Ceramah Master Cheng Yen: Bersatu Hati Menghadapi Masa Krisis Pandemi


Peralatan medis ini sesungguhnya sudah kami beli. Minggu depan seharusnya sudah bisa dikirimkan ke pusat isolasi. Kantor Cabang Tzu Chi Melaka kapan pun selalu siap membantu meringankan beban Pemerintah.

Mendengarnya, saya sungguh terharu. Orang yang penuh berkah menciptakan berkah kembali di dunia.

Bapak Tan dari Malaysia juga mengatakan kepada saya bahwa beliau sudah mengumpulkan para komisaris kehormatan dan para pengusaha besar setempat. Mereka hendak menyerukan agar di tengah pandemi kali ini, semua orang dapat bersumbangsih dalam bentuk materi dan tenaga. Mereka berikrar untuk menghimpun ratusan juta dolar NT (puluhan miliar rupiah) demi membantu warga yang terdampak pandemi serta memberi bantuan kebutuhan medis bagi seluruh institusi kesehatan di seluruh Malaysia. Mereka bersedia memberikan dukungan ini.

Di masa-masa krisis seperti ini, mereka bersedia mendedikasikan diri untuk memberikan dukungan dan sumbangsih bagi masyarakat dan negara. Bayangkan, bagaimana saya tidak terharu? Mereka adalah orang yang kaya lahir batin. Usaha mereka berskala internasional. Saya berkata bahwa asalkan bisa mendengar seruan mereka, saya merasa jauh lebih tenang.

Jika orang-orang yang mampu di masyarakat dapat mendengar seruan dan bersedia untuk bersumbangsih, tentu akan sangat meringankan tekanan atau kekurangan yang ada.


Dalam telekonferensi dengan relawan Tzu Chi Malaysia, gambar dari setiap relawan menunjukkan bahwa mereka tengah berada di rumah masing-masing. Semua orang hanya dapat berkumpul lewat jaringan. Orang-orang tak dapat berkumpul secara fisik, hanya bisa berkumpul lewat sambungan konferensi video. Lewat jaringan, mereka semua sama-sama beranjali dan memberi hormat. Saya pun bertanya kepada mereka apakah mereka semua baik-baik saja. Melalui layar, saya dapat melihat dan mendengar mereka semua sama-sama menjawab baik.

Terima kasih atas kemajuan teknologi yang memungkinkan saya terhubung dengan orang-orang di tempat yang jauh dan dapat berkumpul di saat yang sama dengan orang-orang dari berbagai keluarga yang berada di tempat yang berbeda-beda. Meski berada jauh dari saya di Taiwan, mereka semua dapat secara bersamaan menyapa saya dan suara saya juga dapat terdengar oleh mereka.

Selain dari Malaysia, ada pula relawan Tzu Chi dengan 6 ribu lebih sambungan dari 30 negara yang turut mendengarkan relawan Tzu Chi Malaysia berbagi tentang kisah perjalanan mereka. Mereka juga mendengar pesan saya. Semua ini terwujud berkat kemajuan teknologi masa kini.

Mendengar relawan Tzu Chi Malaysia berbagi, saya merasa bahwa mereka amat tekun dan bersemangat. Mereka selalu mendengarkan nasihat saya, menyerap Dharma, dan mengikuti ceramah saya dalam Lentera Kehidupan. Kata-kata saya saat ini pasti juga didengar oleh mereka karena saat mereka berbagi, saya mendengar mereka banyak mengulang kata-kata saya. Mereka dapat menyebutkan secara tepat kapan saya mengatakannya. Saya merasa bahwa hati para murid ini menyatu dengan hati saya. Saat saya berbicara, mereka mendengarkan. Ini sungguh membuat saya terharu. Selain itu, seorang lektor universitas di sana juga meneliti virus dalam pandemi kali ini. Beliau juga mendukung gerakan vegetarisme.


Setiap tahun ada sekitar dua juta orang yang meninggal akibat penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Covid-19 bukanlah pandemi terakhir yang harus kita hadapi. Hanya bervegetarislah obat mujarab untuk mencegah pandemi. Selain itu, ada seorang relawan kita yang menderita penyakit kronis. Beliau memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Setelah bervegetaris selama 21 hari ini, beliau memeriksakan diri ke dokter jantungnya. Ternyata dokter akhirnya mengurangi tiga dari empat jenis obat yang dikonsumsinya selama 13 tahun ini. Intinya, manfaat bervegetaris amat luar biasa. Inilah kisah yang mereka bagikan.

Saya berharap berbagai kisah nyata yang saya dengar dari mereka ini dapat saya bagikan kepada banyak orang. Kisah yang mereka bagikan sungguh patut disebarkan.

Intinya, menghadapi pandemi kali ini, institusi kesehatan sungguh harus bekerja keras. Semua institusi medis menghadapi tekanan yang berat. Para tenaga medis bekerja keras sampai kelelahan demi menjaga kesehatan masyarakat, melindungi kehidupan, dan mewariskan cinta kasih.

Masa-masa ini merupakan masa-masa krisis. Beberapa hari ini saya terus mengatakan bahwa kita semua bagaikan memasuki medan perang untuk berperang melawan virus penyakit. Para tenaga medis bagai tengah menghadapi musuh besar. Mereka bagai panglima yang harus mengenakan baju zirah. Mereka semua mengenakan baju zirah untuk terlebih dahulu melindungi diri sendiri. Setelah melindungi diri sendiri, barulah mereka dapat menjaga benteng dan kota.


Jika pintu benteng tidak hancur diserang, negara ini akan aman. Jadi, kini kita semua di seluruh dunia tengah menghadapi musuh besar. Kita semua harus menjaga diri sendiri. Terlebih lagi, para tenaga medis di rumah sakit harus sangat waspada.

Saya berharap Bodhisatwa sekalian, termasuk para dokter dan perawat, dapat menghadapi pandemi ini bersama-sama dengan tetap mengenakan baju zirah pelindung untuk melindungi diri sendiri agar dapat menghalau kedatangan musuh.

Pandemi kali ini sungguh bagaikan musuh besar. Untuk menghalau kedatangan musuh ini, kita harus mengenakan baju perang.

Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Saya sungguh tidak tega melihat kalian semua kelelahan. Saya ingin terus mengingatkan agar kalian dapat menjaga diri dengan baik. Terima kasih kepada para dokter dan perawat, begitu pula para relawan. Saya mendoakan semoga semuanya selamat dan dunia tenteram senantiasa. Untuk berdoa bagi dunia, kita hendaknya bervegetaris untuk menunjukkan ketulusan. Terima kasih.

Para pengusaha berdedikasi meringankan kesulitan warga masyarakat
Tetap tekun menyelami Dharma lewat jaringan
Senantiasa waspada pada masa-masa krisis
Tulus bervegetaris dan berdoa demi ketenteraman dunia

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 3 Juni 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 5 Juni 2021
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -