Ceramah Master Cheng Yen: Hidup Sukacita Tanpa Perselisihan Duniawi
“Saat masih muda, saya suka bersenang-senang sehingga mengenal banyak teman. Saya yang masih diliputi ketidaktahuan pun menyentuh barang-barang yang seharusnya tidak disentuh. Lalu, saya tertangkap dalam suatu kali pemeriksaan polisi dan saat itu saya langsung ditahan selama 2 bulan. Pada waktu itu, saya berharap bisa melanjutkan sekolah dan menghapus kenangan-kenangan buruk tersebut. Jadi, saya mencurahkan seluruh perhatian saya untuk belajar di bidang tata rambut,” kata Lin Yang-zheng, relawan Tzu Chi.
“Kakak perempuan saya juga merupakan insan Tzu Chi. Dia mengajak saya dan berkata, "Apakah kamu mau mencoba bergabung di Tzu Chi?" Selama masa pelatihan, beruntung ada Kakak Hui-zhu yang membimbing saya. Beliau juga mengajak saya menyurvei banyak kasus sehingga saya merasakan bahwa insan Tzu Chi benar-benar memiliki cinta kasih agung. Saya melihat bahwa sumbangsih mereka benar-benar tanpa pamrih. Selama bisa membantu, mereka pasti akan melakukannya,” pungkas Lin Yang-zheng.
Buddha berkata bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan dan setiap orang sesungguhnya adalah Buddha. Namun, di dunia ini, tingkat kesadaran setiap orang itu berbeda-beda. Sejak kecil, seiring berjalannya waktu, hati, pikiran, dan tubuh kita terus bertumbuh dan menjadi makin dewasa. Memasuki usia paruh baya, kehidupan mulai menurun.
Hari-hari terus berlalu dan pengetahuan kita terus bertambah, tetapi usia kehidupan perlahan mulai berkurang. Seperti matahari yang setelah mencapai siang hari, perlahan bergerak ke arah barat. Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Semua ini adalah hukum alam. Jadi, setiap hari, matahari terbit dan terbenam sesuai hukum alam dan terus mendukung pencapaian kita.
Ketika telah mencapai tahap tertentu, kita harus mulai untuk membawa manfaat bagi orang lain. Inilah yang disebut dengan nilai kehidupan. Setelah belajar hingga tahap tertentu dan tidak dapat bertumbuh lagi, saat itulah kita harus segera membawa manfaat. Inilah hukum kehidupan. Tentu saja, kita harus terus belajar sepanjang hayat karena teknologi terus berkembang tanpa henti.
Waktu terus berjalan sehingga kita tidak sempat menoleh ke belakang atau mengenang masa lalu. Oleh karena itu, kita melewati hari dengan gelisah. Namun, kegelisahan ini sesungguhnya adalah wujud dari ketidakkekalan yang dikatakan oleh Buddha.

“Penglihatannya memang tidak begitu baik, tetapi lihatlah, saat beliau membantu kami mengerjakan berbagai hal kecil dan detail, sama sekali tidak terlihat bahwa beliau memiliki keterbatasan,” kata Hu Ren-zhen, Kepala Pengobatan Tradisional Tiongkok RS Tzu Chi Taichung.
“Saya selalu merasa oleh karena penglihatan saya hanya tersisa sedikit, saya harus lebih tekun untuk mengerjakan sesuatu,” kata Zhang Zhao-fang, relawan Tzu Chi.
“Sepanjang hari, mereka terus berkeliling dengan sepeda motor, becak, dan truk,” kata Xu Guo-lian, relawan Tzu Chi.
“Dari yang tidak ada menjadi ada. Merekalah yang memulai kegiatan daur ulang di sini. Pada masa awal, pasangan suami istri ini mengumpulkan barang daur ulang dengan sepeda dan becak hingga kini telah membangun lebih dari 300 titik daur ulang,” kata Lin A-chun, relawan Tzu Chi.
Dalam satu hari terdapat 86.400 detik, yaitu 24 jam. Saat ini, kita bekerja 8 jam dalam sehari dan terus perhitungan dengan waktu. Jika hari ini kita lembur 2 jam, waktu itu bisa terus diakumulasi menjadi 4 jam, 6 jam, dan terus bertambah, lalu merasa harus diganti dengan cuti. Aksara Tionghoa "libur" sama dengan "semu". Jadi, kata mana yang kalian tulis?
Menjalani kehidupan yang nyata tidaklah mudah. Kita sering hidup dalam sesuatu yang "semu", seolah-olah membangun kehidupan yang semu. Lalu, bagaimana kita bisa bersungguh-sungguh? Begitu kita beristirahat, waktu pun berlalu begitu saja. Jadi, bagaimana kita menjalani kehidupan yang nyata dan mengakumulasi makna kehidupan? itu tidaklah mudah.
Jadi, hendaknya kita memperhatikan selama hidup di dunia ini, apakah kita telah melangkah untuk mengembangkan nilai kehidupan dan bersumbangsih bagi dunia.

“Kesempatan itu harus cepat diambil. Begitu melihat informasinya, Anda harus langsung menghitung tanggal, lalu mengajukan cuti. Setelah disetujui, langsung mendaftarkan diri,” kata Huang Zi-qi, relawan Tzu Chi Singapura.
“Teman-teman sering bertanya kepada saya, ‘Mengapa Anda mau bersusah payah seperti ini? Mengeluarkan biaya sendiri, terburu-buru, bahkan terus bepergian setiap hari.’ Saya berpikir bahwa ini adalah sebuah kebahagiaan. Saya tidak bisa benar-benar menjelaskan mengapa saya ingin melakukan hal ini. Saya hanya merasa bahwa bisa membantu orang lain adalah sebuah berkah bagi diri sendiri yang membuat saya makin menghargai kehidupan dan mensyukuri apa yang saya miliki saat ini,” kata Zeng Qiu-li, relawan Tzu Chi Singapura.
Setiap inci jalan mengandung prinsip kebenaran. Hendaknya kita benar-benar memahami prinsip kebenaran tentang ketulusan. Mempelajari hal ini tidaklah mudah. Kehidupan ini bagaikan air di dalam panci yang di bawahnya ada api yang terus menyala. Kayu dibakar untuk memanaskan panci hingga air mendidih.
Saat air mendidih, uap terus muncul tanpa henti. Air di dalam panci terus mendidih dan seiring waktu, air itu akhirnya kering. Sesungguhnya, air yang kering itu kembali menjadi uap. Begitulah empat unsur yang terus berubah dalam siklusnya. Jadi, hendaknya kita benar-benar menghargai kehidupan.


Kita juga harus mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Pengetahuan mudah membuat kita menjadi perhitungan, sedangkan kebijaksanaan itu murni dan tanpa noda. Saat seseorang menghadapi dunia dengan hati yang murni dan tanpa noda, dia akan secara alami dipenuhi rasa syukur. Coba pikirkan, antara hati yang penuh syukur dan hati yang penuh perhitungan, mana yang lebih membawa kebahagiaan? Tentu hati yang penuh syukur.
Dengan hati yang lapang dan pikiran yang murni, kita tidak bersaing dengan orang lain, tidak berselisih dalam urusan apa pun, tidak bertentangan dengan dunia, dan tidak perhitungan. Dengan begitu, hati akan selalu bahagia. Sesungguhnya, prinsipnya sederhana. Jika setiap hari kita selalu perhitungan, hidup akan terasa sangat melelahkan.
Waktu berjalan detik demi detik. Tidak ada yang mendapat lebih satu menit atau kurang satu detik. Semua orang memiliki jumlah waktu yang sama. Namun, dalam jangka panjang, nilai kehidupan setiap orang berbeda. Ada orang yang selalu perhitungan dan merasa dirugikan sehingga menimbulkan banyak noda batin. Itulah hidup yang penuh penderitaan.
Sebaliknya, jika tidak bersikap perhitungan dan selalu merasa bersyukur, meski kegelapan batin mengelilingi kita, semuanya dapat diatasi dengan mudah dan berlalu begitu saja. Inilah kehidupan yang damai. Kehidupan yang damai sangatlah indah.
Memperoleh pencapaian sesuai hukum alam
Menggenggam kehidupan untuk mengembangkan potensi bajik
Hidup sukacita tanpa perselisihan duniawi
Membangkitkan Bodhi dengan hati yang lapang dan pikiran yang murni
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 01 Mei 2026







Sitemap