Ceramah Master Cheng Yen: Cinta Kasih Tanpa Batas Menyebar ke Seluruh Dunia

Lihatlah para anggota TIMA di berbagai negara yang menjangkau pasien-pasien yang menderita. Saat orang yang menderita tidak bisa keluar, para dokter, perawat, dan anggota komite kita akan berinisiatif menjangkau mereka untuk mencurahkan perhatian.

Saat mendapati bahwa ada orang yang jatuh sakit ataupun kekurangan, kita akan memberi perhatian dan pendampingan.  Meski kondisi di setiap negara berbeda, tetapi para insan Tzu Chi bersumbangsih dengan cinta kasih yang sama, yaitu cinta kasih tanpa pamrih.

Di setiap negara, para insan Tzu Chi bersumbangsih dengan cinta kasih yang sama. Kondisi setiap kasus juga berbeda-beda, tetapi ada banyak orang yang menderita, tetapi tidak bisa keluar untuk meminta bantuan, seperti para lansia sebatang kara yang jatuh sakit. Ini merupakan penderitaan banyak orang di seluruh dunia.

Saat ada pasien yang tidak bisa keluar berobat dan tidak ada orang yang merawat mereka, insan Tzu Chi akan bersumbangsih bagi mereka. Dalam baksos kesehatan, cinta kasih dan perhatian dokter lebih hangat daripada menangani pasien di klinik pada biasanya. Saat menangani pasien di klinik, dokter juga memeriksa pasien dan memberikan resep dengan penuh cinta kasih. Namun, dalam baksos kesehatan, para dokter menunjukkan lebih banyak perhatian dan cinta kasih. Inilah welas asih.


Di tengah orang-orang yang menderita, para dokter membangkitkan cinta kasih yang berkali-kali lipat dari biasanya. Mereka menangani pasien dengan welas asih yang tulus. Mereka mendedikasikan diri sebagai dokter karena adanya cinta kasih. Biasanya, saat pasien datang berobat, dokter akan mengobatinya atau memberikan resep. Ini telah menjadi rutinitas bagi dokter. Namun, para dokter kita berbuat lebih bagi orang-orang yang membutuhkan. Dengan penuh cinta kasih, para dokter kita menjangkau pasien yang tidak bisa keluar berobat.

Mereka rela menermpuh perjalanan berjam-jam melewati jalan yang tidak rata untuk menjangkau wilayah pegunungan dan pedesaan. Meski perjalanan tidak mudah, mereka tetap bersedia melakukannya demi mengadakan baksos kesehatan.

Setelah mengadakan baksos kesehatan, jika pasien yang biasanya datang berobat tidak datang, mereka akan berinisiatif berkunjung ke rumah pasien tersebut. Jadi, jika pasien tidak bisa keluar berobat, dokter kita akan berkunjung ke rumah mereka. Para dokter kita melakukannya tanpa keluh kesah dan penyesalan.

Dua hari yang lalu, anggota TIMA wilayah tengah kembali ke Griya Jing Si dan berbagi dengan saya tentang kunjungan mereka ke wilayah pegunungan di Miaoli. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk menyemangati, mengobati, dan membimbing seorang pasien yang semula terbaring di ranjang. Kita bisa melihat anak muda yang semula hanya terbaring di ranjang dan butuh orang untuk membawakannya makanan, kini sudah bisa duduk. Dokter kita juga menyemangatinya untuk berdiri dan mendampinginya berjalan keluar.

 

Serangkaian dokumentasi ini membuat saya sangat tersentuh dan bersyukur. Inilah yang dilakukan oleh insan Tzu Chi. Kisah yang menyentuh sangatlah banyak. Pada masa damai dan tenteram, kita harus berbagi dengan orang-orang bagaimana menjaga ketenteraman dan kesehatan. Di mana pun ada orang yang menderita, insan Tzu Chi akan segera menjangkau mereka. Meski harus menempuh medan yang sulit, insan Tzu Chi tidak gentar. Inilah yang disebut Bodhisatwa dunia. Bagi insan Tzu Chi, semua orang adalah setara. Demikianlah Bodhisatwa memperpanjang jalinan kasih sayang.

Kini, Tzu Chi Taiwan juga menjalankan sebuah program untuk mencurahkan perhatian kepada kaum lansia dan memastikan keselamatan mereka di tempat tinggal masing-masing, seperti dengan memasang pegangan tangan. Sebagian besar warga lansia tidak bisa berjalan dengan mantap. Dengan memasang pegangan tangan di tembok atau kamar mandi, keselamatan mereka akan lebih terjaga. Jika hanya bertopang pada tembok yang licin, itu tidaklah aman.

Jadi, kita memasang pegangan tangan untuk menyokong para lansia saat mereka ingin berdiri. Kaum lansia jangan sampai terjatuh. Jika terjatuh, sulit bagi mereka untuk sembuh. Terjatuh sekali saja mungkin membuat mereka tidak bisa berdiri dan terbaring di ranjang hingga meninggal dunia. Kita sering melihat contoh seperti ini.

 

Kita juga mendengar bahwa insiden terjatuh dapat meningkatkan angka kematian lansia. Karena itulah, insan Tzu Chi memberi bantuan dengan penuh perhatian. Kita melihat seorang nenek yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan insan Tzu Chi. Insan Tzu Chi berkunjung ke rumahnya untuk mencari tahu kondisinya. Saat relawan kita menawarkan bantuan, beliau semula tidak setuju. Relawan kita mendekatkan diri dengannya dan terus membujuknya hingga akhirnya beliau bisa menerima bantuan kita dengan tenang.

“Tidak perlu repot-repot,” kata Nenek Xu.

“Tidak, sama sekali tidak repot. Nenek, Nenek. Tidak repot,” kata Cai Ming-mo relawan Tzu Chi.

“Tidak mau,” kata Nenek Xu.

“Keselamatan Nenek yang terpenting. Kami tidak merasa repot. Nenek, kami semua adalah relawan. Yang akan kami pasang untuk Nenek, semuanya gratis,” kata Cai Ming-mo.

“Tidak peduli gratis atau tidak, kalian tidak perlu melakukannya,” jawab Nenek Xu.

“Lalu, apa yang Nenek inginkan?” tanya Cai Ming-mo.

“Saya hanya ingin hidup tenteram,” jawab Nenek Xu.

“Kami memang melakukannya agar Nenek hidup tenteram,” kata Cai Ming-mo.

“Saya sudah hidup tenteram sekarang,” jawab Nenek Xu.

“Namun, saya sangat khawatir melihatnya,” kata Cai Ming-mo.

“Saya tidak khawatir,” kata Nenek Xu.

“Saya khawatir sekali. Jantung saya sampai berdetak kencang. Coba Nenek rasakan,” kata Cai Ming-mo.


Insan Tzu Chi harus melatih kesabaran. Relawan kita merendahkan hati dan bertutur kata baik hingga nenek itu dapat tersenyum dan kita dapat membantunya. Melihatnya gembira dan tersenyum, kita baru bisa merasa tenang. Ini sungguh tidak mudah. Inilah yang disebut Bodhisatwa dunia.

Demikianlah semangat Tzu Chi Taiwan dan semangat ini telah menyebar ke berbagai negara. Di mana pun ada insan Tzu Chi, orang yang menderita di sana akan tertolong. Karena itulah, saya senantiasa mengucap syukur.

Menjangkau pasien di wilayah terpencil
Bersumbangsih dengan kesabaran dan memperpanjang jalinan kasih sayang
Cinta kasih tanpa batas menyebar ke seluruh dunia
Mempraktikkan welas asih tanpa keluh kesah

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 02 Maret 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 04 Maret 2021
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -