Ceramah Master Cheng Yen: Bersumbangsih di Tengah Masyarakat dengan Cinta Kasih
Saya bersyukur seiring berjalannya waktu, Tzu Chi hampir berusia 60 tahun. Sejak meninggalkan keduniawian, saya bertekad dan berikrar untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Demi semua makhluk, saya harus terjun ke tengah masyarakat. Kalian semua telah menggantikan saya untuk mewujudkan tekad dan ikrar ini. Kalian telah memilih arah yang benar dan mulai melangkah di jalan yang benar.
Perlu diketahui bahwa perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah pertama. Sebagai generasi pertama Tzu Chi, kitalah yang memulai langkah di Jalan Bodhisatwa. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Buddha menemukan jalan ini. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak banyak orang yang menapakinya karena jalinan jodoh belum matang. Namun, jalinan jodoh telah matang di era sekarang dan kita telah menapaki jalan ini. Kita bukan sekadar menapakinya, tetapi juga mewariskannya dari generasi ke generasi.
Buddha mengajari kita untuk mewariskan Dharma kepada 50 orang. Namun, kita harus mewariskannya kepada 50 generasi. Jika satu generasi dihitung 50 tahun, berarti kita akan mewariskan Dharma hingga lebih dari 2.000 tahun mendatang. Hingga saat itu, era kita sekarang pun telah berjarak lebih dari 2.000 tahun. Pada masa-Nya, Buddha mengajarkan untuk mewariskan Dharma kepada 50 orang. Kini, kita harus mewariskannya kepada 50 generasi.
Sesungguhnya, Dharma yang terus diwariskan sejak lebih dari 2.000 tahun lalu hingga sekarang pun telah diwariskan kepada 50 generasi. Jika satu generasi dihitung 50 tahun, berarti 50 generasi itu 2.500 tahun. Jadi, benar-benar sudah 50 generasi. Di sini, kita harus menyebarluaskannya agar dapat dipahami oleh orang banyak.
Pada masa Buddha, Beliau berharap setelah menerima ajaran-Nya, semua orang dapat terjun ke tengah masyarakat, menyucikan hati manusia, dan menginspirasi orang-orang menjadi Bodhisatwa. Inilah harapan Buddha. Kini, kita hendaknya memperjelas hal ini dan mengimbau orang-orang untuk meneladan Buddha.

“Setiap kali mengunjungi Toko Cinta kasih untuk mempromosikan semangat celengan bambu, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya akan kembali terjun ke tengah masyarakat untuk menjalin jodoh baik dengan orang banyak dan menginspirasi mereka untuk berbuat baik. Ini membuat saya sangat sukacita dan bahagia. Saya tidak pandai berbicara, juga tidak ekspresif. Namun, saat mengenakan seragam biru putih dan akan berbagi tentang kisah celengan bambu, saya selalu dipenuhi keberanian,” kata Lin Li Xiu-zhen, relawan Tzu Chi.
“Kami mengumpulkan donasi dari 106 toko. Uang logam yang terkumpul hampir 2.200 keping. Sesungguhnya, dengan nilai yang sama, saya lebih senang menerima uang logam daripada uang kertas. Mengapa? Karena makin banyak uang logam, berarti makin banyak orang yang membangkitkan niat baik. Kami berharap ada makin banyak orang yang membangkitkan niat baik agar bencana di dunia dapat perlahan-lahan berkurang,” kata Jiang Jun-hui, relawan Tzu Chi.
Kita harus menggalang lebih banyak Toko Cinta Kasih. Saat berkunjung ke toko-toko untuk menggalang Toko Cinta Kasih, kita berbagi tentang prinsip kebenaran dan awal mula berdirinya Tzu Chi. Tzu Chi memiliki jalinan jodoh yang sangat istimewa.
Sebelum datang ke Taiwan, guru saya, Mahabhiksu Yin Shun, pernah menetap di berbagai tempat dan memiliki kisah yang sangat panjang. Akhirnya, beliau datang ke Taichung. Saat itu, saya ingin ditahbiskan, tetapi tidak memiliki guru. Saat itu, harus ada guru, baru bisa menjalani penahbisan, tetapi saya belum memiliki guru formal.

Saat datang ke Hualien, saya bertemu Bapak Xu Cong-min. Sejak masa pendudukan Jepang di Taiwan, beliau sudah mempelajari ajaran Buddha. Setelah penyerahan kembali Taiwan, warga Hualien menyebutnya Anathapindada. Di Hualien, beliau memiliki perekonomian dan nama yang baik. Warga Hualien sangat menghormatinya. Beliau merupakan umat Buddha yang sangat taat. Jadi, jalinan jodoh sungguh tidak terbayangkan.
Berbicara mengenai jalinan jodoh, saya selalu teringat akan Kuil Wangmu. Kenangan masa lalu masih ada dalam benak saya. Segala sesuatu tidak bisa dibawa serta, hanya karma yang selalu menyertai. Karma ini tersimpan dalam kesadaran kita. Saya yakin bahwa Tzu Chi akan tersimpan dalam kesadaran saya hingga kehidupan mendatang.
Saya sering berkata pada kalian bahwa saya pasti akan kembali dengan Tzu Chi dalam kesadaran saya. Lewat Tzu Chi, saya bisa memahami makna dari agama dan melihat bagaimana keyakinan yang menyimpang membuat orang jauh tersesat. Ini membuat saya makin teguh dalam menyebarkan Dharma di dunia dan menginspirasi orang-orang untuk mempraktikkan Dharma tanpa celah. Saya selalu sangat hati-hati dalam hal ini.


Saat saya menyatakan berguru kepada Mahabhiksu Yin Shun, beliau berkata, "Kita memiliki jalinan jodoh istimewa sebagai guru dan murid. Ini sungguh tidak terbayangkan. Kini, kamu akan memasuki tempat penahbisan. Setelah keluar dari tempat penahbisan, ingatlah untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk." Karena itulah, kini kita semua bisa bersama-sama menjalankan Tzu Chi. Jadi, jalinan jodoh sungguh tidak terbayangkan. Sederhananya demikian. Intinya, kita harus memiliki keyakinan benar. Jangan percaya pada takhayul.
Setiap tempat membutuhkan agama dan kita harus memastikan bahwa arahnya tidak menyimpang. Buddha adalah Yang Tersadarkan. Untuk mencapai kesadaran ini, kita harus kembali pada hati yang murni seperti anak-anak. Hati yang murni ini dimiliki oleh setiap orang. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Kita tidak tahu jalinan jodoh kita di kehidupan lampau. Berkat jalinan jodoh dengan orang tua kalian, kalian terlahir sebagai anak mereka. Inilah jalinan jodoh. Jalinan jodoh ini membawa kalian pada keluarga kalian. Seiring perpaduan berbagai sebab dan kondisi di dunia, kita pun berhimpun di Tzu Chi.
Saya sangat bersyukur atas dedikasi kalian yang penuh kesungguhan hati dan cinta kasih. Tujuan kita bukanlah mengumpulkan uang, melainkan membangkitkan cinta kasih, mewujudkan keharmonisan masyarakat, dan menyucikan hati manusia.
Bodhisatwa Tzu Chi menjalankan ikrar selama 60 tahun
Terjun ke tengah masyarakat demi membawa manfaat bagi semua makhluk
Berpegang pada keyakinan benar dan menyebarkan ajaran suci
Bersumbangsih dengan cinta kasih dan mendoakan keharmonisan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 05 Januari 2026







Sitemap