Ceramah Master Cheng Yen: Benih Kebajikan Berbuah Berkah

Sungguh, kita bisa melihat penderitaan di mana-mana. Dunia ini penuh dengan penderitaan. Penderitaan ini adalah akibat dari karma buruk. Karena itulah, kita hendaknya bersyukur atas kondisi kehidupan kita sekarang. Dengan adanya rasa syukur, kita akan selalu menggenggam waktu untuk bersumbangsih bagi dunia. Inilah yang harus kita lakukan.

Kita harus memahami hukum sebab akibat. Kita harus tahu bahwa berbuat baik akan berbuah berkah dan menyimpang dari jalan yang benar akan mendatangkan penderitaan. Ada yang baru merasakan penderitaan di kehidupan mendatang, ada pula yang langsung merasakan penderitaan di kehidupan sekarang. Jadi, ruang, waktu, dan kehidupan manusia adalah tiga hal yang tidak terpisahkan. Ketiganya berkaitan dengan hukum sebab akibat.

Apa yang saya ulas setiap hari tak luput dari tiga hal, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Secara geografis, sebagian tempat di dunia ini sangatlah jauh dari kita. Manusia sangat kecil dan alam semesta ini sangat luas sehingga kita merasa bahwa sebagian tempat sangat jauh.


Sesungguhnya, bisa memahami kebenaran atau tidak, semuanya bergantung pada pikiran kita. Jika kita merenungkan dengan sungguh-sungguh, kita akan memahami bahwa kita harus senantiasa waspada dan menggenggam waktu. Jika ada pikiran atau perbuatan yang menyimpang, kita harus segera berintrospeksi diri.

Sesuai hukum sebab akibat, apa yang kita ucapkan dan lakukan sekarang akan menentukan kondisi kita di masa mendatang. Apa yang ditanam sekarang, itulah yang akan dituai kelak. Jadi, kita harus memahami bahwa benih dan jalinan jodoh di kehidupan lampaulah yang menentukan buah di kehidupan sekarang. Demikian benih yang ditabur, demikian pulalah buah yang dihasilkan, yaitu kondisi kita sekarang.

Bagaimanapun kondisi kita sekarang, kita harus berpuas diri dan bersyukur. Aksara "en" (syukur) terdiri atas "yin" (benih) di bagian atas dan "xin" (pikiran) di bagian bawah. Jadi, di atas pikiran ada benih dan di bawah benih ada pikiran. Dengan membangkitkan sebersit pikiran dan menuangkannya ke dalam tindakan, berarti kita telah menanam sebutir benih yang akan berbuah di masa mendatang. Benih yang kita tanam sekarang dilandasi oleh pikiran yang timbul dan akan berbuah di kehidupan mendatang.


Kita bisa melihat kebakaran hutan di Argentina. Banyak rumah warga yang hangus terbakar. Bagaimana kita menolong korban kebakaran? Insan Tzu Chi berada di wilayah yang berjarak lebih dari 1.000 atau 2.000 kilometer dari lokasi kebakaran. Saat dunia dilanda bencana, saya sangat khawatir. Saya juga turut merasakan kepedihan dan penderitaan mereka. Saya merasa sangat sedih dan khawatir.

Bodhisatwa sekalian, saya terus mengimbau orang-orang untuk menggalang lebih banyak Bodhisatwa dunia. Di dunia yang penuh Lima Kekeruhan ini, banyak bencana yang terjadi. Kini, kita sungguh membutuhkan banyak orang untuk menciptakan berkah bagi dunia.

Di wilayah yang dipenuhi berkah, bencana akan berkurang. Jadi, untuk membebaskan dunia dari bencana, kita harus menginspirasi lebih banyak orang untuk mengerahkan cinta kasih. Ini bagaikan menabur benih kebajikan. Kita juga harus mendampingi mereka agar tercipta kondisi pendukung untuk pertumbuhan benih tersebut. Saat ada orang yang membutuhkan, kita harus segera menolong mereka. Inilah yang disebut berbuah. Apa buahnya? Kebahagiaan.


Dengan menanam benih berkah, kita akan menuai berkah. Dengan demikian, ketenteraman akan terwujud. Jadi, dengan menciptakan berkah, kita dapat meredam bencana serta mewujudkan ketenteraman dan keharmonisan. Dunia terbebas dari bencana dan masyarakat harmonis, ini adalah berkah bagi semua orang.

Bodhisatwa sekalian, untuk menciptakan lebih banyak berkah, kita harus menggalang lebih banyak Bodhisatwa. Di mana ada banyak orang menciptakan berkah, di sana ketenteraman akan terwujud. Jadi, ketenteraman adalah hasil dari karma baik kolektif semua makhluk, sedangkan kemiskinan dan penderitaan adalah akibat dari karma buruk kolektif semua makhluk. Jadi, Bodhisatwa sekalian, kita harus lebih bersungguh hati dan mendalami Dharma.

Saya sering berkata bahwa kita harus memahami segalanya secara tuntas serta bisa membedakan benar dan salah. Hal yang seharusnya dilakukan hendaklah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, hal yang tidak seharusnya dilakukan hendaklah segera dihentikan. Jadi, lakukanlah segala kebajikan dan hindari segala kejahatan.

Jika sudah membangkitkan niat baik, kita harus terus menumbuhkannya. Meski sudah berbuat baik, tetapi setelah memahami hukum sebab akibat, kita harus lebih tekun berbuat baik.


Kita juga harus menyemangati orang-orang yang belum membangkitkan niat baik untuk menggenggam jalinan jodoh dan berbuat baik bersama serta yang sudah pernah berbuat jahat untuk segera berhenti. Kita juga harus mendampingi dan membimbing orang yang belum berbuat jahat untuk berbuat baik. Intinya, bimbingan dan pendampingan sangatlah penting.

Bodhisatwa sekalian, dengan kekuatan cinta kasih, kita dapat menciptakan berkah bagi masyarakat. Janganlah meremehkan berkah sekecil apa pun yang dapat kita ciptakan. Dengan terus bersumbangsih semampu kita, kita dapat menciptakan pahala yang tak terhingga.

Waspada dan merenungkan mengapa dunia ini penuh penderitaan
Memahami hukum sebab akibat dan memperbaiki kesalahan
Hindarilah segala kejahatan dan lakukan segala kebajikan
Membimbing dengan cinta kasih untuk menciptakan berkah bersama

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 25 Maret 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 27 Maret 2021
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -