Ceramah Master Cheng Yen: Berbuat Baik dan Menekan Nafsu Keinginan


“Berhubung tidak menikah dan tidak punya anak, beliau sangat kesepian. Setelah menerima laporan, kami langsung membawanya ke Mackay Memorial Hospital di Tamsui untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tulang panggulnya patah. Karena itu, beliau segera diopname. Dua hari kemudian, beliau langsung menjalani operasi,”
kata Lin Shu-zhen relawan Tzu Chi.

“Hari ini, kita akan memasang pegangan di kamar mandi karena kita berharap Nenek dapat pergi ke kamar kecil sendiri. Pertama, ini lebih ramah lingkungan karena beliau tak perlu menggunakan popok lagi. Kedua, harga dirinya juga lebih terjaga,” lanjut Lin Shu-zhen relawan Tzu Chi.

“Ini sungguh sangat praktis. Dengan adanya pegangan ini, lebih mudah bagi saya untuk berdiri. lebih mudah bagi saya untuk berdiri,” kata Nenek Li.

“Berhubung Nenek hidup sendirian, maka kita mencurahkan cinta kasih padanya sebanyak yang kita bisa. Melihat kondisinya seperti ini, bagaimana bisa kita tega tidak mencurahkan cinta kasih padanya?” pungkas Lin Shu-zhen relawan Tzu Chi.

Kita bisa melihat seorang nenek yang hidup sebatang kara. Siapa yang akan merawatnya? Para Bodhisatwa dunia.

Sekelompok orang yang penuh cinta kasih mengantarkannya berobat ke dokter serta membantu membersihkan dan memperbaiki rumahnya. Mereka juga memasang pegangan baginya agar dia tidak terjatuh saat berjalan. Kita bisa menyaksikan sumbangsih para Bodhisatwa dunia ini. Kita mempraktikkan Dharma yang dibabarkan oleh Buddha pada lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Mari kita renungkan kondisi masyarakat pada zaman dahulu.


Dahulu, apakah ada sekelompok besar orang yang mempraktikkan Dharma? Tidak ada. Puluhan tahun yang lalu, Tzu Chi dimulai dari sebersit niat baik. Kita menjalankan Tzu Chi dengan sumber daya yang terbatas. Karena itulah, saya mengimbau orang-orang untuk menyisihkan 50 sen dari uang belanja. Dengan menyisihkan 50 sen, orang-orang tetap dapat makan kenyang. Mereka juga bisa memupuk berkah.

Kita bisa melihat praktik segenggam beras di Myanmar. Dengan makan 80 persen kenyang, kita dapat menyisihkan 20 persen untuk menolong sesama. Di Myanmar, orang-orang menyisihkan segenggam beras setiap kali akan memasak untuk menolong orang yang lebih membutuhkan. Jadi, mereka tetap dapat makan kenyang.

Beras yang disisihkan setiap keluarga akan dikumpulkan setiap bulan. Awalnya, beras yang terkumpul setiap bulan lebih dari tiga ribu kilogram. Karena itulah, saya pernah berkata bahwa akumulasi segenggam demi segenggam beras bisa melebihi tiga ribu kilogram. Hingga kini, praktik segenggam beras masih terus dijalankan. Kini, beras yang terkumpul setiap bulan sudah melebihi 20 ribu kilogram.

Dari sini bisa diketahui bahwa kekuatan akan meningkat seiring bertambahnya orang. Mereka bisa menolong warga di banyak desa agar terbebas dari kelaparan. Bersumbangsih semampu kita untuk menolong sesama adalah prinsip kebenaran. Prinsip kebenaran ini akan terus disebarkan. Inilah yang disebut Dharma. Setelah mendengar Dharma, kita harus mempraktikkannya. Dengan sumbangsih kecil, kita juga bisa menolong orang-orang.

 

Kita bisa melihat berbagai negara dilanda bencana. Akibat perubahan iklim yang ekstrem, terjadi banyak bencana alam yang mengkhawatirkan. Bumi yang semula berwarna biru dan hijau dan sangat indah, kini telah berubah. Kita hendaklah melapangkan hati hingga bisa merangkul alam semesta.

Nafsu keinginan yang tidak berujung akan mendatangkan penderitaan tak terkira. Bagaimana agar kita terbebas dari penderitaan? Kita harus menekan nafsu keinginan hingga kita bisa berlapang hati. Dengan menekan nafsu keinginan, secara alami hati kita akan menjadi lapang. Saat kita memiliki kelapangan hati yang bisa merangkul alam semesta, saat itulah kita terbebas dari belenggu nafsu keinginan. Jadi, kita harus mengecilkan ego agar hati kita menjadi lapang.

Semua orang hendaknya saling mengasihi dan membantu untuk memperpanjang jalinan kasih sayang dan memperluas cinta kasih. Hingga waktunya tiba, kita pun bisa pergi dengan tenang. Dengan bersumbangsih bagi dunia, saat sudah berusia lanjut dan tiba waktunya, kita bisa pergi dengan damai dan tenang. Inilah yang disebut berkah.

Kita juga harus membina kebijaksanaan kita. Demikianlah kita bisa mencapai kebuddhaan. Mencapai kebuddhaan berarti mencapai pencerahan. Jika telah mencapai pencerahan dan menyatu dengan kebenaran, kita bisa datang dan pergi dengan damai. Ini disebut Jalan Buddha.

Bodhisatwa sekalian, saya berharap kalian semua dapat menyadari bahwa kini dunia ini penuh dengan bencana. Selain itu, juga ada pandemi COVID-19. Saya ingin kembali mengingatkan kalian bahwa satu satunya obat mujarab bagi pandemi ini ialah bervegetaris. Jika semua orang bervegetaris dan tidak menyembelih hewan, hewan-hewan akan hidup dan mati secara alami.

 

Sama seperti manusia, hewan juga terlahir karena kekuatan karma. Mereka hidup di Bumi yang sama dengan kita. Kita juga terlahir di dunia ini karena kekuatan karma. Namun, di kehidupan lampau, kita telah memupuk berkah dan menjalankan sila sehingga kini bisa terlahir sebagai manusia. Di kehidupan sekarang, jika kita tidak menjalankan sila dan berbuat baik, kita mungkin akan terlahir di alam binatang di kehidupan berikutnya. Jadi, kita harus memperhatikan perbuatan kita.

Setelah memahami hukum sebab akibat, janganlah kita membiarkan diri sendiri terlahir di alam binatang pada kehidupan mendatang. Untuk itu, kita harus bervegetaris dan menyosialisasikan vegetarisme. Sebagian orang mungkin berkata, "Saya tidak menyembelih hewan." Benar, mereka mungkin tidak menyembelih hewan, tetapi mereka mengonsumsi daging. Orang-orang yang menyembelih hewan berkata, "Bukan niat saya untuk menyembelih hewan. Ini karena orang-orang ingin memakan daging."

Untuk sepiring daging, berapa banyak air yang dihabiskan untuk menernakkan hewan? Sebesar apa pencemaran bumi dan udara yang ditimbulkan? Ini merupakan sebuah siklus keburukan. Jadi, Bodhisatwa sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus bersungguh hati dan merenung dengan tenang. Demikianlah kita melatih konsentrasi.

Jadi, kita harus senantiasa berkonsentrasi, baru bisa mengembangkan kebijaksanaan. Jika tidak bisa berkonsentrasi, bermeditasi pun percuma. Jadi, dengan adanya konsentrasi, kita dapat mengembangkan kebijaksanaan. Dengan adanya kebijaksanaan, kita dapat memahami kebenaran sejati tentang alam semesta ini. Jadi, mari kita merenung dengan tenang, berkonsentrasi, dan lebih bersungguh hati.

Merawat lansia sebatang kara dengan cinta kasih yang berlimpah
Membangun ikrar welas asih untuk menyisihkan beras
Memahami kebenaran sejati di Jalan Buddha
Menjalankan sila, berbuat baik, dan merenung dengan tenang

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 29 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 01 Mei 2021
Orang bijak dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi yang diperlukan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -