Waisak 2557: Tiga Hari Besar

Jurnalis : Meiliana (Tzu Chi Pekanbaru) , Fotografer : Anthony Tanjaya, Benny Fang, Suyardi Hartombing (Tzu Chi Pekanbaru)
 
 

foto
Atek Shixiong beserta istri dan anak-anaknya dengan rasa syukur membasuh kaki ibu.

Pada setiap hari minggu kedua di bulan Mei setiap tahunnya, Yayasan Buddha Tzu Chi merayakan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional dan Hari Tzu Chi sedunia. Demikian juga Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Penghubung Pekanbaru. Melalui Hari Waisak, kita membalas budi luhur Buddha. Melalui Hari Ibu, kita membalas budi luhur orang tua, dan melalui Hari Tzu Chi, kita membalas budi luhur semua makhluk. Inilah yang menjadi pilar perayaan tiga hari besar di Tzu Chi.

 

Momen Hari Ibu mungkin adalah momen yang paling ditunggu oleh generasi ke generasi. Saat yang paling menyentuh yaitu ketika di mana mereka dapat memiliki kesempatan untuk mewujudkan rasa bakti dengan membasuh kaki ibu. Beragam perasaan bercampur menjadi satu. Inilah yang dirasakan oleh Hiu Cing yang memiliki 8 orang putri dan telah berusia 71 tahun. Selama menjadi ibu, inilah pertama kali kelima putrinya datang bersama membawa Hiu Cing ke acara Tzu Chi untuk bersama-sama merayakan Hari Ibu. Secara bersamaan kelima putri yang juga sudah menjadi Mama ini, membasuh kaki ibu dengan rasa haru dan penuh syukur. Ini merupakan pertama kalinya mereka melakukan hal ini kepada ibu mereka.

Sebelum waktunya dimulai, mereka telah tiba di TK Dharma Loka dan mengambil nomor antrian paling depan. Selain membasuh kaki, menyajikan teh dan kue, menjepitkan bunga, dan memakaikan gelang tangan sebagai suvenir kepada mama, insan Tzu Chi juga menyediakan hidangan kecil untuk dimakan bersama. Situasi makan bersama di antara ibu dan anak beserta anggota keluarga lainnya, menyiratkan betapa hangatnya keharmonisan di dalam keluarga.

foto  foto

Keterangan :

  • Suasana perayaan Waisak yang khidmat dan bersahaja 12 Mei 2013 di Pekanbaru (kiri).
  • Masyarakat umum juga mengikuti perayaan Waisak yang diadakan Tzu Chi Pekanbaru (kanan).

Membersihkan Batin Sendiri
Setelah semua pengunjung mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan bakti kepada ibu, acara dilanjutkan kembali dengan mewujudkan bakti kepada Buddha. Melalui prosesi pemandian Rupang Buddha yang agung dan meluas, membuat umat manusia tahu bahwa umat Buddha sedang merayakan hari ulang tahun Sang Buddha. Pemandian Rupang Buddha dilakukan dengan bersujud di kaki Buddha untuk membersihkan batin sendiri. Pada zaman Buddha masih hidup di dunia ini, salam paling hormat dari umat kepada Sang Buddha adalah bersujud dengan seluruh badan menelungkup di lantai, tangan menyentuh kaki Buddha dan dahi bersentuhan dengan kaki Buddha. Ini adalah wujud salam paling hormat.

foto  foto

Keterangan :

  • Beragam perasaan bercampur menjadi satu. Inilah yang dirasakan oleh Hiu Cing yang memiliki 8 orang putri dan telah berusia 71 tahun. Selama menjadi ibu, inilah pertama kali kelima putrinya membasuh kakinya (kiri).
  • Para relawan mementaskan pertunjukan isyarat tangan “Xing Yuan” dan “Yuan Meng”. Setelah melalui proses kurang lebih 3 bulan latihan, peragaan isyarat tangan ini telah memukau para insan Tzu Chi dan seluruh pengunjung (kanan).

Umat Buddha menggunakan Namaskara sebagai cara untuk memberi penghormatan karena dengan menundukkan kepala, sama halnya dengan merendahkan hati kita untuk meluruhkan kesombongan. Maka dalam prosesi pemandian Rupang Buddha Tzu Chi, ketika tangan menyentuh air wangi dan tubuh membungkuk hormat pada kaki Buddha, itu melambangkan salam paling tulus “bersujud di kaki Buddha”. Ketika bersujud di kaki Buddha dengan hati paling hormat, sebetulnya kita sedang membersihkan batin sendiri. Master Cheng Yen mengatakan bahwa jika semua orang bisa memahami akan tata krama ini, tentu akan bisa membangkitkan hati yang tulus, selalu bermawas diri dalam kehidupan sehari-hari dan berhati-hati agar tidak melanggar sila, sehingga kita bisa selalu menjaga batin agar tetap bersih.

Walaupun ada sedikit kendala teknis, dan teriknya matahari menyelimuti sepanjang siang hari ketika persiapan, namun acara prosesi Waisak di Pekanbaru tetap berjalan dengan khidmat dan bersahaja. Prosesi Waisak diakhiri dengan kekuatan dan kelembutan tampilan isyarat tangan “Xing Yuan” dan “Yuan Meng” oleh para relawan. Setelah melalui proses kurang lebih 3 bulan latihan, peragaan isyarat tangan ini telah memukau para insan Tzu Chi dan seluruh pengunjung.

  
 

Artikel Terkait

Empat Hari Satu Makna

Empat Hari Satu Makna

11 Mei 2011
Dalam 4 hari lawatannya, Tan Sri Dato dan rombongan melakukan berbagai macam aktivitas, di antaranya gathering bersama dengan para relawan Tzu Chi, mengikuti Perayaan Waisak, Hari Tzu Chi, dan Hari Ibu Internasional, berkunjung ke Kompleks Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, dan Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia serta Stasiun DAAI TV Indonesia.
Senang Setelah Berbagi

Senang Setelah Berbagi

21 Desember 2010
Dalam donor darah tanggal 18 Desember 2010 di Kantor Tzu Chi Tangerang, cukup banyak orang datang untuk mendonorkan darah mereka. Di antaranya terdapat sejumlah 30 mahasiswa STABN Sriwijaya yang turut serta. Beberapa di antara mereka memang merasa takut seperti yang dirasakan Rusmiati.
Pembinaan TIMA Bandung Kepada Relawan Tzu Chi mengenai “Manajemen Stres”

Pembinaan TIMA Bandung Kepada Relawan Tzu Chi mengenai “Manajemen Stres”

17 Februari 2014
Stres merupakan respon secara fisik, mental, atau emosional terhadap suatu kejadian yang menyebabkan terjadinya ketegangan fisik atau mental.
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -