Ceramah Master Cheng Yen: Bersumbangsih Tanpa Pamrih dengan Sukacita dan Keseimbangan Batin
“Melalui metode yang aktif dan dinamis, kami menyampaikan nilai-nilai moral kepada para siswa, memperkenalkan budaya humanis Tzu Chi, serta menginspirasi cinta kasih dalam diri mereka. Ketika hal itu dapat diwujudkan, bukan mereka saja yang tersentuh, kami pun sangat tersentuh,” kata Su Xiao-hong, asisten pengajar.
“Kelas ini mengajari saya bagaimana membantu orang lain dan mengubah sikap saya. Saya pernah bertutur kata buruk kepada orang tua. Dibandingkan dengan sebelumnya, perubahan saya sekarang sangat besar,” kata Kun Chandara, peserta.
“Terutama sebagai seorang guru, saya berharap dapat membagikan pedoman perilaku yang baik kepada para siswa. Kelas budaya humanis ini sangat penting karena pendidikan moral sangatlah penting. Siswa pada masa sekarang, baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan, semuanya sangat membutuhkan pendidikan moral,” kata Hoeun Koemleap, peserta.
Pendidikan adalah harapan. Kalimat ini sangat sederhana, tetapi mengandung pengetahuan yang sangat mendalam. Selain mengandung pengetahuan yang mendalam, ia juga berhubungan erat dengan sifat dan tabiat manusia. Setiap orang memiliki kebiasaan sejak lahir yang sebenarnya terbentuk di kehidupan lampau, lalu kembali terbangkitkan pada kehidupan sekarang. Jadi, kita juga harus membantu setiap orang menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Dalam pendidikan Tzu Chi, inilah yang dilakukan Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De. Kalian telah bersedia datang ke Hualien dan mengambil bagian dalam misi pendidikan Tzu Chi. Dahulu, sebagian dari kalian adalah Ibu Yi De di Universitas Sains dan Teknologi Tzu Chi. Kalian menggunakan waktu yang sangat panjang untuk saling menyesuaikan diri dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Ketika kalian mendampingi satu angkatan hingga para mahasiswa sudah mengenal kalian dan terbiasa berinteraksi dengan kalian, saat liburan, terkadang ada yang berkunjung ke rumah kalian. Bahkan, ada pula yang saat Tahun Baru Imlek tidak memiliki tempat untuk pulang sehingga pergi ke rumah Ayah dan Ibu Yi De. Semua ini merupakan proses dari tidak saling mengenal menjadi saling mengenal dan dari tidak dekat menjadi dekat. Ini semua membutuhkan waktu. Kalian sangat dipenuhi berkah dan harus merasa bersyukur.

Anak-anak pada masa sekarang hidup di zaman yang berbeda. Mereka sering berkata, "Sekarang tidak ada yang seperti itu lagi. Anda meminta saya untuk menaati aturan yang tidak dipatuhi oleh siapa pun lagi sekarang." Mereka pun tidak menerima ajaran kalian. Memang zaman sekarang berbeda dengan masa lalu. Meski demikian, tekad pelatihan kita tidak berubah.
Sutra menunjukkan jalan dan jalan harus dipraktikkan. Kita bisa berkata, "Saya menaati aturan. Inilah yang Master ajarkan. Beliau mengajar kami untuk menapaki jalan ini dan kami benar-benar menapakinya." Hendaknya kita bersumbangsih tanpa pamrih dan senantiasa merasa bersyukur. Terlebih lagi, kita harus bersikap adil terhadap semua makhluk dan menyayangi mereka.
Jadi, saat ini, kita harus menjaga sila dan mempraktikkan ajaran. Kita harus menaati aturan untuk menjadi orang yang baik. Inilah yang disebut dengan menjaga sila, yaitu melangkah di jalan yang benar, mencegah perbuatan buruk, dan menapaki jalan kebajikan. Jalan itu harus memiliki jalur, ibarat kereta yang berjalan di atas rel kereta.
Ketika kita naik kereta dan sampai di stasiun tempat kereta akan berpapasan, rel itu akan tersambung perlahan ke rel lain menjadi jalur ganda sehingga semua kereta dapat berjalan dengan lancar. Itulah yang disebut mengikuti jalan yang benar agar langkah kita tetap lurus. Setiap bagian dari jalur kereta telah ditentukan. Kita yang duduk di dalam kereta hanya perlu mengikuti jalur yang telah tersedia. Demikian pula dengan pendidikan kita yang berjalan dengan stabil dan mantap.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, usia saya sudah makin lanjut. Saya selalu mendengarkan apa yang kalian sampaikan dan merasa semuanya sangat bermakna. Saya juga terus belajar karena masih perlu belajar untuk masa depan. Waktu terus berjalan. Dalam ajaran Buddha juga dikatakan, "Seiring berjalannya waktu, usia kehidupan juga berkurang." Inilah hukum alam.
Kita semua sangat dipenuhi berkah dan memiliki cinta kasih yang sama. Ketika saya menyerukan suatu hal, kalian langsung melakukannya dan berjalan bersama saya. Ketika saya membutuhkan berbagai hal untuk pembangunan, kalian terus berusaha menyediakan data dan sumber daya, serta bersumbangsih tanpa pamrih. Meski tanpa pamrih, kita tetap memperoleh manfaat.
Ketika saya memberi tahu kalian bahwa saya ingin membangun sekolah demi membina insan berbakat di masyarakat, kalian benar-benar mewujudkannya sehingga para siswa dapat memahami kehidupan bermasyarakat dan memiliki keterampilan. Anak-anak ini berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda pula. Jadi, saya sangat bersyukur karena selain para guru, kita juga memiliki Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De.
Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De tidak mendampingi berdasarkan buku pelajaran, melainkan berdasarkan kebiasaan dan karakter setiap anak. Mereka memberikan bimbingan sesuai kebutuhan masing-masing anak. Topik yang dibicarakan pun sangat luas, bisa tentang peristiwa tertentu, orang tertentu, ataupun kondisi masyarakat.
Semua itu tidak ada di buku pelajaran, tetapi berkaitan dengan cara menghadapi berbagai orang dan hal dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbicara dengan para siswa, kita terus menyampaikan prinsip-prinsip kebenaran. Prinsip kebenaran selalu terasa baru setiap hari karena kondisi masyarakat yang terus berubah. Jadi, setiap hari, selalu ada hal baru yang kita sampaikan kepada mereka.


Kita juga melihat banyak donatur dan keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Bagaimana kita membimbing mereka? Setiap keluarga memiliki kesulitan masing-masing. Namun, selalu ada cara untuk mengatasi setiap kesulitan. Bagaimana menyelesaikan kesulitan-kesulitan tersebut? Kita harus membuka simpul. Dalam ajaran Buddha, membuka simpul batin berarti membuka pintu hati. Bagaimana caranya? Dengan menyebarkan Dharma agar orang-orang dapat memahami prinsip kebenaran. Jadi, Tzu Chi sangat membutuhkan kalian semua.
Kita sangat membutuhkan Ibu Yi De, terutama dalam sistem pendidikan Tzu Chi. Kita perlu memikirkan cara agar para siswa dapat menerima ajaran dengan sukacita. Jika kita dapat melakukannya, pendidikan kita akan memiliki ciri khas yang berbeda dengan sekolah lain. Jadi, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat masa kini dan memahami cara yang tepat untuk membimbing mereka.
Sebagai Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De, kalian telah membangkitkan tekad untuk bersumbangsih tanpa pamrih. Untuk apa semua ini dilakukan? Demi harapan masyarakat, yaitu pendidikan. Kita memiliki tim Bodhisatwa yang membuat kita menjadi unik. Saya ingin berterima kasih kepada kalian semua.
Membangkitkan cinta kasih untuk memberikan pendidikan moral
Menjaga sila, mempraktikkan ajaran, serta mampu membedakan yang salah dan benar
Bersumbangsih tanpa pamrih dengan sukacita dan keseimbangan batin
Mengembangkan potensi kebajikan dengan welas asih dan kebijaksanaan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 22 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 24 April 2026







Sitemap