Ceramah Master Cheng Yen: Berpegang Teguh pada Tekad dengan Keyakinan, Ikrar, dan Praktik
“Kami adalah generasi pertama Tzu Ching di Singapura. Kini, kami juga telah memenuhi janji yang pernah kami sampaikan kepada Master bahwa kami akan kembali untuk mengemban tanggung jawab. Kami telah mendedikasikan diri di Tzu Chi, tidak hanya bersumbangsih melalui bidang profesional, melainkan juga bergabung dalam barisan relawan. Kami mengemban tanggung jawab dengan tekun untuk terus melindungi silsilah Dharma dan mazhab Tzu Chi,” kata Liu Lun-qiao, Wakil ketua Tzu Chi Singapura.
“Saya mengenal Tzu Chi pada tahun 2011, kemudian menjadi relawan. Melalui berbagai kegiatan, seperti bazar amal dan baksos kesehatan di luar negeri, meski tubuh terasa sangat lelah, hati saya justru terasa sangat puas. Saya merasa bahwa inilah yang disebut dengan kekayaan batin,” kata Jiang Xin-yi, relawan Tzu Chi.
“Kami memiliki relawan senior dan relawan muda sebagai kekuatan baru. Kami benar-benar melihat harapan bagi Tzu Chi Singapura,” kata Liu Rui-shi, Ketua Tzu Chi Singapura.
“Murid Jing Si Singapura berikrar dengan tulus untuk tekun dan bersemangat melatih diri, senantiasa mendengarkan Dharma, memperbaiki diri, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Dengan hati Buddha dan tekad Guru, kami mengemban tanggung jawab dengan berani. Kami juga akan menjaga tekad dan mempraktikkan ajaran dengan keyakinan, ikrar, dan praktik.”
Setelah membangun tekad dan ikrar, yang penting ialah mewujudkannya melalui tindakan nyata. Dalam melatih diri dan membangun ikrar, keduanya memiliki prinsip yang sama. Selama ada keyakinan, ikrar, dan praktik, tidak ada hal di dunia ini yang tidak dapat dilakukan. Melatih diri yang sesungguhnya ialah mencapai kesadaran. Meski hanya satu kata, tidak mudah untuk dicapai. Dalam kehidupan, kita harus memiliki tujuan. Ada tujuan yang justru membawa kita makin tersesat, ada pula orang yang membimbing kita menuju kesadaran.


Di jalan menuju kesesatan, kita diberi tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dinikmati dan membawa kebahagiaan. Bagaimana dengan jalan menuju kesadaran? Jika ditanya seperti apa kondisi tersadarkan atau tercerahkan, sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Jika sulit dijelaskan, mengapa kita memilih jalan tersebut? Bukankah ini terdengar kontradiktif? Tidak dapat menjelaskannya, tetapi tetap memilihnya. Bukankah itu sangat kontradiktif?
Namun, ada satu hal yang sederhana untuk dikatakan, yaitu dengan melatih diri, kita dapat mencapai kebuddhaan. Bagaimana cara mencapai kebuddhaan? Seperti apa rasanya mencapai kebuddhaan? Jika kalian bertanya kepada saya, saya juga tidak tahu. Semuanya kembali pada satu kata, yaitu "keyakinan". Lalu, bagaimana kita dapat tersadarkan? Kita harus memiliki ikrar.
Saya memiliki keyakinan yang teguh terhadap Buddha. Oleh karena yakin terhadap Buddha, saya bersedia menempuh jalan ini. Saya rela menghadapi segala penderitaan yang mungkin datang. Saya selalu berpegang pada keyakinan dan ikrar. Seberat apa pun penderitaannya, saya tetap yakin. Jika kita memiliki keyakinan dan tahu bahwa jalan ini sangat berat, apakah kita bersedia menempuhnya? Ya, kita bersedia. Mengapa kita bersedia? Karena kita yakin.
Yakin pada apa? Pada arah ini. Di mana arah tersebut? Selama ada ikrar, kita akan memiliki kekuatan. Dengan begitu, kita akan sampai di tempat yang kita yakini. Namun, ini masih terdengar terlalu umum. Tidak ada jawaban yang benar-benar jelas. Kekuatan ikrar pada akhirnya akan kembali pada satu kata, yaitu "keyakinan". Jadi, selama kita percaya pada pencerahan Buddha, kita dapat menghindari kebingungan dan tidak lagi tersesat.


Ketika berbicara tentang kesadaran, tidak ada perasaan nyata yang dapat kita rasakan langsung. Justru karena itu, kita perlu melatih diri. Karena yakin, kita harus membangun ikrar. Ikrar untuk apa? Untuk menempuh jalan menuju kesadaran. Berhubung telah berikrar untuk menempuh jalan menuju kesadaran yang sangat panjang, arah kita tidak boleh menyimpang. Kita harus terus melangkah di jalan itu.
Hendaknya kita mempelajari Jalan Bodhisatwa. Jika sudah yakin pada Jalan Bodhisatwa, kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Hendaknya kita belajar untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Kapan kita akan sampai di tujuan? Seperti apa pencapaian akhirnya? Kita harus memiliki keyakinan yang teguh agar mampu untuk terus berjalan di jalan ini. Jika kita terus berhenti untuk bertanya, kita tidak akan pernah sampai. Dengan satu keyakinan dalam hati, kita harus terus berjalan.
Ketika menapaki Jalan Bodhisatwa, kita harus dipenuhi sukacita Dharma. Sukacita Dharma itulah yang membuktikan bahwa jalan ini adalah jalan yang kita pilih dari dalam hati. Setelah membangkitkan tekad dan ikrar, jalan yang ditempuh para Bodhisatwa masih sangat panjang. Saya selalu mengatakan bahwa untuk memperoleh pencapaian, kita harus terlebih dahulu mendukung pencapaian orang lain. Hendaknya kalian sungguh-sungguh dalam membangun tekad dan ikrar.
Saya menyampaikan semua ini kepada kalian agar setelah kembali, kalian dapat memikirkannya dengan baik dan saling berdiskusi. Dengan begitu, kita dapat saling menumbuhkan kebijaksanaan. Begitulah kebijaksanaan terus terakumulasi. Ketika saya menyampaikan sesuatu, kalian menyerapnya. Ketika mendengar kalian berbagi bahwa kalian bersedia melakukan ini dan itu, saya juga menyerap kebijaksanaan kalian. Jadi, kita dapat saling membimbing untuk masuk ke Jalan Bodhisatwa.

Saya sering berkata, "Anda menggandeng saya dan saya menggandeng Anda." Di kehidupan yang akan datang, hendaknya kita saling menuntun. Saat ini, kita semua telah menjalin jodoh baik. Di kehidupan mendatang, hendaknya kita terus saling menuntun dan mendampingi untuk melakukan sesuatu bagi dunia.
Di Dunia Saha ini, semua makhluk akan terus menciptakan karma buruk. Dunia Saha yang penuh penderitaan ini akan selalu ada di sini dan orang-orang yang memiliki jalinan jodoh akan datang ke dunia ini. Meski tahu bahwa dunia ini penuh penderitaan, kita harus mampu menanggungnya dan menginspirasi orang-orang di dunia ini.
Ketika sudah tidak mampu menanggungnya, seseorang bisa meledak dan mengambil risiko untuk melakukan kejahatan. Itu semua terjadi karena tidak mampu menanggung penderitaan dan terbuai oleh nafsu keinginan. Ketika tidak mendapatkannya, mereka memaksakannya. Oleh karena itulah, mereka melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan dalam kehidupan ini.
Bagi orang yang baik, meski sangat menderita, mereka menerima dengan sukarela dan tetap menjalani kehidupan dengan tenang. Inilah pelatihan diri. Saat ini, kita semua sedang menjalani pelatihan diri. Hidup di dunia ini, kita harus ingat bahwa Buddha memberi tahu kita tentang Dunia Saha yang diartikan sebagai "sanggup menanggung".
Di Dunia Saha ini, kita harus sanggup menanggung penderitaan. Kita harus mampu menanggungnya dengan tegar. Kita harus mampu menanggung penderitaan, tidak takut menghadapi kesulitan, dan tetap berkata, "Saya ingin menolong orang lain." Inilah Jalan Bodhisatwa.
Mengemban misi dengan keyakinan dan ikrar yang teguh
Mengubah kesulitan menjadi kebahagiaan dengan sukacita Dharma
Menciptakan berkah, membina kebijaksanaan, dan saling menuntun
Belajar mengubah kesesatan menjadi kesadaran
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 20 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 22 September 2026







Sitemap