Ceramah Master Cheng Yen: Bertekad untuk Menjadi Perawat dan Mempertahankan Tekad Awal


“Kami berharap para perawat dapat menghemat waktu dan lebih berfokus merawat pasien. Saat para kepala perawat kita tengah melakukan persiapan untuk akreditasi, setiap kali pergi ke kantor mereka, saya bisa melihat banyak kertas memo yang ditempelkan di atas meja mereka. Selain itu, para perawat lebih repot lagi. Mereka harus melakukan serah terima sif. Untuk itu, mereka harus membuat lis dan mencetaknya, lalu menandainya satu per satu. Ini menghabiskan banyak kertas dan waktu,”
kata Cai Bi-que, Pengawas dan Pembimbing Departemen Keperawatan.

“Karena itu, departemen keperawatan kita merekrut tujuh kepala perawat. Ketujuh kepala perawat ini cukup berminat terhadap teknologi informasi. Kami pun mulai menguras pikiran untuk mengembangkan apa yang kami butuhkan,” pungkas Cai Bi-que.

“Kami sangat menghargai setiap staf dan perawat yang datang ke RS Tzu Chi Taipei. Kami memanfaatkan teknologi AI untuk menyederhanakan pekerjaan kami agar para perawat dapat lebih berfokus merawat pasien dan lebih menyukai profesi sebagai perawat. Saya merasa bahwa yang terpenting ialah kualitas pelayanan medis dan pasien. Inilah prinsip yang selalu kami pegang,” kata Wu Qiu-feng, Kepala Departemen Keperawatan.

Rasa haru saya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun, yang membuat saya paling sukacita ialah para perawat kita yang sering juga saya sebut sebagai Bodhisatwa Avalokitesvara. Saya sangat menghormati kalian yang berpegang pada semangat Bodhisatwa untuk bersumbangsih dengan cinta kasih yang murni dan tanpa pamrih. Kalian telah memenuhi tanggung jawab kalian dan mengembangkan nilai kehidupan kalian.

Dahulu, saat memilih untuk menjadi perawat, kalian telah bertekad untuk menyelamatkan orang. Kalimat ini terdengar sederhana. Namun, apakah menyelamatkan orang semudah itu? Untuk menyelamatkan seseorang, kita harus menyelamatkan jiwa dan raganya. Penderitaan terbesar manusia ialah penyakit fisik dan batin. Orang yang terkena penyakit batin atau mental mungkin tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan. Keluarga dan orang-orang di sekitar mereka selalu merasa khawatir.

Penyakit mental sungguh mendatangkan penderitaan yang tak terkira. Bukan hanya pasien yang menderita, orang-orang di sekitarnya juga tidak tenang. Jadi, dokter dan perawat di departemen psikiatri harus sangat bekerja keras. Tentu saja, saat menangani pasien, para dokter dan perawat berisiko tertular karena banyak penyakit yang gampang menular. Kalian melakukannya demi menjaga kesehatan pasien dan seluruh masyarakat.

Dengan adanya dokter yang mendiagnosis penyakit dan perawat yang merawat pasien, penyakit pasien dapat diketahui dengan jelas dan penyebarannya dapat dicegah. Ini sangat bermanfaat bagi keselamatan masyarakat. Kehidupan kalian sungguh bernilai. Ini sungguh tidak mudah.


“Setelah cuti melahirkan, saya kembali bekerja di departemen psikiatri. Sesungguhnya, bagi saya, ini merupakan sebuah tantangan besar karena saya tidak memiliki pengalaman di departemen psikiatri. Saat saya tengah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan di departemen ini, datanglah tantangan yang sangat besar bagi para perawat, yaitu pandemi Covid-19,”
kata Liao Jin-lian, Kepala perawat.

“Dalam perjuangan jangka panjang melawan pandemi, saya menyadari sesuatu. Sebelumnya, setiap hari, saat ada pasien atau rekan kerja yang membutuhkan, saya selalu bisa menjadi yang pertama merespons. Namun, perlahan-lahan, saya mendapati bahwa saya tidak segesit sebelumnya. Kondisi kesehatan saya menurun sehingga saya tidak bisa terus mengemban tugas saya seperti sebelumnya. Selain itu, anak saya juga masih kecil. Saya mulai mempertimbangkan untuk berhenti sementara dari pekerjaan saya,” lanjut Liao Jin-lian.

Liao Jin-lian melanjutkan “Saat saya ragu harus bagaimana, saya sangat bersyukur kepada kepala RS kita yang mengarahkan saya untuk menemui dokter. Saya berterima kasih kepada Kepala Chen Zheng-hong yang terus menjaga kesehatan saya. Dalam waktu beberapa tahun, kesehatan saya perlahan-lahan membaik sehingga saya dapat terus melangkah maju. Setelah kondisi kesehatan saya stabil dan kerja sama tim makin stabil, kami mulai memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung sesama.”

“Saat ini, di bangsal psikiatri, karena kondisi pasien, kunjungan bangsal sangatlah penting. Setiap 15 menit sekali, kami harus melakukan kunjungan untuk memeriksa posisi pasien dan memastikan keselamatan mereka. Sebelumnya, semua itu dicatat di sebuah buku. Lalu, tim kami bersama-sama mengembangkan sebuah aplikasi untuk kunjungan bangsal. Lewat aplikasi ini, kami bisa dengan cepat memahami kondisi pasien,” ucap Liao Jin-lian.

“Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, kami terus melakukan pengembangan dan uji coba. Kami mendapati bahwa ini benar-benar telah mengurangi beban pekerjaan para perawat. Tentu saja, ini juga merupakan kontribusi besar bagi pelestarian lingkungan,” pungkas Liao Jin-lian.


Kita mendengar bahwa perawat juga harus menjaga keluarga masing-masing. Setelah menikah, mereka juga memainkan peran sebagai istri, ibu, dan menantu. Mereka harus menunaikan berbagai tanggung jawab. Selain itu, mereka juga menjalankan profesi mereka dengan semangat misi. Mereka bertekad untuk menjadi perawat. Mereka bukan berpikir, "Saya mengambil jurusan keperawatan. Dengan keterampilan untuk menyelamatkan orang ini, saya bekerja demi mencari nafkah." Bukan demikian.

Kita semua mengembangkan nilai kehidupan dengan bersumbangsih bagi orang banyak. Kita meringankan penderitaan dan melindungi kehidupan orang-orang serta menjaga kesehatan jiwa dan raga mereka agar mereka dapat berkontribusi terhadap keluarga dan masyarakat. Dari sini bisa diketahui betapa bernilainya perawat.

Saya sering berkata bahwa saya sangat hormat dan bersyukur terhadap perawat. Rasa hormat saya terhadap mereka sama seperti rasa hormat terhadap Bodhisatwa Avalokitesvara. Saya menyebut mereka Suciwan Berjubah Putih. Suciwan Berjubah Putih juga disebut Bodhisatwa Avalokitesvara. Berhubung Bodhisatwa Avalokitesvara sering bermanifestasi di dunia dengan jubah putih, beliau pun disebut sebagai Suciwan Berjubah Putih.

Para perawat yang murni memperoleh rasa hormat yang sangat tinggi. Dalam ajaran Buddha, Suciwan Berjubah Putih memperoleh rasa hormat yang sangat tinggi. Saya sungguh sangat bersyukur. Singkat kata, dunia sangat membutuhkan para dokter dan perawat untuk menjaga para pasien. Para perawat mendukung para dokter untuk memulihkan kesehatan para pasien. Saya sangat bersyukur. Hal yang patut disyukuri tak habis untuk diceritakan.


“Saya bersyukur kepada seluruh anggota keluarga Tzu Chi yang mempromosikan tempat kerja yang bersahabat. Saya juga bersyukur kepada seluruh Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De yang 20 tahun ini selalu memperhatikan kami. Saat kami melahirkan atau jatuh sakit, mereka juga berkunjung secara langsung untuk mencurahkan cinta kasih dan memotivasi kami,”
kata Chen Mei-hui, Pengawas dan Pembimbing Departemen Keperawatan.

“Kerja sama tim kami bukan hanya tenaga medis, tetapi juga meliputi petugas kebersihan, dokter pelatihan pascalulus, petugas pengantar, teknisi, dan lain-lain. Semua orang bekerja sama sebagai satu tim. Kami berharap semua orang dapat menyerap Dharma ke dalam hati dan mempraktikkan cinta kasih. Saya sungguh sangat bersyukur semua orang bisa seperti satu keluarga,” pungkas Chen Mei-hui.

Saya berharap kita dapat menghargai semua perawat. Seperti yang saya katakan, mereka bersumbangsih dengan cinta kasih tanpa pamrih. Terlebih, tadi kita juga mendengar bahwa para perawat kita harus menjaga keluarga mereka sekaligus rumah sakit kita. Saat mengandung, mereka tetap melayani para pasien. Mereka mengatasi banyak kesulitan untuk bersumbangsih bagi umat manusia. Jadi, tolong sampaikan rasa syukur saya pada mereka. Terima kasih.

Mengobati luka, melenyapkan penderitaan, dan membawa kehangatan
Bertekad untuk menjadi perawat dan menuntaskan misi
Berinteraksi dengan ketulusan cinta kasih dan berkembang bersama
Memancarkan cahaya yang murni dengan cinta kasih dan kelembutan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 06 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 08 Februari 2026
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -