Ceramah Master Cheng Yen: Hati Buddha dan Tekad Guru Adalah Persembahan Tertinggi


“Saya menjalin jodoh dengan Tzu Chi Filipina berkat bimbingan nenek saya. Saat saya duduk di bangku kuliah, Nenek sering mengajak saya untuk berpartisipasi dalam baksos kesehatan, kamp Tzu Ching, dan kegiatan Tzu Chi lainnya. Saya sangat berterima kasih karena di antara banyaknya cucu dan anak, sayalah yang pertama menerima pelantikan. Saya merasa sangat beruntung,” ungkap Shi Yi-jing, relawan Tzu Chi Filipina.

Shi Yi-jing malanjutkan, “Hari ini, saya mengenakan Qipao milik nenek saya dan syukurlah ukurannya cocok. Saat mengenakannya, saya seakan merasakan doa dari Nenek. Sepanjang perjalanan menapaki Jalan Tzu Chi ini, saya merasa sangat bersyukur dan beruntung. Saya berikrar untuk bersama-sama dengan para relawan menapaki Jalan Bodhisatwa, melindungi silsilah Dharma Tzu Chi, dan mendampingi generasi berikutnya agar semangat Tzu Chi dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Terima kasih.”

Seluruh relawan komite yang dahulu adalah anggota Tzu Ching (muda mudi Tzu Chi) kemudian berikrar: “Kakek Guru yang terkasih, anak Anda telah kembali. Kami akan berpegang teguh pada tekad, mendengarkan Dharma dengan tekun dan bersemangat, mengemban misi, melindungi jiwa kebijaksanaan, dan mendampingi Tzu Ching. Kami akan mengikuti jejak Bibi dan Paman Tzu Chi dalam bersumbangsih dengan tekun dan bersemangat.”

Persembahan yang paling mulia telah saya terima. Hal yang paling saya khawatirkan ialah jika Tzu Chi berhenti sampai pada diri saya saja. Namun, melihat generasi muda terus melanjutkan langkah para relawan Tzu Chi, hati saya pun menjadi tenang.

Ingatlah bahwa ladang pelatihan Tzu Chi bermula di Hualien dan Griya Jing Si adalah tempat lahirnya Tzu Chi. Inilah keluarga kita bersama. Tidak peduli berapa generasi lagi akan berlalu, kalian harus terus mewariskan semangat Tzu Chi dan menyerahkannya kepada penerus kalian agar mereka tahu bahwa dunia ini memiliki Tzu Chi. Dengan begitu, warisan cinta kasih agung akan terus mengalir di dalam keluarga kalian.


“Sebelum bergabung dengan Tzu Chi, kebiasaan buruk saya sangat kuat. Saya gemar minum minuman keras dan merokok. Rokok hampir tidak pernah lepas dari tangan saya. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok. Keluarga saya pun tidak harmonis dan saya sering bertengkar dengan istri. Pertengkaran kecil hampir terjadi setiap hari dan pertengkaran besar pun terjadi secara berkala. Namun, kini semua kebiasaan buruk itu telah saya tinggalkan sepenuhnya. Saya berikrar untuk mengikuti Master dari kehidupan ke kehidupan, menyebarkan mazhab Tzu Chi, dan membawa manfaat bagi semua makhluk,” tutur Huang Yun-qiang, relawan Tzu Chi Malaysia menceritakan masa lalunya.

Sementara itu, Liu Feng-yi, relawan Tzu Chi Malaysia juga bercerita tentang bagaimana masa sulitnya dulu hingga sekarang bisa jauh lebih baik setelah dibantu oleh Tzu Chi. “Saat pandemi Covid-19 merebak pada tahun 2020, saya kehilangan pekerjaan dan kondisi ekonomi runtuh sehingga emosi saya menjadi sangat tidak stabil, hingga akhirnya saya bertemu Tzu Chi yang datang memberikan bantuan kepada kami. Sejak saat itu, saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terlibat dalam survei kasus amal Tzu Chi. Bukan hanya saya sendiri, saya juga mengajak anak-anak untuk ikut serta. Saya berharap kami dapat bersama-sama menyadari berkah setelah melihat penderitaan,” kisahnya.

Orang yang sungguh-sungguh positif tidak akan terhalang oleh penderitaan karena penderitaan adalah ladang pelatihan kita. Benar, kita harus tekun dan bersemangat. Dengan membina berkah di tengah penderitaan, barulah kehidupan kita memiliki nilai yang sejati. Saya mendoakan Anda agar mampu mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.

Hendaknya semuanya terus mewariskan Tzu Chi dari generasi ke generasi. Hal ini membutuhkan keteladanan nyata dari kalian di dalam keluarga. Dengan begitu, anak dan cucu akan meneladan karakter kalian dan mengagumi cinta kasih agung yang kalian wujudkan. Mereka pun akan belajar mengikuti kalian untuk meneruskan kekuatan cinta kasih. Semua hal ini kembali pada satu kata, yaitu "meneruskan". Tentu saja, ini membutuhkan keteladanan karakter kalian. Inilah praktik Bodhisatwa dunia, yaitu membimbing semua makhluk secara luas, terlebih lagi membimbing anak dan cucu sendiri untuk turut menapaki Jalan Bodhisatwa.


Di masa depan, dalam kehidupan yang akan datang, Jalan Bodhisatwa akan tetap terbentang cemerlang dan itu bergantung pada anak dan cucu kalian yang mewariskannya dari generasi ke generasi. Saya selalu berharap bahwa hingga hari terakhir sekalipun, jangan pernah melupakan Tzu Chi. Bila ada jalinan jodoh, kita akan bertemu dengan penuh sukacita serta menapaki Jalan Bodhisatwa di dalam keluarga yang sehat dan bahagia.

Saya merasa bahwa inilah jalan hidup yang benar yang seharusnya dicari. Kita hendaknya bukan hanya berpikir kelak kita bisa membawa banyak berkah pergi bersama kita. Berkah bukan sesuatu yang bisa didapatkan hanya dengan keinginan. Berkah hanya lahir dari kesungguhan kita saat ini.

Kesungguhan adalah ketulusan yang benar-benar berasal dari hati yang tidak tercemar. Selama hati tertuju pada Jalan Bodhisatwa untuk membawa manfaat bagi semua makhluk dan bersumbangsih tanpa pamrih, itulah yang disebut kemurnian.

Kemurnian bukan semata-mata mencari kenikmatan bagi diri, melainkan berusaha agar hakikat sejati tidak tercemar dan senantiasa menjaga niat yang sederhana demi kesejahteraan umat manusia. Hendaknya kita terus menapaki Jalan Bodhisatwa. Untuk mencapai kebuddhaan, kita tidak boleh meninggalkan Jalan Bodhisatwa.

Ladang pelatihan Bodhisatwa sejatinya adalah sebuah lingkaran yang utuh. Jadi, kita selalu berada di ladang pelatihan yang sempurna. Ketika kelompok demi kelompok datang, semuanya tetap akan membentuk lingkaran yang abadi. Dengan begitu, semuanya akan saling terhubung.


Dharma yang ingin saya sampaikan sangatlah jelas, yaitu prinsip kebenaran ini. Jika hati kita sungguh-sungguh dan murni, kata-kata akan mengalir dengan alami. Dalam segala urusan kehidupan, kita akan memahaminya dengan jernih dan mampu menggunakan berbagai metode untuk menginspirasi orang lain dan menjalin jodoh dengan mereka.

Ketika orang lain senang bertemu kita, mereka akan mengikuti langkah kita. Bahkan, bisa jadi anak, cucu, atau generasi peneruslah yang akan membantu membimbing kita kelak sesuai dengan jalinan jodoh yang mereka miliki. Mereka akan menuntun kita dengan Dharma dan menunjukkan satu arah yang benar. Saat itu terjadi, kita pun akan menerimanya dengan sukacita.

Singkat kata, saya berharap semuanya dapat membangun ikrar yang nyata di dalam Dharma yang sangat dalam dan tiada tara. Selama di dalam hati ada sebutir benih yang murni dan tanpa noda, apa pun yang kita jumpai dalam kehidupan akan langsung memperlihatkan kebenaran. Sekali mata memandang, kita akan memahami prinsip kebenarannya. Itulah kebijaksanaan.  

Hati Buddha dan tekad Guru adalah persembahan tertinggi
Mewariskan cinta kasih agung Tzu Chi
Menapaki Jalan Bodhisatwa yang murni dan tanpa noda
Membawa manfaat bagi dunia dan menyaksikan ketulusan sejati

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 30 Desember 2025
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -