Ceramah Master Cheng Yen: Bersumbangsih dengan Cinta Kasih di Tengah Pandemi Berkepanjangan


“Istrinya menelepon kami dan berkata bahwa dirinya terkonfirmasi positif Covid-19. Dia tidak dapat bekerja dan persediaan makanan di rumahnya pun hampir habis. Saat ini, mereka hanya bisa makan mi instan. Jadi, kami membeli buah dan sayuran untuk mereka. Kami ingin memberikan bantuan kepada mereka untuk melewati masa sulit ini. Kami berharap dia dapat membayar sewa rumah bulan ini dan tidak perlu lagi khawatir akan biaya hidup,”
kata Zhang Fang-hui relawan Tzu Chi.

Setiap kali melihat para relawan Tzu Chi, saya sungguh bersyukur dari lubuk hati terdalam. Selama ini, saya selalu melihat cinta kasih yang mereka curahkan. Relawan Tzu Chi sungguh telah memperpanjang jalinan kasih sayang Bodhisatwa. Mereka memperpanjang jalinan kasih sayang dari bagian paling utara hingga paling selatan Taiwan. Insan Tzu Chi selalu membangkitkan kekuatan cinta kasih dan memperhatikan semua orang dengan tulus. Saya sungguh tersentuh. Ada banyak cerita yang menyentuh dan patut disyukuri.

Selain insan Tzu Chi, kita juga dapat melihat para dokter dan perawat kita yang sangat berdedikasi. Tidak ada seorang pun yang dapat terlepas dari penyakit. Terlebih lagi, virus Covid-19 ini telah menyebar ke seluruh dunia. Ketika orang-orang terinfeksi virus, mereka membutuhkan perawatan medis dari dokter. Tentu saja, dokter dan perawat harus berinteraksi dengan pasien secara langsung.


Kita semua telah melihat bagaimana mereka mendedikasikan diri pada saat seperti ini. Kita harus menghormati mereka dari dalam lubuk hati. Ketika melihat pasien Covid-19, mereka tidak menghindar, tetapi merawatnya dengan berani. Inilah yang disebut berkarier dengan semangat misi. Tenaga medis harus selalu berada di garis terdepan demi menjaga kesehatan semua orang. Mereka harus menyelamatkan nyawa pasien serta memberikan pengobatan dan penghiburan. Jadi, kita harus bersyukur kepada para tenaga medis.

Kita juga dapat melihat Dokter Li Yi-gong yang merupakan kepala UGD RS Tzu Chi Dalin. Beliau telah mendedikasikan dirinya di RS Tzu Chi Dalin selama lebih dari 20 tahun. Kali ini, beliau juga terinfeksi Covid-19. Selama beberapa hari menjalani isolasi, beliau tidak beristirahat. Beliau masih mengikuti rapat secara daring untuk memperhatikan pasien dan departemennya.

Kebijakan berubah terus-menerus. Jadi, setiap hari, saya harus mengoordinasi banyak hal dan mengikuti telekonferensi,” kata Li Yi-gong Kepala UGD RS Tzu Chi Dalin.

Saya sungguh tidak sampai hati melihatnya. Selama beberapa waktu itu, saya sangat khawatir. Namun, saya hanya bisa mendoakannya dengan tulus. Setelah pulih dan selesai menjalani isolasi, beliau segera kembali bekerja.

Apakah jumlah tes akhir-akhir ini menurun? Masih banyak seperti biasanya. Baik. Terima kasih atas kerja keras kalian. Bajumu sudah basah oleh keringat. Saya minum ini untuk mengatasi sakit tenggorokan. Mungkin sebagian orang hanya merasakan gejala ringan seperti flu. Namun, ini tidak terjadi pada saya. Jadi, saya bisa mengerti bagaimana perasaan pasien saya dan tahu bagaimana cara menghibur mereka,” kata Li Yi-gong Kepala UGD RS Tzu Chi Dalin.


Oleh karena itu, saya sering mengatakan bahwa kita tidak dapat menumbuhkan kebijaksanaan jika kita tidak belajar dari pengalaman. Beliau telah mengalami apa yang dialami oleh pasien. Karena pernah terinfeksi Covid-19, beliau bisa mengerti bagaimana perasaan pasiennya. Setelah pulih, beliau membagikan pengalamannya kepada para pasien. Setelah membangun tekad, beliau mempertahankannya dengan teguh hingga selamanya. Beliau berkarier dengan semangat misi.

Dokter dan perawat memegang teguh tekad mereka untuk mendedikasikan diri sebagai tenaga medis. Dalam menghadapi pandemi, mereka dengan berani menjadi garda terdepan tanpa mundur sedikit pun. Demikianlah mereka menyelamatkan semua makhluk serta melindungi kehidupan dan kesehatan semua orang. Kita semua harus menghormati mereka. Oleh karena itu, saya sering berkata bahwa kita hendaknya bersyukur kepada mereka yang telah mencurahkan cinta kasih tanpa pamrih.

Sejak pandemi merebak, mereka sangat berani dan bekerja keras untuk menghentikan penyebaran virus. Virus Covid-19 tidak terlihat dan tidak ada yang bisa menghentikan penyebarannya. Namun, ada prinsip kebenaran di balik penyakit. Bagaimana virus penyakit ini muncul? Pasti ada prinsip kebenaran di baliknya. Intinya, pencegahan sangatlah penting.


Kita harus melakukan upaya pencegahan agar diri kita tidak tertular. Jika kita tidak tertular, tentu kita tidak akan menularkannya kepada orang lain. Bagaimana kita bisa mencegah virus ini? Dengan berhati tulus dan bermawas diri. Bermawas diri berarti tidak melakukan kesalahan. Kita harus melatih disiplin diri dan jangan menyimpang sedikit pun. Sungguh, pandemi yang kita hadapi saat ini adalah sebuah pelajaran besar. Kita harus bersungguh-sungguh mempelajari kebenaran di dunia ini yang belum kita pahami. Masih ada banyak kebenaran sejati yang harus kita pelajari dan pahami.

Pandemi ini sudah berlangsung lama, menyebar ke seluruh dunia, dan memengaruhi banyak orang. Saya sering mengingatkan bahwa pandemi ini sudah berlangsung lama. Jika manusia tidak berintrospeksi diri, pandemi ini akan makin serius dan berlangsung makin lama.

Dalam masa pandemi ini, kita hendaknya tersadarkan dan memahami cara mencegah infeksi virus. Pelajaran besar dari pandemi saat ini ialah bervegetaris. Bervegetaris adalah satu-satunya obat paling mujarab.

Pandemi Covid-19 membawa bencana yang sulit dihindari
Menjaga tekad untuk merawat dan mendampingi pasien
Bertobat, tersadarkan, dan bervegetaris
Memperpanjang jalinan kasih sayang di dunia        

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 14 Juni 2022
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Shinta
Ditayangkan tanggal 16 Juni 2022
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -