral untuk mengendalikan ucapan, perbuatan, dan perilaku agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Untuk melatih sila diperlukan konsentrasi agar senantiasa waspada terhadap setiap niat dan pikiran yang muncul seperti kata perenungan Master Cheng Yen, Sukandi menyampaikan, “Menjunjung tinggi sila dan mematuhi aturan adalah kebajikan yang paling berharga.”
Ketua He Qi Jakarta Barat 2, Johnny Chandrina memaparkan tata cara berbudaya humanis serta makna beranjali.
Seluruh peserta dan panitia bersama-sama mempraktikkan pradaksina dengan penuh konsentrasi.
Materi Jing Si Jia Feng yang dibawakan oleh Lulu menjelaskan bahwa Jing Si merupakan nama yang dipilih Master Cheng Yen sebelum ditahbiskan menjadi biksuni dan kemudian menjadi nama Griya Jing Si, tempat Master dan para murid menjalani kehidupan sederhana dan penuh perenungan. Beliau terinspirasi pesan Master Yin Shun, “Demi ajaran Buddha, demi semua makhluk,” Master menyadari bahwa praktik Buddhis tidak hanya melalui pembelajaran spiritual, tetapi juga dengan turun langsung membantu dan memberi manfaat bagi sesama.
Kehidupan di Griya Jing Si mengajarkan kesederhanaan, kerja keras, kemandirian, hidup hemat, dan rasa syukur. Para Shifu mengolah berbagai hasil karya seperti makanan, sabun, dan kebutuhan lainnya dengan memanfaatkan apa yang ada, bahkan mengembangkan produk yang dapat membantu masyarakat dalam kondisi darurat. Dari kehidupan tersebut kita belajar bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, bekerja adalah bagian dari melatih diri, dan setiap karya dapat menjadi wujud cinta kasih ketika memberi manfaat bagi sesama.

Para peserta tampak bahagia saat mengikuti sesi ice breaking.
Setelah makan siang, peserta berlanjut kembali ke ruangan Guo Yi Ting untuk mengikuti ice breaking yang dipandu Elvivianny bersama tim Shou Yu dengan lagu Wen Hou menjadi pengiring kegiatan, mengajak para relawan untuk membiasakan diri menyapa dengan ramah, menumbuhkan kepedulian, serta menjaga persahabatan dan kasih sayang. Dengan kebersamaan, para relawan diajak untuk terus berjalan beriringan, tumbuh bersama, dan menciptakan keharmonisan dalam cinta kasih.
Materi selanjutnya yang dibawakan oleh Rensi adalah Struktur 4 in 1 atau empat jadi satu yang dibentuk oleh Master Cheng Yen pada tahun 2003 seiring bertambahnya relawan Tzu Chi. Berlandaskan Jing Si Dharma, struktur ini bertujuan menyatukan kekuatan relawan dalam menjalankan misi, melatih diri, serta mewariskan Dharma.
Dalam semangat struktur tersebut, menekankan kesetaraan, transparansi, dan pandangan welas asih. Setiap insan Tzu Chi memiliki hakikat yang sama tanpa ada yang lebih tinggi maupun rendah. Kesatuan tersebut diwujudkan melalui empat pintu, yaitu He Xin, He Qi, Hu Ai, dan Xie Li yang mengajarkan relawan untuk bekerja sama sebagai satu keluarga. Dengan demikian, Tzu Chi tidak hanya menjadi wadah untuk berbuat baik dan memupuk berkah, juga mengembangkan kebijaksanaan melalui praktik Dharma.

Penampilan Shou Yu dibawakan relawan Zhen Shan Mei He Qi Tangerang dengan lagu Da Ai yang bermakna cinta kasih universal.
Setelah seluruh materi Training selesai disampaikan, acara dilanjutkan dengan sesi sharing dari para peserta yang telah mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Sharing pertama disampaikan oleh Hiu Fei Ling dari Xie Li Cipondoh. Ia terkesan dengan 10 Sila Tzu Chi, yang menurutnya lebih banyak dibandingkan lima sila dalam Buddhisme.
“Saya baru setahun di Tzu Chi dan dengan mengikuti Training ini, pengetahuan saya jadi bertambah. Saya sangat merasakan bahwa para Shijie dan Shixiong yang sudah Komite tetap merangkul kami yang masih baru. Gan En banget,” ungkap Hiu Fei Ling.
Selanjutnya, Kevin Sudirdja dari Xie Li Gading Serpong membagikan pengalamannya. Baru dua bulan mengikuti kegiatan Tzu Chi, Kevin terkesan dengan sesi Pradaksina karena ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan tersebut. Setelahnya, ia merasakan kedamaian dalam hati dan mendapatkan banyak wawasan dari materi yang disampaikan. “Saya banyak belajar tentang sejarah Tzu Chi. Ketika menghadapi rintangan, semangat kita jangan goyah, seperti Master yang membangun Tzu Chi dengan penuh ketekunan dan tanpa kenal lelah,” ucapnya.
Rensi, salah satu relawan Tzu Chi dengan penuh semangat memberikan materi struktur 4 in 1 dalam pelatihan relawan AP.
Sebagai penutup acara Lily Santoso, Ketua He Qi Tangerang memberikan pesan cinta kasihnya kepada para peserta. Lily mengingatkan bahwa Training bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi sarana untuk terus melatih dan memperbaiki diri. Mengutip pesan Master, Lily mengajak para relawan untuk menjadi seperti setetes embun. “Dengan kumpulan begitu banyak orang, akan menjadi air yang menyejukkan bagi dunia. Jangan biarkan dunia kita retak,” ucapnya.
Berbagai materi training memiliki tujuan utama yaitu pelatihan diri. Apa yang dipelajari hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berpikir, berucap, maupun berperilaku. Lily juga mengingatkan pentingnya menghargai dan membangun kerja sama dengan sesama relawan. “Kita perlu punya toleransi terhadap teman-teman sesama relawan. Dalam satu Training, kita perlu banyak kerja sama,” tambahnya.
Selain itu, para relawan juga di ingatkan untuk terus belajar dan berjalan di jalan Bodhisatwa dengan berlandaskan cinta kasih dan kebijaksanaan, serta senantiasa mengingat kembali niat awal dalam menjalani jalan Tzu Chi. Dengan demikian, para relawan diharapkan dapat terus menjadi insan yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi sesama.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari