Ceramah Master Cheng Yen: Bersatu Menuju Kebajikan dan Mewariskan Cinta Kasih
“Pada bulan September dan Oktober 1998, terjadi dua badai besar, yaitu Badai Georges dan Badai Mitch yang berturut-turut melanda Amerika Tengah. Kehidupan warga di sana yang pada awalnya sudah tidak mudah pun menjadi tambah sulit. Pada saat itu, Kakak Stephen Huang dan Paman A-gui pergi ke ibu kota Honduras dan melihat kondisi yang sangat parah. Akibat tanah longsor dan banjir, hampir seluruh ibu kota terendam. Saat itu, ibu kota tersebut benar-benar seperti neraka di dunia,” kata Lin Wei-yang, relawan Tzu Chi.
“Bencana Badai Mitch menjadi awal mula jalinan jodoh Tzu Chi dan Honduras. Bencana itu juga membawa satu jalinan jodoh istimewa, yaitu hadirnya seorang Bodhisatwa, Kakak Zhang Hong-cai. Pada bencana banjir tahun 2010, Kakak Zhang Hong-cai mendengar bahwa ada 200 orang di tempat penampungan yang tidak memiliki makanan,” kata Cai Ya-chun, relawan Tzu Chi.
Sesungguhnya, saat itu kami pun baru tahu bahwa kondisi ekonomi beliau sendiri juga tidak terlalu baik. Namun, beliau memilih untuk menggunakan sisa uang puluhan dolar AS yang dimilikinya untuk membeli kacang kedelai dan mengajarkan orang-orang cara membuat susu kedelai. Beliau bahkan mengolah ampasnya menjadi biskuit kedelai untuk mencukupi kebutuhan gizi mereka,” pungkas Cai Ya-chun.
“Ketekunan para Bodhisatwa di luar negeri sangat menyentuh kami. Hal itu membuat kami merenung, berhubung kami berada di Taiwan dan sangat dekat dengan Master, kami seharusnya bisa lebih tekun dalam mengikuti jejak langkah Master agar tidak menyia-nyiakan bimbingan yang telah diberikan,” kata Lin Wei-yang, relawan Tzu Chi.

Ketika mendengar laporan tentang Honduras, sebenarnya menjalankan Tzu Chi di luar negeri itu tidaklah mudah. Di beberapa negara, jumlah relawan sedikit, tetapi wilayahnya luas dan pekerjaannya banyak. Jadi, relawan yang ada di Taiwan harus saling berbagi tanggung jawab dan bersama-sama melakukannya.
Bagi mereka yang menjalankan Tzu Chi di luar negeri, sama seperti kita, mereka sering kali harus mengeluarkan biaya sendiri untuk pergi membawa bantuan ke berbagai tempat. Kecuali jika suatu kasus sudah benar-benar ditetapkan, misalnya membutuhkan bantuan jangka panjang atau ada orang yang tidak memiliki tempat tinggal, rumahnya tidak ada atap atau dinding, sehingga perlu dibangunkan rumah rakitan sementara, barulah diajukan sebagai kasus Tzu Chi.
Jika ada sekelompok orang yang memang membutuhkan bantuan jangka panjang, barulah benar-benar diajukan. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar tulus dalam mendedikasikan diri, memikul tanggung jawab, dan bersumbangsih. Kondisi ekonomi mereka belum tentu lebih baik daripada orang Taiwan, bahkan ada yang tinggal di negara yang sangat miskin. Berhubung jalinan jodoh belum matang, mereka sering kali harus mengeluarkan biaya sendiri.
Beberapa hari ini, kalian terus membahas tentang kesulitan di sebuah negara dan bagaimana relawan Tzu Chi yang kalian kenal membawa bantuan ke sana. Ketika kembali dari negara tersebut, mereka membagikan ceritanya kepada kalian dengan lebih detail. Ketika kalian membicarakan dan mendengarkannya, apakah kalian merasa tidak sampai hati? Semua ini bergantung pada sebab dan kondisi.
Jika kalian mendengar dari relawan luar negeri yang kalian kenal tentang sebuah kasus, hendaknya kalian membantunya. Tanyakan pada mereka, "Apakah Anda sudah mengajukan ke Tzu Chi?" Jika mereka mengatakan bahwa jumlahnya tidak besar, kalian harus mendorong mereka dan berkata, "Anda tetap harus mengajukannya. Jika ada organisasi sebagai pendukung, Anda bisa menjalankan bantuan dengan tenang."
Membantu dengan tenang dan membantu dengan kasih itu berbeda. Jika hanya mengandalkan kasih pribadi, tanpa dukungan bersama, seseorang akan merasa ragu akan kemampuannya sehingga semuanya menjadi terbatas. Namun, jika ada Yayasan yang mendukung, mereka bisa melakukannya dengan lebih tenang.


“Pada bencana banjir Honduras tahun 2011, Kakak Hong-cai membangun tekad dan ikrar agung. Dalam kegiatan bantuan darurat, selama 9 hari, beliau berhasil menyalurkan bantuan secara tepat sasaran kepada 1.200 keluarga. Hal ini mencatatkan rekor sebagai salah satu distribusi bantuan internasional yang sangat cepat dan akurat,” kata Cai Ya-chun, relawan Tzu Chi.
“Master pernah menyampaikan bahwa beliau pernah mengatur semuanya seorang diri, mulai dari mendampingi mereka yang membutuhkan, melakukan survei bencana, belanja kebutuhan, mendata penerima bantuan, hingga mencari lokasi pembagian bantuan. Dengan kedua kakinya, beliau menempuh perjalanan yang sangat jauh demi membantu sebuah negara dan orang-orang yang menderita,” pungkas kata Cai Ya-chun.
Hong-cai adalah murid saya yang baik. Selama bertahun-tahun ini, ia sangat bersungguh hati. Kondisi ekonomi di negaranya tidak terlalu baik. Meski ia menjalankan usaha, kondisi keuangannya juga terbatas. Namun, ketika menjalankan Tzu Chi, ia mencurahkan seluruh hatinya.
Berhubung wilayah di sana sangat luas, untuk menangani kasus dan menjalankan kegiatan, ia harus menempuh perjalanan yang jauh dan berkeliling ke berbagai tempat. Jika seseorang dapat melakukan hal hingga keluarganya pun ikut tersentuh, Tzu Chi di negara tersebut akan berkembang dengan baik. Dengan adanya dukungan dari istrinya, ia tidak memiliki kekhawatiran. Saya pun merasa lebih tenang.
Namun demikian, jika ia membagikan laporan kepada saya, saya akan menyemangatinya dan berkata, "Jangan Anda lakukan sendiri. Apa yang Anda lakukan sungguh membuat saya tersentuh. Namun, jika dilakukan sendiri, tidak akan bertahan lama. Kita harus mengajak warga setempat untuk bergabung dan membentuk organisasi yang benar-benar berdiri."
Jika kalian mendengar teman kalian melakukan hal seperti itu, dukunglah mereka dan sampaikan prinsip yang saya katakan. Mintalah mereka untuk melaporkan kasus tersebut karena Tzu Chi Taiwan akan terus mendukung mereka. Dengan begitu, bantuan kita juga akan menjadi lebih luas. Saya benar-benar melihat adanya kekuatan cinta kasih. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian.


Saya sering mendengar bagaimana insan Tzu Chi menjalankan misi. Saya juga sangat berterima kasih kepada TIMA. Tzu Chi memiliki empat misi yang terdiri atas misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis. Ya, kesehatan menjadi salah satu misi kita. Dalam kehidupan manusia, kemiskinan merupakan sebuah penderitaan. Jika ditambah penyakit, penderitaannya menjadi berlipat.
Saya sangat menghormati para dokter TIMA. Para dokter sebenarnya sangat sibuk, tetapi mereka bersedia mendedikasikan diri di Tzu Chi. Selama ada waktu luang atau hari libur, mereka akan tetap mendedikasikan diri. Para dokter ini berkumpul untuk mengadakan baksos kesehatan secara rutin hingga ke luar negeri.
Ketika relawan pergi ke daerah pedesaan atau pegunungan, dokter pun bisa ikut serta. Jika ada yang sakit, bisa langsung diperiksa dan diberikan obat. Ini sangatlah baik. Ini semua adalah bagian dari misi amal yang harus terus diperluas. Jika bisa bersatu, kekuatan kita akan makin besar. Inilah yang harus kita jaga agar kegiatan Tzu Chi dapat berlangsung selamanya dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengatasi segala kesulitan dan berani memikul tanggung jawab
Suami dan istri bersatu hati menjalankan tekad dengan teguh
TIMA berjuang mengobati penderitaan
Bersatu menuju kebajikan dan mewariskan cinta kasih
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 26 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 28 Maret 2026







Sitemap