Ceramah Master Cheng Yen: Bersatu dengan Cinta Kasih yang Tulus dan Meneruskan Jalinan Jodoh Dharma
“Guru Zhang Shu-hua dari kelas okarina menderita polio sejak kecil dan mengalami keterbatasan fisik. Hari ini, beliau memimpin tiga peserta penyandang tunanetra untuk memainkan lagu ‘Kerinduan Terhadap Master’,” kata Zhang Xiong-he, relawan Tzu Chi.
Mereka sungguh merupakan Bodhisatwa yang berani, tekun, dan bersemangat. Meski memiliki sedikit keterbatasan fisik dan sedikit kekurangan, tetapi berkat ketekunan dan semangat mereka, mereka dapat sepenuhnya menampilkan keindahan. Kita semua tahu bahwa bagi orang-orang yang mengalami keterbatasan di antara enam indra, kehidupan mereka sangatlah sulit.
Namun, ada pula orang yang enam indranya sempurna, tetapi masih diliputi delusi dan kegelapan batin. Namun, beberapa hadirin yang kita lihat ini, meski fisik mereka tidak sempurna, tetapi batin mereka sangatlah sehat. Mereka juga menunjukkan keindahan. Kita telah menyaksikan dan mendengar mereka memainkan musik yang sangat merdu.
Saya sering berkata bahwa hanya latihan yang sungguh-sungguhlah yang dapat menghasilkan sesuatu yang bajik dan indah, seperti musik yang merdu dan tata krama dalam menghadapi semua orang dan hal. Semua ini adalah yang terindah. Meski mata atau bagian tubuh lainnya mengalami keterbatasan, tetapi dengan kondisi batin yang indah, segala sesuatu pun akan indah. Karena itulah, saya sangat mengasihi mereka.

Tadi, kita mendengar lagu tentang "dua butir biji saga". Mereka mungkin tidak bisa membedakan warna, tetapi hati dan pikiran mereka sangatlah jernih. Jadi, cinta kasih ada pada sebersit niat. Cinta kasih mereka sangat murni dan bajik. Saya sungguh mengasihi mereka. Saya sangat bersyukur.
Mendengar lagu ini, mata saya pun berkaca-kaca karena teringat akan seorang murid saya yang baik di Dallas, Amerika Serikat. Dia adalah ketua Tzu Chi di Dallas. Dia adalah seorang relawan senior yang selalu penuh hormat dan menaati aturan. Namun, terakhir kali saya melihatnya, dia terbaring di atas ranjang.
Saya lalu berkata padanya, "Kini, saya telah menggandeng tanganmu. Kelak, kamu juga harus menggandeng saya erat-erat. Ingatlah ikrar kita sebagai guru dan murid dari kehidupan ke kehidupan. Di kehidupan sekarang, saya telah membimbingmu sehingga kamu dapat memahami ajaran Buddha. Ingatlah bahwa di masa mendatang, kamulah yang harus menggandeng tangan saya. Genggamlah tangan saya erat-erat."
Dia adalah murid saya yang sangat baik dan senior. Meski berada jauh dari saya, tetapi hatinya sangat dekat di hati saya. Selain mengemban tanggung hawab sebagai ketua Tzu Chi Dallas, dia juga membimbing para guru, kepala sekolah, dan murid setempat hingga sangat dekat dengan Tzu Chi. Bukan hanya sekolah yang dekat dengan Tzu Chi, hati orang-orang di sekolah juga sangat dekat dengan kita.
Relawan kita juga sering berhimpun dengan mereka dan membimbing murid-murid setempat dengan baik. Saya yakin bahwa murid-murid ini akan meneruskan apa yang insan Tzu Chi lakukan karena mereka telah menyerap ajaran kita ke dalam hati. Inilah Tzu Chi. Saya sangat bersyukur. Jalinan jodoh sungguh tidak terbayangkan.

Tzu Chi telah berdiri 60 tahun. Dahulu, insan Tzu Chi sangat bersusah payah. Akses transportasi saat itu tidak memadai. Para relawan kita harus menjangkau pegunungan dan pedesaan terpencil untuk berkunjung dari rumah ke rumah. Para anggota komite dan Tzu Cheng sangatlah sibuk, terlebih selama pembagian bantuan musim dingin. Karena itu, saya sangat berharap semua orang dapat bersumbangsih dengan cinta kasih.
Kita harus mengerahkan segenap hati dan tenaga dengan ketulusan dan cinta kasih. Kita harus membuat setiap keluarga merasakan bahwa cinta kasih insan Tzu Chi terhadap mereka merupakan cinta kasih yang tulus. Jika benar-benar ingin bersumbangsih, hendaklah kita bersumbangsih dengan tulus. Bersumbangsih bukan tentang betapa banyaknya uang yang diberikan, melainkan betapa tulus dan luhurnya hati kita.
Kita mengasihi orang-orang dengan hati yang tulus. Ini mendatangkan pahala yang sangat besar. Inilah ketulusan dan jalinan jodoh yang bajik dan indah. Kalian benar-benar mengasihi mereka. Jadi, saya berharap semua orang dapat kembali pada semangat donasi 50 sen yang kita praktikkan dahulu.
Donasi 50 sen ini menunjukkan bahwa kita memulai langkah dari kondisi yang sulit. Dana untuk menolong orang saja tidak cukup, bagaimana bisa saya memberikan angpau kepada anggota komite kita dalam rangka Tahun Baru Imlek? Angpau ini berasal dari royalti penerbitan buku Kata Renungan Jing Si. Karena itulah, saya bisa memberikan angpau untuk menjalin jodoh dengan semua orang. Hendaklah kalian menghargainya. Selain itu, juga ada dua butir biji saga.

Bodhisatwa sekalian, kita menjalin jodoh sebagai guru dan murid dari kehidupan ke kehidupan. Jalinan jodoh seperti ini akan diwariskan dari generasi ke generasi dan dari kehidupan ke kehidupan. Kita akan selamanya menapaki Jalan Bodhisatwa dan menjalin jodoh dengan Tzu Chi. Di kehidupan sekarang, kita adalah generasi pertama Tzu Chi. Saya akan terus kembali ke Tzu Chi, baik sebagai generasi kedua maupun generasi ketiga. Dari kehidupan ke kehidupan dan dari generasi ke generasi, saya akan selalu meneruskan misi Tzu Chi.
Mengenai dua butir biji saga ini, saya telah membagikannya di mana-mana. Saya berharap semua orang dapat mengingat maknanya. Uang 50 sen sangatlah ringan, dua butir biji saga juga tidak bernilai, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangat besar. Bagi para insan Tzu Chi, dua butir biji saga ini melambangkan bahwa kita akan meneruskan cinta kasih Tzu Chi hingga selamanya dari kehidupan ke kehidupan.
Enam indra yang murni menunjukkan keindahan dan kebajikan
Senantiasa mengingat cinta kasih yang murni antara guru dan murid
Sumbangsih yang tulus mendatangkan pahala tak terhingga
Saling membimbing dari generasi ke generasi untuk meneruskan jalinan jodoh Dharma
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 09 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 11 Maret 2026







Sitemap