Ceramah Master Cheng Yen: Anggota TIMA Meneruskan Estafet Ikrar Agung


“Selama 30 tahun ini, saya tidak pernah absen dari Konferensi Tahunan TIMA. Banyak hadirin di sini yang telah bergabung hampir 30 tahun. Kami bersama-sama menghadiri peringatan ulang tahun Tzu Chi yang ke-60 dan Konferensi Tahunan TIMA yang ke-30,” kata Liao Jing-xing, Dokter TIMA Amerika Serikat.

“Kini, jejak langkah TIMA telah menjangkau 59 negara dan wilayah di seluruh dunia, membawa manfaat bagi lebih dari lima juta orang, dan mengadakan lebih dari 20.000 kali baksos kesehatan di enam benua. Inilah yang TIMA lakukan,” kata Lin Jun-long, ketua Badan Misi Kesehatan Tzu Chi.

“Dalam perjalanan tersebut, pada tahun 2004 saya mendapatkan kesempatan menjadi ketua tim tanggap darurat untuk korban bencana di Aceh, Bengkulu, Padang, dan Jogja. Pengalaman di daerah bencana sangat membekas di dalam hati saya. Dari situ, saya semakin memahami ajaran Master Cheng Yen, bahwa cinta kasih harus diwujudkan dalam tindakan,” kata Fransiscus Xaverius Ganny, Dokter TIMA Indonesia.

“Awalnya, saya berpikir bergabung dengan Tzu Chi untuk bantu orang lain. Tetapi semakin lama saya berada di Tzu Chi, justru saya merasa banyak dibantu oleh Tzu Chi. Tzu Chi membuat saya belajar lebih bersyukur, belajar menghargai kehidupan, dan belajar bahwa profesi yang kita miliki bukan hanya untuk mencari kehidupan, tetapi juga dapat mencari jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain,” pungkas Fransiscus Xaverius Ganny.

Kalian semua bagaikan Tabib Agung. Saya sering berkata bahwa saya sangat bersyukur empat misi kita dapat dijalankan dengan begitu harmonis. Misi amal kita telah menjangkau dunia internasional dan dijalankan di lebih dari seratus negara, tepatnya di 139 negara dan wilayah. Saya sungguh sangat bersyukur. Saya harap jangkauan misi amal kita bisa lebih luas lagi.


Tzu Chi adalah organisasi Buddhis. "Demi ajaran Buddha, demi semua makhluk" adalah tekad dan ikrar seumur hidup saya. Demikianlah saya membalas budi luhur Buddha, guru, dan orang tua saya. Di dunia ini, terdapat banyak penderitaan. Setelah bergabung dengan Tzu Chi, kalian pasti telah melihat banyak pasien yang kurang mampu. Karena itulah, Tzu Chi mulai memberikan pengobatan gratis.

Setiap kali kita membagikan bantuan, para dokter datang untuk memberikan pengobatan. Hingga tahun 1972, ibu dari De Ci sangat tersentuh melihat pelayanan medis kita dan berkata, "Master, jika ingin memberikan pengobatan gratis, meminjam tempat tidaklah leluasa. Rumah saya ini boleh Master gunakan untuk pengobatan gratis." Rumah yang berada di posisi strategis di Jalan Ren'ai itu lalu digunakan oleh Tzu Chi secara gratis.

Saya sangat bersyukur kepada para dokter dari RS Hualien dan dokter yang membuka klinik sendiri yang datang untuk membantu. Semua ini sangatlah menyentuh. Saat itu, pengobatan gratis bukanlah sesuatu yang umum. Namun, kita mulai melakukannya dua kali dalam seminggu. Dahulu, ada sebuah lagu Tzu Chi yang berbunyi, "Dua kali dalam seminggu selama 15 tahun." Itu tentang pengobatan gratis kita.

Kemudian, kita mulai membangun rumah sakit sendiri. Mengenai rencana membangun rumah sakit saat itu, saya sungguh kagum akan keberanian diri sendiri. Kita menggalang dana sedikit demi sedikit. Dengan demikian, orang-orang berkesempatan untuk berdonasi.

Dengan turut berdonasi, orang-orang akan merasa bahwa rumah sakit ini sangat dekat di hati mereka. Ini juga memberi orang-orang keyakinan bahwa setiap orang dapat turut berdonasi untuk mendukung pembangunan rumah sakit. Demikianlah rumah sakit kita berdiri dengan ketulusan dan cinta kasih orang banyak.

Saya sangat bersyukur, berkat rumah sakit ini, Tzu Chi dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia internasional. Melihat para anggota TIMA Filipina hari ini, saya sangat sukacita.


“Tahun 1996, anggota TIMA Filipina untuk pertama kalinya kembali ke Hualien guna memperingati Festival Kue Bulan bersama Master. Para dokter kami dapat merasakan kehangatan keluarga besar Tzu Chi," kata Linda Chua, relawan Tzu Chi Filipina.

"Cinta kasih Master membuat para dokter dari Filipina memiliki kesatuan hati dan rasa kebersamaan. Karena itu, mereka berjanji kepada Master untuk kembali setiap tahun dan memperingati Festival Kue Bulan bersama Master. Para dokter dari Filipina tidak melupakan tekad awal dan telah mewujudkannya. Master, tahun ini adalah tahun ke-30,” pungkas Linda Chua.

Mereka kembali setiap tahun karena mengasihi saya dan berjodoh dengan saya. Setiap kali teringat akan Dokter Leh Siu Chuan, saya merasa kehilangan. Saat itu, setiap kali baksos kesehatan berakhir, beliau pasti akan menelepon saya untuk melaporkan kondisi baksos pada hari itu secara mendetail. Panggilan telepon selalu berlangsung sangat lama.

Suatu kali, Linda berada di samping Dokter Leh. Dia lalu mengambil telepon dari Dokter Leh dan berkata, "Master, Dokter Leh dalam posisi berlutut sekarang. Setiap kali menelepon Master, beliau selalu berlutut." Saya sungguh sangat tersentuh. Sungguh, selama bertahun-tahun, rasa hormatnya tidak pernah berubah. Karena itu, saya sangat tersentuh.


Belakangan, meski kurang leluasa berjalan, beliau tetap selalu berjalan di barisan terdepan dan memimpin para dokter kembali ke sini. Beliau memimpin Dokter Josefino Qua, Dokter Robert Sy, Dokter Antonio Say, dan para dokter lainnya untuk terus kembali dari tahun ke tahun.

Sejak Dokter Leh meninggal dunia, saya sungguh merasa kehilangan dalam waktu yang sangat panjang. Terlebih lagi, pada momen-momen seperti ini, melihat para anggota TIMA kembali, saya pasti teringat akan beliau. Sosok beliau selalu ada dalam benak saya. Kisahnya sungguh sangat panjang. Kehidupannya sangatlah bernilai.

Berkat dirinya yang berjalan paling depan dan menunjukkan keteladanan, ada begitu banyak dokter yang bergabung di Tzu Chi. Semua ini sungguh sangat menyentuh. Dari tahun ke tahun, makin banyak dokter yang bergabung dengan kita. Melihat para dokter melenyapkan penderitaan orang-orang yang jatuh sakit, saya sungguh sangat tersentuh dan bersyukur.

Saya berharap para dokter TIMA di Filipina dapat selamanya menjadi dokter humanis yang membantu orang yang membutuhkan di Filipina. Ini akan menciptakan pahala yang tak terhingga.

Misi amal Tzu Chi telah menjangkau seluruh dunia
Tzu Chi mengadakan baksos kesehatan untuk melenyapkan penderitaan pasien
Meneruskan estafet ikrar agung dengan kemurahan hati
Terus menciptakan berkah dengan menolong orang-orang yang kekurangan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 02 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 04 Oktober 2026
Luangkan sedikit ruang bagi diri sendiri dan orang lain, jangan selalu bersikukuh pada pendapat diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -