Ceramah Master Cheng Yen: Belajar dan Sadar untuk Menghindari Perbuatan Jahat serta Mengarah pada Kebajikan


“Hari ini, saya ingin berbagi pengalaman ketika pertama kali bergabung di platform alat bantu. Saat itu, ada seorang relawan yang mendorong sebuah kursi roda berukuran 24 inci dan meminta kami membantu mengganti bannya. Namun, ketika saya melihat ban yang tergantung di kursi roda, sepertinya ukurannya hanya sekitar 20 inci,”
kata Zou Zhi-yong, Staf Departemen Teknik Audio Visual.

“Saat itu, nada bicara saya sedikit tidak senang dan langsung berkata, ‘Ban ini tidak mungkin bisa dipasang.’ Relawan itu hanya menjawab dengan lembut, ‘Mungkin memang tidak bisa, tetapi apakah kita mau mencobanya terlebih dahulu?’ Pada akhirnya, ban itu benar-benar berhasil dipasang. Pada saat itu, saya merasa sangat terkejut dan malu,” lanjut Zou Zhi-yong.

“Saya menyadari bahwa saya telah membawa kebiasaan dan sikap saya sendiri ke dalam proses belajar. Sementara, sikap relawan itu sama sekali berbeda. Beliau tidak menolak atau mengkritik, melainkan mengajak saya untuk mencobanya. Hal ini mengingatkan saya pada ajaran Master tentang ‘belajar’ dan ‘sadar’. ‘Belajar’ bukan hanya tentang mempelajari keterampilan, melainkan juga melatih sikap hati; ‘kesadaran’ yang sejati adalah sesuatu yang dirasakan melalui pengalaman,” pungkas Zou Zhi-yong.

Sesungguhnya, ajaran Buddha adalah prinsip kebenaran di dunia. Terlepas dari apakah kita seorang umat Buddha atau bukan, ajaran Buddha pada dasarnya mengajarkan kepada manusia untuk berbuat baik, mencegah munculnya niat jahat di dalam hati, dan membimbing kita untuk menapaki Jalan Bodhisatwa di dunia.

"Jalan Bodhisatwa" mungkin terdengar seperti sesuatu yang eksklusif hanya milik agama Buddha, tetapi sebenarnya itu hanya perbedaan istilah dalam bahasa. Makna sebenarnya ialah "cinta kasih berkesadaran". Tadi, kita juga mendengar tentang "belajar" dan "sadar". Bukankah ketika kecil setiap orang masih lugu dan belum memahami banyak hal?

Makhluk hidup, khususnya manusia, selalu hidup di tengah berbagai keadaan dunia yang beragam dan membingungkan. Manusia sering kali dipengaruhi oleh lingkungan yang besar ini sehingga pikirannya menjadi kacau. Akibatnya, kita tidak lagi memahami kebenaran sejati dan arah yang benar.


Baik Buddha maupun tokoh-tokoh seperti Konfusius dan Laozi, semuanya muncul pada masa lampau untuk membimbing arah kehidupan manusia. Jadi, ajaran mereka patut kita pelajari dan renungkan. Tidak harus menjadi seorang Buddhis terlebih dahulu untuk memahami ajaran Buddha. Sesungguhnya, saya sendiri sering membaca Alkitab ataupun Al-Qur'an.

Saya melihat bahwa pada dasarnya nilai-nilai kebenarannya sejalan dengan ajaran Buddha. Jadi, kita harus benar-benar bersyukur dan menghormati setiap agama. Saya menghormati semua agama sehingga dapat memuji dan belajar satu sama lain. "Belajar" dan "sadar" ini perlu kita hayati dengan sungguh-sungguh. Memang benar, selain melakukan segala sesuatu dengan sukarela, kita harus menerima segala kondisi dengan sukacita.

Untuk datang ke Guandu, perjalanannya cukup panjang dan butuh waktu yang sangat lama. Namun, semuanya datang dengan kerelaan hati. Ketika kita datang dan duduk di sini, meski belum mengenal satu sama lain, setiap orang yang hadir tampak penuh dengan niat baik. Bukankah inilah arah kebaikan yang seharusnya kita pelajari?

“Kami tidak akan melupakan tekad awal untuk menolong semua makhluk, menggarap ladang berkah dengan tekun, mewariskan silsilah Dharma, dan belajar untuk tersadarkan. Kami akan terus menggalakkan vegetarisme demi melindungi Bumi. Dengan sepenuh hati, kami bersedia,” kata Zheng Ya-yun, Ibu dari Chen Xing.

Saya percaya bahwa setiap orang selalu membangun ikrar setiap hari. Ketulusan hati seperti ini bukan hanya muncul hari ini, melainkan selama 30 hingga 40 tahun, kalian telah bersatu hati dengan tekun dan bersemangat. Saya merasa sangat bersyukur. Hal yang paling berharga dalam kehidupan ialah menjadi diri sendiri dan tidak ada penyesalan ketika menginventarisasi kehidupan. Saya percaya bahwa kalian pasti seperti itu.


“Ini adalah Chen Xing. Ketika usianya masih 11 bulan, dengan bantuan Tzu Chi, kami menjalani perawatan di RS Kanker Tokyo. Awalnya, kami berharap masih bisa mempertahankan satu matanya, tetapi pada akhirnya, bahkan harapan terakhir itu pun tidak dapat terwujud. Saya merasa bahwa inilah jalan yang diberikan oleh Tuhan untuk saya jalani. Dalam perjalanan ini, saya juga terus belajar dari setiap proses yang saya lalui,”
kata Zheng Ya-yun, Ibu dari Chen Xing.

“Ketika Kakak Ya-ying memulai kegiatan ‘Kebahagiaan Membaca dengan Ujung Jari’, kami pun memperdengarkan kepada anak saya beberapa bagian Kata Renungan Jing Si yang ada di CD,” pungkas Zheng Ya-yun.

“Lilin tanpa sumbu tidak dapat menyala. Bahkan, jika memiliki sumbu, lilin itu tetap harus dinyalakan agar memiliki arti. Saya ingin menerangi diri sendiri dan orang lain. Meski memiliki cinta kasih, kita tetap harus bertindak agar dapat memberikan kehangatan bagi orang lain,” kata Chen Xing, Penyandang tunanetra.

“Kakek Guru, saya Cai Mu-chen, saat ini bersekolah di Sekolah Tunanetra Taipei. Saat ini, saya berusia 17 tahun dan penuh dengan harapan bagi masa depan. Bisa masuk ke Universitas Tzu Chi merupakan sebuah jalinan jodoh yang sangat istimewa. Pada awalnya, saya tidak berencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, karena dorongan dari para guru, teman-teman, dan keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menantang diri saya,” kata Cai Mu-chen, Penyandang tunanetra.

“Walaupun saya mengalami cerebral palsy, saya merasa bahwa selama memiliki keinginan untuk belajar, saya pasti memiliki kesempatan untuk mengubah cara pandang orang lain terhadap saya. Bagi saya, belajar adalah kunci yang terbaik. Selama kita memiliki hati yang bersedia untuk belajar, segala sesuatu menjadi mungkin,” pungkas Cai Mu-chen.


Mu-chen dan Chen Xing membawa pesan agar kita menyadari berkah, bersyukur, dan tahu bagaimana menghargai kebahagiaan yang kita miliki setiap hari. Sesungguhnya, inilah kehidupan. Kita harus terus maju selangkah demi selangkah. Jangan meremehkan diri sendiri. Kita harus berani terhadap diri kita sendiri dan berani mengatasi kekurangan-kekurangan kecil yang ada dalam diri. Gunakanlah kebijaksanaan dan potensi bajik yang Anda miliki. Belajarlah dengan tekun agar kelak Anda dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

Saya sangat berterima kasih kepada kalian. Saya terlebih berterima kasih kepada orang tua yang telah menyemangati anak-anak mereka sehingga anak-anak memiliki energi yang positif dan menemukan jalan belajar yang baik dalam kehidupan. Dalam hidup, jangan terlalu banyak memikirkan kerisauan. Sesungguhnya, kita memiliki jalinan jodoh untuk bisa berkumpul dengan orang-orang baik. Inilah kebahagiaan sejati.

Melihat anak-anak bertumbuh, hendaknya kita terus membangkitkan kekuatan cinta kasih untuk mendampingi dan menyemangati mereka. Saya merasa sukacita karena mereka memiliki jalinan jodoh dengan Tzu Chi. Saya berterima kasih kepada Bodhisatwa sekalian yang telah menghimpun kekuatan cinta kasih.

Saya berharap masyarakat di dunia dapat dipenuhi dengan orang-orang baik yang bersedia membantu sesama dengan cinta kasih. Selama ada begitu banyak orang baik, masyarakat pasti memiliki harapan dan setiap orang dapat menjalani hari-hari dengan baik dan penuh kebahagiaan. Saya mendoakan kalian semua. Terima kasih.

Belajar dan sadar untuk menghindari perbuatan jahat serta mengarah pada kebajikan
Memiliki keyakinan dan berpegang pada ajaran untuk mempraktikkan kebajikan dengan sukacita
Berterima kasih atas pengajaran dan membawa manfaat bagi semua makhluk
Menghimpun cinta kasih untuk menciptakan kebahagiaan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 10 Maret 2026 
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -