Ceramah Master Cheng Yen: Giat Membersihkan Cermin Batin dan Membimbing yang Berjodoh
“Yunlin adalah kabupaten pertanian yang sederhana Area dari pegunungan hingga tepi pantai sangatlah luas. Para relawan di lima Heqi menggenggam jalinan jodoh dan mengerahkan potensi untuk mengemban misi di komunitas dengan bahagia dan melakukan hal yang ingin Master lakukan,” kata Xie Shu-li, relawan Tzu Chi.
Saya sungguh sangat sukacita karena semua orang sangat tulus. Setiap kali berkunjung ke Yunlin, saya selalu berkata bahwa Yunlin sangatlah sederhana dan penuh dengan kekuatan cinta kasih. Dengan hati yang polos dan sederhana, barulah kita bisa menunjukkan kesungguhan dan ketulusan. Kesungguhan dan ketulusan hati manusia sangatlah berharga.
“Berhubung lebih muda dari yang lain, saya memiliki banyak pemikiran yang berbeda dan ingin membawa sedikit perubahan. Namun, saya tidak tahu bagaimana praktik di komunitas. Saya juga merasa bahwa diri sendiri sangat hebat sehingga kurang menjaga ucapan saya. Saya melupakan ajaran Master bahwa kita harus menjaga keharmonisan antarmanusia dan menyelesaikan segala hal dengan sempurna,” kata Xu Ying-duo, relawan Tzu Chi.
“Saat itu, hubungan antara saya dan tim saya kurang harmonis. Melihat hubungan saya dan tim yang kurang harmonis, Kakak Chen Mei-hui juga sangat khawatir. Beliau berkata pada saya, ‘Kita tak mungkin selamanya berada di posisi yang sama. Selama kita mengemban tanggung jawab, jika bisa membawa sedikit perubahan untuk memudahkan orang yang mewarisi tanggung jawab kita di masa mendatang, berarti kerja keras kita tidak sia-sia.’ Saya mendengarkannya dengan sungguh-sungguh,” lanjut Xu Ying-duo.
Xu Ying-duo melanjutkan “Orang-orang zaman dahulu berkata bahwa pertemuan langsung membuat segalanya lebih lancar. Mulut yang manis, wajah yang tersenyum, dan pinggang yang lentur, semua ini harus saya pelajari. Orang tua saya juga mengajari saya bahwa menjalankan Tzu Chi tidak ada kiat khusus, cukup tidak memilih-milih pekerjaan, kooperatif dalam menjalankan semua tugas, dan mempelajari segala hal. Yang terpenting, kita harus harmonis dengan orang lain.”
“Meski merupakan bagian dari tim kegiatan, saya juga berpartisipasi dalam aktivitas di komunitas. Saat tim konsumsi dan Griya Jing Si membutuhkan tenaga, saya juga turut berpartisipasi. Saat suatu acara selesai dan Xieli kami mendapat tugas untuk melakukan pembersihan, saya pun membersihkan kamar kecil. Dalam proses ini, saya menyadari bahwa setiap tim fungsional memiliki kesulitan tersendiri. Dengan demikian, kami pun lebih bisa saling memaklumi,” pungkas Xu Ying-duo.

Dalam melatih diri, yang dilatih ialah hati kita. Hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Hati Buddha dan semua makhluk sama dengan kita. Jika dikupas secara mendalam, semuanya sama. Hanya saja, kita kehilangan ketulusan hati kita sehingga hati kita menjadi ternoda.
Membersihkan hati yang ternoda ini tidaklah mudah. Butuh waktu dan tenaga untuk mengelap cermin batin kita agar bisa kembali bersih seperti sediakala. Begitu cermin ini bersih, segala sesuatu di luar, baik yang bergerak maupun diam, berwujud maupun tidak, akan direfleksikan oleh cermin ini. Jadi, melatih diri bagaikan mengelap cermin.
Jika cermin ini diselimuti debu yang tebal dan kabur, kita bisa mengelapnya secara pelan dengan kain hingga kembali jernih seperti sediakala. Jika cermin yang lembap dan kotor dibiarkan terlalu lama hingga kering, bahkan hingga berulang kali, mengelap cermin ini membutuhkan upaya yang berkali-kali lipat. Melatih diri pun demikian.
Kita semula memiliki hakikat yang setara dengan Buddha. Namun, dari kehidupan ke kehidupan, kita terus diselimuti berlapis-lapis kegelapan batin. Akumulasi tabiat kita dari kehidupan lampau dan kehidupan sekarang serta karma yang kita ciptakan di kehidupan sekarang membuat tabiat kita makin tertanam dalam. Dari kehidupan ke kehidupan, tabiat kita makin tertanam dalam. Permukaan cermin ini pun makin kotor dan sangat sulit untuk membersihkannya.

Menghadapi kesulitan ini, kita merasa tidak berdaya. Namun, apakah kita akan membiarkan kesulitan ini berlanjut? Jika membiarkan kesulitan ini berlanjut, dari kehidupan ke kehidupan, penderitaan, karma buruk, kegelapan batin, dan jalinan jodoh buruk akan membuat kehidupan kita makin sulit dan menderita. Karena itu, kita hendaknya segera mengelap cermin ini. Kita hanya perlu mengerahkan lebih banyak tenaga dan lebih banyak waktu. Begitu cermin ini bersih, kita harus segera meningkatkan kewaspadaan.
Seumur hidup kita, kita harus ingat untuk melatih diri dengan baik. Setelah itu, kita harus menjaga pikiran dan hakikat kita. Di Jalan Bodhisatwa, kita harus melakukan praktik nyata dengan terjun ke tengah masyarakat. Jika kita menjalin jodoh baik dengan banyak orang, di kehidupan mendatang, dengan jalinan jodoh baik ini, kita tidak perlu mengerahkan upaya besar untuk membuat orang-orang bersukacita melihat kita.
Meski kita hanya berpapasan dengan seseorang, dia pun akan bersukacita dan berbalik untuk mengikuti langkah kita. Ini karena kita telah menjalin jodoh baik. Apa yang harus dilakukan sebelum mencapai kebuddhaan? (Menjalin jodoh baik dengan orang-orang.) Menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Jika tidak menjalin jodoh baik dengan orang-orang, kita tidak akan bisa membimbing mereka. Jadi, menjalin jodoh baik sangatlah penting.
Saya merasa bahwa kita hendaknya lebih sering memanfaatkan ruang di kantor kita untuk mengadakan rapat, berbagi pengalaman, ataupun mengajak orang-orang membuat kerajinan tangan. Melihat kalian membuat gantungan ini, saya terus mengamatinya dan berpikir bagaimana kalian membuatnya. Saat menyentuh bagian ini, saya merasakan bahwa butuh tenaga untuk mengeratkannya. Selain tenaga, juga dibutuhkan semangat, keterampilan, dan pikiran untuk merancangnya.

Materi apakah yang bernilai di dunia ini? Perasaan apakah yang bernilai di dunia ini? Yang paling bernilai ialah ketulusan dalam bersumbangsih. Kita mengubah benda-benda ini menjadi kenangan yang berharga. Inilah materi yang bernilai. Jadi, sesuatu itu bernilai atau tidak, itu bergantung pada pikiran kita. Benda ini akan bermanfaat jika kita dapat menggunakan kisah di baliknya untuk memotivasi orang-orang. Saya berharap kalian dapat berbagi kisah dengan orang-orang.
Saat menghadiahkannya kepada orang-orang, kalian dapat berbagi kisah tentang bagaimana saya mendirikan Tzu Chi 60 tahun lalu. Kini, saat mengadakan rapat, kalian juga dapat berbagi tentang kisah-kisah ini. Jika ada yang belum pernah mendengarnya, kalian hendaknya segera berbagi dengan mereka. Orang yang sudah pernah mendengarnya juga bisa mempelajarinya kembali. Mungkin saja ada bagian yang kalian lewatkan. Jika kita menyatukan semuanya, kisah ini akan sangat menarik.
Saat membimbing orang-orang, siapa pun yang kalian bimbing, kalian pasti membutuhkan metode. Kalian harus mencari metode yang tepat dan jalinan jodoh untuk berbagi tentang Tzu Chi agar orang-orang bersedia mendengarkan kalian. Kalian harus mengerahkan kebijaksanaan dan pikiran serta menggenggam waktu dan jalinan jodoh. Inilah yang disebut membimbing orang-orang. Buddha membutuhkan jalinan jodoh untuk membimbing orang-orang. Di era sekarang, kita juga membutuhkan jalinan jodoh.
Terjun ke tengah masyarakat untuk melatih diri dan memperbaiki tabiat
Jangan biarkan cermin batin yang jernih tertutup debu
Membawa manfaat besar dengan kesederhanaan dan ketulusan
Membimbing dengan ajaran bajik dan menjalin jodoh baik
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 22 Mei 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 24 Mei 2026







Sitemap