Ceramah Master Cheng Yen: Bersyukur, Menghormati, Tekun, dan Bersemangat


Saya sering berkata bahwa kita harus lebih tekun dan bersemangat membalas budi orang tua. Selain membalas budi orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita, kita juga harus membalas budi Buddha yang menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Saya sungguh bersyukur kepada Buddha. Tanpa Buddha yang datang ke dunia dan membabarkan kebenaran, saya tidak akan paham tentang lahir dan mati serta nilai kehidupan.

Kini, saya ingin mengingatkan orang-orang untuk membalas budi orang tua, Buddha, guru, dan semua makhluk. Inilah yang disebut empat budi luhur. Meski saya meninggalkan keduniawian, tetapi yang ibu angkat saya berikan sangatlah banyak. Beliau bukan hanya membesarkan saya. Setelah saya meninggalkan keduniawian, beliau juga mendukung saya. Lahan berdirinya Griya Jing Si juga dibelikan oleh beliau.

Saat itu, kita bersiteguh untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Hingga kini, kita pun tetap demikian. Awalnya, kita membuat sarung tangan. Saat datang ke Hualien, Bapak Lee Teng-hui juga berkunjung ke Griya Jing Si. Kebetulan, saya berada di ruang kerja dan beliau pun langsung pergi ke sana. Di sana, saya tengah membuat sarung tangan. Saat membuat sarung tangan, saya harus memperhatikan bagian jarinya.


Saat saya tengah mengerjakannya, beliau diam-diam berjalan masuk dan berdiri di belakang saya. Beliau berkata, "Anda juga bisa membuat sarung tangan." Lalu, beliau bertanya, "Dengan mengandalkan diri sendiri, apakah kebutuhan hidup kalian terpenuhi?" Saya berkata, "Bagi kaum monastik, asalkan bisa makan kenyang dan melatih diri dengan tenang, kami sudah sangat berpuas diri." Beliau berkata, "Berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk pembagian bantuan akhir tahun kali ini?" Saya berkata, "Dana ini berasal dari Badan Amal Ke Nan Tzu Chi. Setiap bulan, kami membagikan bantuan kepada orang yang kurang mampu dan menderita." Beliau lalu berkata, "Kehidupan kalian sendiri juga tidak mudah. Setelah pulang, saya akan mengajak para pengusaha menjadi donatur. Jika saya bisa mengajak 500 orang untuk menjadi donatur Tzu Chi, beban Anda akan lebih ringan." Saya berkata, "Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal-hal yang bisa saya lakukan."

Setelah itu, saya selalu berpikir bahwa bisa mendengar beliau berkata demikian, saya sudah sangat berpuas diri. Beliau tahu bahwa kaum monastik juga bisa memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dan bersumbangsih bagi umat manusia. Kita telah menempuh perjalanan panjang hingga kini Tzu Chi berusia 60 tahun. Tzu Chi berawal dari donasi 50 sen. Jadi, semangat donasi 50 sen ini akan diteruskan di Tzu Chi hingga selamanya. Saya berharap setiap orang dapat menanam benih ini di dalam hati.

Semangat donasi 50 sen ini adalah benih jiwa kebijaksanaan. Jika mengingat kata-kata saya bahwa donasi 50 sen ini untuk menolong sesama, setiap hari, kalian akan mengingat semangat untuk menolong sesama. Tzu Chi menyerukan hal ini bukan karena kekurangan dana, melainkan ingin menumbuhkan jiwa kebijaksanaan orang-orang. Jiwa kebijaksanaan adalah kebijaksanaan yang mengirimkan sinyal di dalam otak bahwa kita harus menolong sesama.


Terlebih para dokter dan perawat kita, setiap hari, kalian harus ingat untuk menolong orang. Inilah yang kalian lakukan dalam lingkungan kerja kalian sekaligus misi kalian. Kalian menjalankan profesi dan misi sekaligus. Pada umumnya, ini disebut sebagai profesi. Namun, bagi kalian yang bekerja di badan misi Tzu Chi dan merupakan murid saya, ini juga disebut misi.

Kita berhimpun di Tzu Chi dengan tekad dan ikrar untuk bersumbangsih tanpa bersikap perhitungan. Untuk menolong sesama dan berbuat baik, kita harus mengerahkan kekuatan. Para dokter harus menyelamatkan kehidupan dan para perawat harus merawat pasien yang menderita karena penyakit. Rumah sakit membutuhkan banyak orang yang bersumbangsih dengan cinta kasih.

Saat bertemu setiap orang, saya selalu mengungkapkan rasa syukur saya. Para dokter, profesor, perawat, dan guru kita terus tekun memperdalam pengetahuan dan keterampilan demi memberikan kualitas pelayanan medis yang lebih tinggi. Melihat kalian semua, saya sangat tersentuh.

Para dokter kita juga berkata bahwa mereka ingin memperdalam pengetahuan mereka. Meski telah meraih gelar doktor, mereka tetap tak berhenti belajar. Seumur hidup, mereka terus memperdalam pengetahuan mereka. Namun, memperdalam pengetahuan saja tidak akan maju. Yang terpenting, pasien ialah guru terbaik untuk memperdalam pengetahuan kalian.


Penyakit yang berbeda membutuhkan pengobatan dan obat yang berbeda pula. Dalam fisioterapi, menekuk siku dan menarik kaki saja membutuhkan keterampilan. Jadi, kita memberikan pelayanan medis secara holistik. Selain menyelamatkan kehidupan, kita juga melindungi kesehatan orang-orang. Rumah sakit kita memiliki banyak departemen dan membutuhkan banyak orang. Jadi, kita hendaknya saling bersyukur dan saling menghormati.

Tanpa fisioterapis, setelah diobati oleh dokter, pasien tidak akan tahu bagaimana merawat diri di rumah dan harus kembali berobat ke dokter. Jadi, dokter juga membutuhkan fisioterapis dan perawat. Singkat kata, di dunia ini, kita tidak bisa hidup seorang diri. Bagaimana jika hanya ada kaum monastik di dunia ini?

Saya membutuhkan pakaian, tetapi tidak ada yang menenun kain ataupun menjahit pakaian. Saya membutuhkan makanan, tetapi tidak ada yang bercocok tanam ataupun berdagang. Tanpa ada yang berdagang atau menjual beras, bagaimana saya bisa makan? Jadi, di tengah masyarakat, setiap profesi memainkan peran penting. Karena itu, kita hendaknya senantiasa bersyukur.

Tekun dan bersemangat membalas empat budi luhur
Semangat donasi 50 sen merupakan benih jiwa kebijaksanaan
Memberikan pelayanan medis secara holistik
Bersatu hati bersumbangsih untuk membawa manfaat bagi orang banyak

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Februari 2026
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -