Ceramah Master Cheng Yen: Bersumbangsih dengan Jalinan Kasih Sayang dan Memupuk Berkah


“Di sekolah ini saya belajar banyak hal, bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, menuntun hati, dan memberikan teladan. Master Cheng Yen mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga menumbuhkan cinta kasih, welas asih, kebijaksanaan, dan kepedulian sosial. Filosofi ini selalu mengingatkan saya untuk selalu mengajar dengan dengan hati, bukan sekedar dengan kata-kata,”
kata Sandra Devi, Kepala TK Cinta Kasih Tzu Chi Indonesia.

“Lebih dari 1.100 staf selalu mendengarkan ceramah Master setiap hari. Dalam satu hari, kami mengadakan sebanyak 16 sesi. Baik yang bertugas pada pagi, siang, maupun malam hari, semuanya tetap kami upayakan agar setiap hari dapat mendengarkan ceramah Master. Hari ini, mereka sangat senang bisa datang ke sini dan bertemu dengan Master secara langsung,” kata Suriadi, Direktur Umum Tzu Chi Hospital Indonesia.

“Kami akan bekerja keras dalam misi pendidikan dan misi kesehatan. Master, harap Master tenang saja.”

Terima kasih. Semuanya sangat penuh perhatian dan memiliki keyakinan yang besar.


Saudara sekalian, kalian adalah insan Tzu Chi di Indonesia. Dahulu, Kali Angke sangatlah kotor, berantakan, dengan rumah-rumah kumuh di sepanjang kedua tepinya. Namun, berkat jalinan jodoh, kalian membersihkan Kali Angke dan menginspirasi banyak orang untuk bangkit dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh mentransformasi keadaan pada masa itu. Kalian berhasil menciptakan kembali sebuah komunitas yang indah. Ini sungguh bukan hal yang mudah. Jadi, hendaknya kita merenungkan kembali perjalanan masa lalu.

Saya merasa bahwa keberhasilan hari ini sesungguhnya berawal dari berbagai kesulitan yang pernah dialami. Hal tersebut sungguh luar biasa. Kini, Kali Angke telah berubah menjadi begitu indah dan megah dengan gedung-gedung tinggi yang telah berdiri. Ini benar-benar luar biasa. Hal ini menunjukkan semangat masyarakat Indonesia. Ketika ada jalinan jodoh, semuanya sungguh-sungguh berusaha membawa perubahan ke arah yang baik. Jadi, saya merasa bahwa semua ini adalah hasil dari pendidikan.

Kondisi Indonesia saat ini sangat mengagumkan. Terlebih lagi, peran insan Tzu Chi sangat besar dan tidak dapat diabaikan. Hendaknya kalian membagikan kisah masa lalu dan menunjukkan betapa kalian sangat menghayati semangat Tzu Chi. Beberapa pengusaha juga berhimpun untuk membawa manfaat bagi masyarakat. Kontribusi kalian sangatlah besar. Semuanya bersedia bersumbangsih sehingga Indonesia saat ini benar-benar bersinar.


Saya berharap semuanya dapat terus bekerja sama dengan harmonis dan menghargai jalinan jodoh yang istimewa ini. Dedikasi kalian selama bertahun-tahun telah mewujudkan kekuatan Tzu Chi di sana. Kalian telah membangun sekolah, mengadakan baksos kesehatan, membangun rumah sakit, dan menyalurkan bantuan bencana. Selama bertahun-tahun, kalian terus mengakumulasi dan memupuk berkah. Namun, kalian tetap harus terus berusaha lebih giat lagi.

Pada masa awal, ketika beras dari Taiwan dikirim ke sana, Anthony Wu, Hou Bo-wen, dan generasi kedua dari para pengusaha turut bergabung bersama Tzu Chi. Mereka terjun langsung untuk memanggul karung beras. Saat itu, Bapak Franky Oesman Widjaja merasa sangat tersentuh dan turut serta untuk memanggul karung beras. Itulah gambaran pada masa itu.

Singkat kata, kekuatan cinta kasih harus diwujudkan dengan tindakan agar benar-benar menyentuh hati orang lain. Inilah sejarah yang sangat menghangatkan. Yang penting bukan berapa banyak uang yang didonasikan, melainkan seberapa banyak kekuatan yang dicurahkan. Jika dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan hati, itulah yang paling berharga.

Saya selalu berkata bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan ketulusan dan cinta kasih. Dengan begitu, kita dapat menopang satu sama lain. Di sana, kalian juga membantu banyak warga Muslim. Ketika Habib Saggaf membutuhkan bantuan, kita memberikan tepung dan beras. Selain itu, kita juga membantu mereka bercocok tanam dan menyediakan benih. Inilah yang disebut dengan sejarah.


Saudara sekalian, hendaknya kalian menelusuri kembali perjalanan masa lalu. Saat ini, kita telah memiliki sekolah. Semua ini merupakan rangkaian sejarah yang panjang. Ini semua terwujud berkat kekuatan cinta kasih. Harta yang paling berharga ialah cinta kasih. Dengan kesatuan hati, barulah tercipta keharmonisan. Hendaknya kita bergandengan tangan untuk membawa bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Jadi, hendaknya kalian terus berusaha, seperti saat mendayung perahu naga.

Mendayung perahu naga melambangkan kesatuan hati. Gerakan tangan harus serempak dan kekuatan yang dikeluarkan pun harus seirama. Dengan demikian, perahu naga barulah dapat melaju dengan stabil dan indah. Semua ini memerlukan hati yang benar, bajik, dan indah. Belakangan ini, saya terus berkata bahwa dengan hati yang tulus dan niat baik, ketika semua orang bersatu, akan tercipta keindahan. Inilah yang disebut memperindah kehidupan, yaitu menunjukkan budaya humanis Tzu Chi.

Kita semua berharap agar Indonesia dipenuhi kebajikan dan keindahan. Hendaknya hati setiap orang selaras. Melalui sumbangsih seperti ini, kalian tengah menorehkan sejarah bagi Indonesia. Singkat kata, saya berharap semua insan Tzu Chi tidak melupakan sejarah masa lalu. Berkat adanya cinta kasih, hati manusia menjadi damai dan masyarakat dapat dibangun kembali menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Jadi, kalian harus memahami bahwa kalian juga sedang membangun sejarah. Kalian adalah pelaku sejarah yang berjasa besar. Bagian perjalanan ini harus benar-benar kalian hargai.


Setiap kali berbicara tentang Indonesia, saya pasti membahas tentang Bapak Eka Tjipta Widjaja. Pertama kali datang, beliau membawa Bapak Franky Oesman Widjaja untuk menyatakan berguru kepada saya dan bertekad menjalankan Tzu Chi di Indonesia. Jadi, janganlah kita meremehkan awal mula sejarah tersebut. Inilah yang disebut tahu bersyukur.

Saya sangat mementingkan kata "bersyukur". Setiap saat, saya tidak pernah lepas dari kata itu. Hendaknya kalian bersungguh hati dan saling mengasihi. Cinta kasih yang tulus itulah yang disebut hati yang bersyukur. Dalam misi pendidikan, kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk bersyukur. Tata krama sangatlah penting karena merupakan bagian dari kebenaran. Tata krama adalah prinsip kebenaran. Kesopanan adalah prinsip kebenaran; prinsip kebenaran adalah dasar hubungan antarmanusia. Dari mana asal tata krama itu? Dari ajaran para guru.

Guru adalah orang yang menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Orang tua memberikan kehidupan jasmani kepada kita sehingga kita harus membalas budi orang tua dengan memanfaatkan tubuh jasmani kita untuk melakukan banyak hal baik. Kita juga harus membalas budi semua makhluk. Inilah kekuatan cinta kasih. Ini disebut dengan kebajikan. Hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada semua makhluk di dunia.

Membimbing yang mampu untuk menolong yang kurang mampu dan membangkitkan cinta kasih
Saling menopang dengan tulus tanpa membeda-bedakan agama
Menghimpun hati dan kekuatan untuk mewujudkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan
Bersumbangsih dengan jalinan kasih sayang dan memupuk berkah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 09 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 11 April 2026
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -