Ceramah Master Cheng Yen: Bekerja Sama dengan Harmonis di Jalan Bodhisatwa


“Misi amal adalah akar Tzu Chi dan memberi kita kesempatan untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan,”
kata Lu Bing-fa, relawan Tzu Chi.

“Dalam menjalankan misi amal, kerja sama tim sangatlah penting. Setiap orang memainkan peran yang berbeda-beda untuk memberi perhatian sesuai kebutuhan. Dengan mendampingi penerima bantuan, kita membantu orang lain sekaligus melatih diri,” kata Su Li-fen, relawan Tzu Chi.

“Dengan turut berpartisipasi dalam survei kasus, saya dapat menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Saya pun menyadari bahwa ternyata diri sendiri sangat beruntung,” kata Guo Su-li, relawan.

Saya sungguh sangat bersyukur. Di Tzu Chi, kita belajar bahwa makin banyak orang, makin besar pula kekuatan kita. Misi-misi Tzu Chi layak untuk kita jalankan dengan mengerahkan kekuatan yang lebih besar. Di kehidupan ini, saya juga menyadari bahwa sebersit pikiran sangatlah penting. Dahulu, berawal dari sebersit pikiran, saya mendirikan Tzu Chi.

Belakangan ini, saya terus berkata pada diri sendiri bahwa kehidupan saya bernilai. Saat menginventarisasi kehidupan diri sendiri, saya bertanya pada diri sendiri, "Apakah kehidupan saya bernilai?" Saya mungkin tidak memiliki pencapaian yang berarti. Namun, kehidupan saya bernilai karena sebersit pikiran yang saya bangkitkan untuk mendirikan Tzu Chi. Kini, Tzu Chi telah berdiri 60 tahun. Hingga kini, tidak pernah sehari pun saya menyesal.

Saya juga bersyukur kepada para insan Tzu Chi. Ada begitu banyak orang yang bersatu hati menjalankan Tzu Chi. Karena itulah, saya sering mengucap syukur. Kata-kata apakah yang bisa mewakili rasa haru di dalam hati saya? Saya tidak menemukan kata lain selain bersyukur. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain bersyukur.

Apakah yang bisa saya lakukan untuk para insan Tzu Chi? Kalian membantu saya menjalankan Tzu Chi untuk menolong orang-orang yang menderita. Asalkan ada orang yang melaporkan, insan Tzu Chi akan segera mencurahkan perhatian, mencari tahu kebutuhan mereka, dan memberikan bantuan. Semua ini membuat saya sangat tersentuh.


Saat bergerak untuk menjalankan misi Tzu Chi, kalian selalu bekerja sama dan sangat tertib. Segala perbuatan kalian menuai pujian orang-orang. Bukan hanya satu orang yang dipuji, melainkan seluruh insan Tzu Chi. Ini berkat adanya budaya humanis Tzu Chi. Jadi, misi amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis sangatlah penting. Sesungguhnya, apa yang Tzu Chi lakukan? Singkat kata, "demi ajaran Buddha, demi semua makhluk".

Kita adalah umat Buddha. Sejak awal berdirinya Tzu Chi, kita berjuang demi umat manusia dan ajaran Buddha. Sebagai umat Buddha, kita selalu berpegang pada ajaran Buddha, yakni cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Sesungguhnya, Buddha mengajarkan untuk memiliki cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin agung. Dengan cinta kasih agung, kita berusaha untuk mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan bagi dunia. Inilah cinta kasih agung tanpa syarat.

Baik orang yang kita kenal maupun tidak, kita berharap semuanya hidup bahagia dan tenteram. Inilah harapan seluruh insan Tzu Chi. Dengan cinta kasih agung, kita menginspirasi orang-orang di seluruh dunia untuk bekerja sama dengan harmonis. Berikutnya, welas asih agung yang merasa sepenanggungan. Melihat orang lain menderita, kita turut merasakan penderitaan mereka. Kita semua memiliki welas asih agung seperti ini. Inilah yang Buddha ajarkan pada kita.


Lihatlah Bodhisatwa Avalokitesvara. Sesungguhnya, beliau telah mencapai kebuddhaan di masa lampau dengan nama Tathagata Pengetahuan Dharma Sejati. Jadi, Bodhisatwa Avalokitesvara sesungguhnya telah mencapai kebuddhaan. Namun, beliau berikrar untuk selamanya berada di Dunia Saha guna menolong semua makhluk yang menderita. Beliau selalu turut merasakan penderitaan semua makhluk.

Berhubung tidak tega melihat semua makhluk menderita, beliau berikrar untuk terjun ke tengah umat manusia. Karena itulah, beliau datang ke dunia ini meski telah mencapai kebuddhaan. Begitu pula dengan Bodhisatwa Ksitigarbha. Beliau pun telah mencapai kebuddhaan. Namun, demi orang-orang yang menderita di dunia ini, beliau berikrar untuk tidak mencapai kebuddhaan sebelum neraka kosong.

Kita juga hendaknya bertekad untuk menginspirasi orang-orang berbuat baik agar Bodhisatwa Ksitigarbha tidak perlu begitu bersusah payah. Dengan welas asih agung yang merasa sepenanggungan, Bodhisatwa Avalokitesvara datang ke Dunia Saha untuk membantu Bodhisatwa Ksitigarbha. Kita hendaknya juga membantu kedua Bodhisatwa ini membimbing semua makhluk.


Bodhisatwa sekalian, di dunia tempat tinggal kita ini, ada penderitaan, juga ada kebahagiaan. Bagaimanapun latar belakang keluarga kalian, kita semua memiliki cinta kasih yang sama. Karena itulah, kita selalu memiliki topik pembicaraan yang sama dan hati kita selalu bersatu. Dengan kesatuan hati dan ikrar, kita menapaki Jalan Bodhisatwa bersama.

Hendaklah kita saling membantu dan saling mengasihi. Berhubung kalian kembali dari negara yang berbeda-beda, saya berharap kalian dapat berbagi kisah agar saya dapat mengetahui, mengenal, dan memahami kondisi Tzu Chi di berbagai wilayah. Saya selalu menantikan kisah dari kalian. Jika kalian ingin mendengar ceramah saya, itu sangat mudah.

Setiap hari, dengan menekan satu tombol saja, orang-orang di seluruh dunia dapat mendengar ceramah saya. Kini, teknologi sangatlah maju. Saya sering mendengar relawan kita berkata, "Master, ajaran Master pada saat itu telah kami jalankan seumur hidup." Asalkan memiliki jalinan jodoh dengan saya, kalian akan bisa menerima ajaran saya. Jika bisa menerima ajaran saya, kalian hendaknya mengingatnya di dalam hati dan mempraktikkannya dalam menghadapi semua orang dan hal.

Saya sering berkata bahwa saya tidak memiliki kelebihan apa pun. Saya tidak pernah bertikai dengan siapa pun di dunia ini. Tekad dan ikrar saya hanya satu, yaitu bersumbangsih bagi dunia. Saya berharap dapat lebih sering berbincang-bincang dengan kalian yang memiliki jalinan jodoh dengan saya. Saya juga ingin memotivasi kalian untuk terus bergandengan tangan dan menapaki jalan yang sama dengan saya dalam jangka panjang dari kehidupan ke kehidupan. Inilah harapan terbesar saya.

Makin banyak orang, makin besar kekuatan dan cinta kasih
Memperoleh pencapaian dengan kerja sama yang harmonis
Mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin di Jalan Bodhisatwa
Menginspirasi orang-orang untuk berbuat baik di Dunia Saha

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 30 Maret 2026
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -