Ceramah Master Cheng Yen: Bersyukur, Bersikap Pengertian, dan Menjalin Jodoh Baik
“Saya merasa agak sedih karena mereka tidak bisa pulang ke rumah. Semoga mereka aman, tenteram, dan sehat,” kata Chen Yu-xiang, relawan cilik Jing Si Books & Café.
“Hari ini, saya mempersembahkan tarian untuk mereka. Saya sendiri juga sangat gembira. Saya juga mendoakan semoga mereka aman dan tenteram,” kata Liu Ci-han, relawan cilik Jing Si Books & Café.
“Sulit bagi mereka untuk keluar dari sini dan mengikuti pemandian rupang Buddha di komunitas. Di wajah mereka, terlihat senyuman yang biasanya tidak ada. Proses berdoa kepada Buddha mungkin memberikan dukungan besar pada mereka,” kata Su Yu-xiang, Supervisor pusat perawatan.
“Para kakek dan nenek di sini berbeda dengan kakek dan nenek di rumah mereka. Mereka akan mulai membangkitkan welas asih. Saya harap setelah pulang ke rumah, mereka bisa lebih menghargai waktu bersama kakek dan nenek mereka,” kata Zhan Yi-qiao, relawan Tzu Chi.
Pada era Buddha, Buddha membabarkan kebenaran tentang lahir, tua, sakit, dan mati. Bagaimana kita menganalisis empat fase ini? “Saat terlahir, apakah Anda tahu? Tidak. Apakah Anda menangis? Kata mereka, saya menangis.”
Di dunia ini, tidak ada yang tidak menangis saat lahir. Bayi yang tidak menangis saat lahir juga akan ditepuk-tepuk hingga menangis. Suara pertama saat lahir ini menunjukkan penderitaan. Karena menderita, kita pun menangis. Banyak orang yang merasa bahwa mereka sering diperlakukan tidak adil dalam hidup mereka. Mereka mengalami kesulitan dalam berbagai hal, tidak bebas dalam interaksi antarmanusia, dan mengalami berbagai masalah lainnya.
Singkat kata, memiliki kehidupan yang sempurna sangatlah sulit. Bagaimana hendaknya kita melatih kebijaksanaan dan kesadaran hakiki kita? Ubahlah pola pikir kita dan kita akan melihat banyak hal yang bermakna.

“Ini adalah kakak kedua saya. Kondisinya sedikit lebih baik,” kata Wu Gui-wen, penerima bantuan Tzu Chi.
“Yang penting jangan memancing emosinya,” kata salah seorang relawan Tzu Chi.
“Benar, yang penting jangan memancing emosinya. Awalnya, saya tidak tahu tentang pelestarian lingkungan. Saya mengetahuinya dari para relawan. Lewat kegiatan ini, saya bisa berolahraga dan merilekskan diri. Merawat kakak-kakak saya juga ada sedikit tekanan. Jadi, saya bisa keluar untuk menghirup udara segar,” ungkap Wu Gui-wen.
“Kami harap dapat membantunya keluar. Setidaknya, dia telah keluar untuk melakukan daur ulang,” kata Wang Xiu-xian, relawan Tzu Chi.
“Saya harus merilekskan diri agar tidak terlalu tertekan,” ucap Wu Gui-wen.
“Apa yang memberimu kekuatan?” tanya relawan Tzu Chi.
“Demi keluarga saya. Saya harap seluruh keluarga saya sehat dan penyakit kakak-kakak saya tidak kambuh lagi,” pungkas Wu Gui-wen.
Dalam menghadapi segala hal di dunia ini, kita membutuhkan Dharma. Di ruangan kita duduk ini, semua materi berasal dari keterampilan dan kecerdasan manusia, termasuk kursi yang kalian duduki, meja yang kalian lihat, dan barang-barang yang disusun di atas meja.
Ponsel di tangan kalian akan kalian gunakan saat berbagi pengalaman nanti. Agar tidak melupakan apa yang ingin kalian bagikan, kalian membuat catatan di ponsel kalian. Mikrofon di tangan kalian juga akan kalian gunakan saat berbicara. Jadi, Dharma terkandung dalam segala gerak-gerik kita dan segala sesuatu di dunia ini. Karena itu, kita hendaknya bersyukur.
Adakalanya, saat saya ingin berdiri, pada usia saya sekarang, berdiri sendiri tidaklah mudah. Saya harus bertumpu pada meja dan bersusah payah untuk berdiri. Saat hendak berjalan ke belakang, kaki saya juga tidak bisa melangkah dengan leluasa. Namun, bisa melangkah di atas lantai yang begitu mulus, saya sangat bersyukur.

Segala sesuatu dalam hidup ini patut disyukuri. Jika senantiasa membina rasa syukur, apa pun yang dilihat, kita akan bersyukur, apa pun yang didengar, meski orang lain memarahi kita, kita tetap akan bersyukur karena telinga kita masih bisa mendengar. Meski melihat ekspresi yang tidak menyenangkan, kita juga akan bersyukur karena mata kita masih bisa melihat ekspresi wajah orang lain. Kita bersyukur dalam segala hal.
Rasa syukur harus diiringi sikap penuh pengertian. "Mengapa kamu memarahi saya? Ucapanmu sangat melukai hati saya." Setelah mendengar ucapan orang-orang, kita harus bisa bersikap penuh pengertian. "Untung kamu mengatakannya sehingga saya tahu kamu salah paham terhadap saya.Begitu ada kesempatan, saya akan segera meminta maaf padamu."
Bisa mendengar dan melihat berarti indra kita masih berfungsi. Berhubung indra kita masih berfungsi, kita hendaknya senantiasa bersyukur.
“Sejak saya kecil, ayah saya paling tidak menyukai saya. Selama dia menderita demensia hingga meninggal dunia, saya mengunjunginya secara rutin. Saya juga harus merawat ayah mertua saya yang mengalami kondisi vegetatif persisten. Saya merawatnya selama satu setengah tahun. Saya sendiri masih bekerja dan anak saya bersekolah,” kata Liu Mei-qiu, relawan Tzu Chi.
“Ayah saya bersikeras ingin menemui saya sehingga kakak laki-laki saya terus menelepon saya. Jadi, saya bolak-balik antara Yilan dan Hsinchu. Semua tekanan jatuh di pundak saya. Saya merasakan tekanan yang sangat besar. Lalu, ayah mertua saya meninggal dunia, disusul oleh ayah saya pada keesokannya. Tak lama setelah mengurus pemakaman kedua ayah saya, tekanan saya akhirnya memuncak dan saya kehilangan akal sehat saya,” ungkap Liu Mei-qiu.
“Dalam waktu yang lama, selama beberapa tahun, dia mengalami depresi berat. Depresi yang dialaminya adalah depresi berat,” kata Xie Wen-fu, suami Liu Mei-qiu.
“Selama tiga tahun, saya tidak pernah keluar rumah. Pekerja sosial dari puskesmas mengunjungi saya dan berkata, ‘Bibi, maukah Anda meminta bantuan dari Tzu Chi?’ Saat itu, Tzu Chi membantu saya dengan menanggung biaya pendidikan putra saya dan memberikan bantuan biaya hidup sebanyak 8.000 dolar NT per bulan. Saya mengikuti relawan senior melakukan survei kasus dan menyaksikan berbagai jenis penderitaan hidup,” kata Liu Mei-qiu.
“Saat itu, saya berpikir bahwa kondisinya sendiri kurang baik, mengapa masih membantu orang lain? Namun, saya kemudian mendapati bahwa dengan membantu orang lain, suasana hatinya menjadi lebih baik. Orang lain yang hidup dalam kesulitan bisa bertahan, mengapa dirinya tidak bisa?” kata Xie Yu-jie, putra bungsu Liu Mei-qiu.
Sungguh, dengan membina rasa syukur di dalam hati, berarti kita membangkitkan kesadaran hakiki. Tahukah kalian bahwa Buddha melambangkan kesadaran? Buddha melambangkan kesadaran. Dengan rasa syukur di dalam hati, apa yang kita lihat dan dengar akan bisa dipahami dan dirasakan dengan otak yang jernih. Dengan demikian, kebijaksanaan dan otak kita tidak akan mengalami penurunan.
Saat orang lain berbicara, kita harus menganalisisnya dengan otak kita. Dengan demikian, sel otak kita akan senantiasa aktif. Jika tidak, sel otak kita akan tertidur. Saya juga sering berkata pada kalian bahwa otak yang tidak digunakan akan tertidur. Jika kita tidak menggunakan otak kita, ia akan mengantuk dan tertidur sehingga tidak bisa merespons dengan cepat. Karena itu, kita harus bersungguh hati.

Dalam berinteraksi dengan orang lain dan melakukan segala sesuatu, janganlah kita berkata, "Mengapa semua tugas dilimpahkan pada saya?" Kita hendaknya berkata, "Terima kasih. Saya bisa melakukannya, tetapi mari kita melakukannya bersama."
Kembangkanlah kebijaksanaan untuk menginspirasi orang agar kita dapat meningkatkan kesadaran untuk membimbing orang-orang. Jika tidak mengemban tanggung jawab, berarti diri kita tidak berguna. Saat ada yang melimpahkan tanggung jawab pada kita, itu berarti mereka menghargai kita. Inilah yang disebut bersikap penuh pengertian.
“Jangan merasa tertekan. Menjalankan Tzu Chi adalah hal yang membahagiakan. Kebahagiaan kalianlah yang dapat menginspirasi orang,” pesan Guru De Su, dari Griya Jing Si.
“Dapat mengemban misi adalah berkah. Jadi, saat ada tugas yang perlu dijalankan, kita hendaknya berusaha semaksimal mungkin. Jangan mendorong berkah ini ke luar,” kata Xu Ya-jing, relawan Tzu Chi.
“Saya sangat kagum padanya. Dia selalu tersenyum dan sepenuh hati bersumbangsih,” kata Zhong Yong-hui, warga.
“Dia sangat tekun dan sungguh-sungguh. Dia mengumpulkan barang daur ulang di seluruh desa,” kata Chen Yu-jie, warga.
“Di desa kami, ada yang berkata, ‘Kamu bodoh sekali. Kamu tidak mau duduk santai, malah melakukan daur ulang hingga bermandi peluh.’ Saya berkata, ‘Saya benar-benar melakukannya dengan gembira’," kata Cheng Chun-jiao, relawan Tzu Chi.
“Sama seperti hati kita, jika ada yang kotor dan berantakan, kita harus merapikan dan membersihkannya. Inilah yang harus kita lakukan,” kata Li Yi-fu, suami Cheng Chun-jiao.
“Selain memupuk berkah, dia juga mendengar ceramah Master dan membina kebijaksanaan. Saya merasa bahwa dia merupakan teladan terbaik bagi para Bodhisatwa daur ulang,” kata Chen Su-lan, relawan Tzu Chi.
“Saya sudah tidak muda, tetapi masih memiliki tubuh yang sehat. Saya sangat bersyukur. Jadi, saya harus giat bersumbangsih,” pungkas Cheng Chun-jiao.
Singkat kata, kita harus menjalin jodoh baik secara luas. Dengan melatih diri, kita bisa menjalin jodoh baik dengan lebih banyak orang. Inilah jalinan jodoh baik untuk kehidupan mendatang. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baiklah, terima kasih.
Mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan serta membina cinta kasih dan welas asih
Ajaran Buddha terkandung dalam segala sesuatu di dunia ini
Senantiasa membina rasa syukur dan bersikap penuh pengertian
Menjalin jodoh baik secara luas dan tekun melatih diri
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 Mei 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 Mei 2026







Sitemap