Ceramah Master Cheng Yen: Dokter Menyelamatkan Dunia dan Melindungi Semua Makhluk


“Pikirkanlah kembali mengapa kita bisa bertekad untuk menjadi seorang dokter yang baik. Saya merasa bahwa di dalam hati setiap orang terdapat sebutir benih. Setiap butir benih memiliki tanggung jawab dan misinya masing-masing. Ia akan bertunas dan bertumbuh subur hingga akhirnya berbuah dan menghasilkan benih baru,” kata Hou Yu-you, mahasiswa kedokteran.

“Seperti yang dikatakan oleh dosen kami, Tsai Jen-pi, ini adalah perjalanan yang titik akhirnya adalah titik awal. Jadi, kami akan terus menabur benih dan terus memanen hasilnya. Benih ini bukan hanya ditabur di dalam hati kami, tetapi juga di dalam hati orang lain,” pungkas Hou Yu-you.

“Waktu berlalu dengan cepat, empat tahun berlalu lagi. Hari ini, melihat semua orang mengenakan jas putih dan telah siap untuk meneruskan perjalanan, saya sungguh sangat tersentuh. Pendidikan kedokteran Tzu Chi bukan sekadar pendidikan profesional. Yang terpenting, ia mengandung nilai budaya humanis. Tanpa disadari, telah tertanam banyak cinta kasih dalam pendidikan kedokteran kita. Ini sangatlah penting,” kata Huang Shi-xun, Orang tua.


Saya sungguh sangat sukacita dan bersyukur. Melihat stetoskop yang digantung di pundak setiap orang, saya sungguh sangat sukacita. Saya selalu berharap mahasiswa kedokteran setiap angkatan dapat memperoleh pencapaian di dunia medis.

Saya berharap saat menjadi dokter magang di rumah sakit, mereka dapat lebih banyak mendengar dan melihat. Perhatikanlah penderitaan pasien dan dengarkanlah keluhan pasien dengan baik. Untuk itu, kita harus bersungguh hati. Dengan demikian, barulah kita bisa memahami pasien. Inilah yang selalu saya katakan, yaitu lebih bersungguh hati.

“Hari ini, kami bukan sekadar mengenakan jas putih, melainkan menerima tanggung jawab secara resmi. Sebelumnya, di fakultas kedokteran Universitas Tzu Chi, kami menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari anatomi, fisiologi, patologi, farmakologi, dan lain-lain serta giat melakukan persiapan untuk setiap ujian. Mulai hari ini, yang lebih penting ialah saat menghadapi pasien, bisakah kami menjadi dokter yang menenangkan mereka dan memperoleh kepercayaan mereka?” kata Tang Zheng-ting, Mahasiswa kedokteran.

Setelah menjalani upacara jas putih, saya merasa jas putih tak hanya lambang keprofesionalan, tetapi juga kepercayaan antarmanusia. Welas asih dan perhatian penuh budaya humanis Tzu Chi juga mengingatkan kami bahwa sebelum menjadi dokter, kami harus belajar untuk menjadi orang yang bersedia memahami orang lain,” pungkas Tang Zheng-ting.


Kesungguhan hati sangatlah penting. Ekspresi wajah pasien, baik sebuah kernyitan alis maupun desahan, itu bisa saja menunjukkan bahwa ada bagian tubuhnya yang sakit atau tidak nyaman. Hendaklah kita turut merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Ini juga sering saya katakan. Saat tubuh orang lain terluka, hati kita turut merasa sakit. Dokter hendaknya memiliki hati seperti ini, menganggap penderitaan pasien sebagai penderitaan sendiri. Jadi, saya sangat berharap para calon dokter ini dapat memiliki mentalitas seperti ini.

Penyakit adalah penderitaan terbesar. Saat jatuh sakit, tidak peduli orang kaya ataupun miskin, semuanya akan merasa gelisah dan menderita. Penderitaan seperti ini sungguh tak terkira. Apalagi kemiskinan yang ditambah dengan penyakit, penderitaannya akan makin berat. Kita mendirikan misi kesehatan karena tidak tega melihat semua makhluk menderita.

Saudara sekalian, saat berhadapan dengan pasien, kalian harus menggunakan hati yang tulus untuk mendengarkan dan memahami keluhan dan penderitaan pasien. Amatilah kondisi pasien dengan bersungguh hati dan kalian akan menyadari penderitaan mereka. Saya harap para dokter kita dapat membina perasaan senasib dan sepenanggungan. Saat pasien terluka serta merasa sakit dan gelisah, kita merasa bagai diri sendiri yang terluka.

Kita hendaknya juga memahami penderitaan pasien yang berada di ambang kematian. Kita harus menempatkan diri pada posisi mereka. Lirik lagu kita pun mengajarkan demikian. Saya sering menyebut kalian Tabib Agung. Dengan ketulusan dari lubuk hati terdalam, saya menghormati kalian semua. Yang terpenting, kalian juga harus menghormati diri sendiri. Dengan menghormati diri sendiri, secara alami, kualitas diri pun akan meningkat.

Kalian bercita-cita untuk menjadi dokter. Ini bukan sekadar profesi, tetapi juga merupakan misi. Kalian menjadi dokter dengan semangat misi. Jika ditanya mengapa kalian ingin menjadi dokter, sebagian besar pasti akan menjawab, "Saya ingin menyelamatkan orang."


Bodhisatwa sekalian, kini cita-cita kalian akan segera terwujud. Saat ini, kalian adalah calon dokter. Kalian akan segera lulus dari fakultas kedokteran dan memasuki sistem medis. Saya berharap setelah menjadi dokter, baik mendedikasikan diri di Tzu Chi maupun membuka praktik sendiri, kalian dapat senantiasa mengembangkan cinta kasih yang tulus untuk memahami penderitaan pasien.

Dokter hendaknya memiliki hati Buddha. Baik umat Kristen Protestan, Katolik, maupun yang lainnya, asalkan taat terhadap ajaran agama masing-masing, kalian pasti akan menghadapi pasien dengan penuh cinta kasih. Inilah cinta kasih agung yang sering saya katakan.

Tabib Agung mengasihi semua orang di dunia ini. Baik yang sehat maupun sakit, semuanya harus kita kasihi. Jadi, agama apa pun yang dianut, semua orang memiliki cinta kasih, baik istilahnya kasih, rahmat, maupun cinta kasih agung. Demikianlah kita meningkatkan kualitas diri kita. Inilah kehidupan yang benar-benar bernilai.

Bodhisatwa sekalian, saya berharap kalian dapat senantiasa ingat bahwa saya menyebut kalian Tabib Agung karena berharap kalian juga memiliki karakter yang mulia, seperti para Buddha dan malaikat yang mengasihi dan melindungi semua makhluk. Inilah yang ingin saya sampaikan pada kalian.

Memahami penderitaan penyakit lewat praktik klinis
Membina welas asih yang merasa senasib dan sepenanggungan
Memberikan pengobatan, menyelamatkan dunia, dan menjaga tekad awal
Tabib Agung melindungi semua makhluk dengan penuh cinta kasih

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 15 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 17 Oktober 2026
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -