Direktur Utama Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro (tengah) didampingi Direktur Operasi Citilink Capt. Arry Kalzaman Sudarmadji (kiri), bersama Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma, Rebecca Halim, Sekretaris Umum Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Hong Tjhin, dan relawan Tzu Chi berfoto bersama usai penandatanganan MoU tentang aktivasi Family Assistance Center dalam penanganan bencana pesawat udara serta dukungan pengangkutan logistik bencana darurat.
Ketika sebuah pesawat mengalami kondisi darurat atau kecelakaan, perhatian segera tertuju pada pencarian, evakuasi, dan identifikasi korban. Namun, di balik proses tersebut ada keluarga yang harus menghadapi ketidakpastian, menunggu kabar, hingga menjalani proses panjang setelah musibah terjadi. Pada situasi seperti ini, pendampingan menjadi bagian yang amat penting.
Pengalaman tersebut bukan hal baru bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Dalam sejumlah musibah kecelakaan pesawat, relawan Tzu Chi pernah hadir mendampingi keluarga korban. Saat pesawat AirAsia QZ8501 mengalami kecelakaan pada Desember 2014, misalnya, relawan Tzu Chi Surabaya segera membuka posko pendampingan di Bandara Juanda, Surabaya, untuk menenangkan keluarga penumpang yang menunggu kabar. Pendampingan kemudian berlanjut hingga RS Bhayangkara, termasuk menemani keluarga yang menunggu proses identifikasi korban.
Pengalaman serupa kembali dilakukan ketika pesawat Lion Air JT610 jatuh pada Oktober 2018. Relawan Tzu Chi Jakarta hadir di posko keluarga di Bandara Soekarno-Hatta dan RS Polri Kramat Jati. Mereka tidak hanya menyediakan kebutuhan sederhana seperti makanan, minuman, dan obat-obatan ringan, tetapi juga berusaha menjadi pendengar bagi keluarga yang tengah berada dalam kondisi penuh kecemasan. Bahkan, sebelum turun ke lapangan, para relawan mendapatkan arahan untuk lebih banyak mendengarkan dan tidak membuat keluarga merasa terganggu.
Kekuatan Kolaborasi
Pengalaman mendampingi keluarga korban dalam berbagai kecelakaan pesawat tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi Tzu Chi. Dari pengalaman di lapangan, relawan melihat bahwa dalam situasi bencana keluarga korban tidak hanya membutuhkan informasi dan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga kehadiran orang-orang yang dapat mendampingi mereka melewati masa sulit. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi salah satu bekal Tzu Chi untuk berbagi mengenai pendekatan humanis dalam pendampingan keluarga korban.
Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma dan Direktur Utama Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro menyambut kolaborasi Tzu Chi dan Citilink dengan penuh sukacita. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat dan memperlancar penanganan situasi darurat apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pengalaman tersebut juga mendapat perhatian dari Citilink. Melihat bagaimana relawan Tzu Chi mendampingi keluarga korban dalam musibah kecelakaan pesawat sebelumnya, Citilink menilai pendekatan kemanusiaan tersebut dapat menjadi dukungan penting apabila, suatu saat terjadi kondisi darurat dalam penerbangan yang sama sekali tidak diharapkan. Karena itu, Citilink kemudian menggandeng Tzu Chi untuk dapat memberikan pendampingan kepada keluarga korban apabila Family Assistance Center harus diaktifkan.
Kolaborasi tersebut secara resmi dituangkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan PT Citilink Indonesia pada Rabu, 9 September 2026, di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Kerja sama ini mencakup aktivasi Family Assistance Center dalam penanganan bencana pesawat udara serta dukungan pengangkutan logistik bencana darurat.
Selama ini, Tim Pemerhati memiliki peran mendampingi penerima bantuan secara langsung, mengenali kebutuhan mereka, mendengarkan kondisi yang dihadapi, serta memberikan perhatian yang tidak hanya bersifat materi. Pendekatan tersebut dapat menjadi perspektif kemanusiaan yang melengkapi prosedur dan standar penanganan keluarga korban.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih cepat dan terkoordinasi ketika terjadi kondisi darurat. Bagi Tzu Chi, dukungan transportasi juga menjadi bagian penting agar relawan maupun tenaga medis beserta kebutuhan bantuan dapat segera bergerak menuju wilayah terdampak bencana.
Hal tersebut disampaikan Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Menurutnya, kerja sama dengan Citilink akan membuat misi kemanusiaan Tzu Chi dapat berjalan lebih cepat dan lancar, terutama ketika bantuan harus segera dikirimkan ke wilayah terdampak bencana.
“Saya sangat bangga bisa bekerja sama dengan Citilink. Dengan kolaborasi ini, jalannya misi kemanusiaan bisa lebih lancar dan aplikasinya juga lebih tepat. Jadi, sisi kemanusiaannya tetap ada, tetapi sekarang ditambah dengan kolaborasi bersama Citilink sehingga kita bisa bekerja lebih lancar,” ujar Sugianto.
Sekretaris Umum Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Hong Tjhin memberikan sambutan sekaligus memperkenalkan Tzu Chi dan kiprah kemanusiaannya kepada jajaran PT Citilink Indonesia.
Menurut Sugianto, dukungan Citilink nantinya tidak hanya berkaitan dengan pengangkutan logistik. Akses transportasi udara juga dapat mempercepat mobilisasi relawan, tenaga medis, dokter, perawat, hingga obat-obatan ketika dibutuhkan di lokasi bencana.
“Kolaborasi ini nanti bukan hanya logistik saja, tapi juga tentang kecepatan. Relawan, tim medis, dokter bisa datang lebih cepat. Sebelumnya kita datang menggunakan pesawat Hercules. Hercules membutuhkan waktu lebih lama dan kapasitasnya juga terbatas. Kalau menggunakan pesawat Citilink, dokter, perawat, relawan, dan obat-obatan bisa lebih cepat sampai ke lokasi,” jelasnya.
Untuk mendukung misi tersebut, Tzu Chi juga telah memiliki sumber daya relawan yang dapat digerakkan sesuai kebutuhan. “Kita dari Citilink akan di-backup semuanya. Kita relawan sudah ada TTD dan lainnya, sudah ada subnya, TIMA, semua bisa bergilir dan bisa membantu,” kata Sugianto.
Melengkapi Kesiapsiagaan dengan Pendekatan Humanis
Sementara itu Direktur Utama Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro mengatakan, kerja sama ini merupakan bagian dari upaya Citilink memperkuat kesiapan dalam menghadapi kondisi darurat. Citilink memiliki Family Emergency Response Plan untuk menangani penumpang dan keluarga apabila terjadi musibah, meski tentu tidak ada pihak yang mengharapkan, protokol tersebut harus dipersiapkan.
“Hari ini PT Citilink sudah menandatangani MoU. Kami amat berterima kasih mendapatkan semangat kerja sama dalam bentuk kemanusiaan ini. Ada dua hal, yaitu penyediaan tenaga Family Assistance Center dan jika nanti seandainya ada bencana, Citilink akan membantu menyalurkan logistik sekaligus relawannya,” ujar Darsito.
Direktur Utama Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro menyampaikan sambutan dalam acara penandatanganan MoU dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Menurut Darsito, pengalaman Tzu Chi dalam menjalankan misi kemanusiaan menjadi salah satu alasan Citilink ingin membangun kerja sama tersebut. Ia mengaku terkesan melihat cara relawan Tzu Chi mendampingi keluarga korban dalam musibah kecelakaan pesawat sebelumnya.
“Tzu Chi terbukti sangat profesional bergerak di bidang kemanusiaan. Saya sangat impressed dengan rekan-rekan Tzu Chi dalam melaksanakan value. Karena saya pernah melihat sendiri sebelumnya bagaimana rekan-rekan Tzu Chi memberikan pendampingan untuk musibah jatuhnya sebuah pesawat,” tuturnya.
“Saya angkat topi. Cara mereka meng-assist penumpang pascakejadian kecelakaan pesawat itu luar biasa. Bagaimana mereka melayani keluarga penumpang seolah-olah saudara sendiri, regardless their culture, regardless their religion. Ini sisi kemanusiaan. Tidak pernah melihat perbedaan. Ini yang sangat kami hargai dan membuat kami terkesima, hingga kami ingin bekerja sama dengan Tzu Chi,” lengkapnya.
Darsito menjelaskan, melalui Family Emergency Response Plan, Citilink memiliki kesiapan untuk menangani kondisi darurat yang mungkin terjadi. Kehadiran Tzu Chi diharapkan dapat memperkuat sisi pendampingan, terutama dalam membantu keluarga korban menghadapi masa-masa sulit.
“Kami sangat serius menangani hal ini dalam passenger handling. Tentu kita tidak pernah mengharapkan akan mengaktifkan ini. Tapi jika nanti ada musibah, ini adalah persiapan untuk kami dengan meminta bantuan dari teman-teman Tzu Chi, seperti mendampingi, menenangkan, dan menemani di saat berduka dan kesusahan,” jelasnya.
Di akhir kegiatan, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma dan Direktur Utama Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro saling bertukar cendera mata sebagai simbol terjalinnya kolaborasi kemanusiaan antara Tzu Chi dan Citilink.
Dengan demikian, Family Assistance Center tidak hanya dipandang sebagai sebuah tempat atau fasilitas ketika terjadi kecelakaan, tetapi juga sebagai ruang untuk memastikan keluarga korban mendapatkan informasi, perhatian, dan dukungan selama menghadapi situasi yang tidak mudah.
Selain kolaborasi dalam aktivasi Family Assistance Center, MoU ini juga mencakup bantuan pengangkutan logistik bencana darurat. Melalui dukungan ini, Citilink dapat membantu proses pengiriman logistik yang dibutuhkan dalam misi kemanusiaan Tzu Chi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat mobilisasi bantuan, terutama ketika kondisi di lapangan membutuhkan respons dalam waktu singkat.
Kerja sama ini mempertemukan dua pengalaman yang saling melengkapi dimana Citilink dengan pengetahuan dan protokol penanganan keadaan darurat dalam dunia penerbangan, serta Tzu Chi dengan pengalaman panjang dalam memberikan pendampingan kemanusiaan di lapangan. Harapannya, ketika situasi darurat benar-benar terjadi, respons yang diberikan tidak hanya cepat dan terkoordinasi, tetapi juga tetap memperhatikan sisi manusia dari mereka yang sedang menghadapi musibah.
Editor: Arimami Suryo A