Ceramah Master Cheng Yen: Kembali dengan Membawa Ikrar untuk Membimbing Sesama


“Tahun 1993, Kakak A-xue untuk pertama kalinya kembali dan menemui Master. Sejak Tzu Chi mulai beraktivitas di Vietnam, beliau sepenuh hati dan tekad menggarap ladang berkah di ladang pelatihan Vietnam. Yang paling membuat kami menghormatinya ialah dalam setiap aktivitas Tzu Chi di Vietnam dan setiap kamp pelatihan di sini, beliau selalu ada,” kata Chen Da-yu, Penanggung jawab Kantor Perwakilan Tzu Chi Vietnam.

“Di Vietnam, beliau juga sangat mementingkan budaya humanis Tzu Chi. Karena itu, baik dalam kelas pelatihan relawan maupun kelas sehari-hari, beliau selalu secara langsung mengajari para peserta tentang budaya humanis dan tata krama Tzu Chi,” pungkas Chen Da-yu.

“Ibu saya lahir di Vietnam. Saat kami masih kecil, beliau mengajak kami untuk mengikuti kelas Tzu Chi, pembagian bantuan, dan baksos kesehatan. Beliau mengenal Tzu Chi lewat pekerjaannya dan aktif berpartisipasi dalam berbagai aktivitas Tzu Chi, termasuk pembagian beras. Beliau bahkan memanggul 10 kilogram beras seorang diri,” kata Sun Chuan-kai, relawan Tzu Chi.

“Sebagai putra dan menantunya, kami juga mewarisi silsilah Dharma Tzu Chi dan bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa. Saat beliau dirawat di RS Tzu Chi Taipei, saya sangat bersyukur kepada para bhiksuni Griya Jing Si yang datang untuk mencurahkan perhatian padanya. Kami terlebih bersyukur kepada tim medis yang merawat beliau dengan sepenuh hati,” lanjut Sun Chuan-kai.

Sun Chuan-kai melanjutkan “Beliau meninggal dunia pada tanggal 20 Maret dan kami mewujudkan harapannya untuk menyumbangkan tubuhnya sebagai Silent Mentor. Jadi, beliau membawa manfaat besar dengan tubuhnya untuk mendukung pembelajaran mahasiswa kedokteran serta meneruskan welas asih dan kebijaksanaan.

“Demi membalas budi luhur beliau, kami berikrar untuk mengikuti langkah beliau, menjalankan ajaran dengan tekad yang teguh, serta selamanya menapaki Jalan Bodhisatwa Tzu Chi dengan berani, tekun, dan bersemangat,” pungkas Sun Chuan-kai.


Kehidupannya bagai kehidupan Bodhisatwa karena bergabung dengan Tzu Chi dan berpegang pada semangat untuk menjalankan praktik Bodhisatwa di dunia. Dia benar-benar telah melakukannya dengan sangat baik. Mendengar kisah kehidupannya, saya sangat tersentuh.

Pada akhir hayatnya, dia tetap memilih untuk kembali ke Taiwan. Dia membawa manfaat besar dengan tubuh yang tadinya sudah tidak berguna. Tubuhnya dimanfaatkan untuk penelitian medis agar kelak dapat membina lebih banyak dokter yang baik dan menyelamatkan nyawa pasien. Ini merupakan kebijaksanaan agung. Memiliki kebijaksanaan agung seperti ini tidaklah mudah.

Sebagai keluarganya, kalian hendaknya merasa tenang dan beruntung. Dia telah bersumbangsih bagi orang banyak. Ini sungguh tidak mudah. Selain itu, dia juga telah menginspirasi banyak relawan di Vietnam. Dia adalah murid saya dan saudara se-Dharma kalian. Putra dan menantunya juga sangat patuh padanya. Jadi, tiada penyesalan dalam hidupnya.

Sungguh, dia telah berkontribusi bagi masyarakat. Saya sering berkata bahwa kita harus menginventarisasi kehidupan diri sendiri. Dia pasti telah melakukannya. Belakangan ini, saya terus mengingatkan insan Tzu Chi untuk menginventarisasi nilai kehidupan masing-masing. Datang ke dunia ini, apakah tindakan kita yang paling bernilai?

Kita sungguh harus melakukan inventarisasi. Saya yakin bahwa dia tidak menyia-nyiakan kehidupan. Dia telah memanfaatkan kehidupannya dengan baik untuk menjadi ibu yang baik bagi anaknya, mertua yang baik bagi menantunya, dan saudara se-Dharma yang baik bagi insan Tzu Chi. Jadi, kehidupannya sangat bermakna.


Kehidupan memang tidak kekal. Kita tidak tahu berapa lama seseorang bisa hidup. Yang pasti, ketidakkekalan akan datang suatu hari nanti. Saat kita terlahir, usia kehidupan kita sudah ditentukan. Kita semua sama, yang berbeda hanyalah usia kehidupan kita. Demikianlah jalinan jodohnya dengan dunia ini. Namun, dia telah pergi dengan membawa berkah yang diciptakannya di kehidupan sekarang. Di kehidupan berikutnya, dia akan terus menapaki Jalan Bodhisatwa.

Dia akan kembali menjadi Bodhisatwa dunia di kehidupan mendatang. Kita juga akan kembali menjadi Bodhisatwa dunia di kehidupan mendatang. Dia telah pergi dan kembali lagi sebagai Bodhisatwa. Kelak, kita akan menciptakan makin banyak berkah bagi Dunia Saha ini. Di masa mendatang, kita akan terus mengikis karma buruk dengan menapaki Jalan Bodhisatwa.

Hendaklah kita terus kembali ke Dunia Saha ini karena hanya di dunia inilah kita dapat menjadi Bodhisatwa.Di dunia ini, terdapat penderitaan dan kebahagiaan. Ada orang yang sangat menderita, ada pula yang dipenuhi berkah. Melihat orang yang menderita, kita hendaknya terinspirasi untuk lebih tekun dan bersemangat.

Melihat orang yang dipenuhi berkah, kita hendaknya tahu bahwa mereka dipenuhi berkah karena telah bersumbangsih dan menapaki Jalan Bodhisatwa di kehidupan lampau. Karena itu, kita harus bersyukur dan menghormati mereka. Mereka pasti telah berikrar untuk kembali ke dunia ini di kehidupan mendatang. Ketika kembali lagi kelak, mereka akan membawa pengalaman dari kehidupan ini.

Mari kita doakan semoga A-xue tetap menjadi insan Tzu Chi di kehidupan mendatang dan mengakumulasi berkah dari kehidupan ke kehidupan. Dia pasti gembira bisa kembali ke dunia ini. Dia selalu tersenyum saat bertemu orang-orang. Orang-orang yang melihatnya pun merasa sukacita. Inilah yang terpenting.


Kita harus mendoakannya agar dirinya terbebas dari kemelekatan dan merasa sukacita setiap hari. Ketika kembali lagi sebagai anak kecil, dia akan tersenyum terhadap setiap orang. Dengan demikian, dia dapat menjalin jodoh baik dengan setiap orang yang melihatnya. Mari kita mendoakannya. Semoga dia memiliki jalinan jodoh baik seperti ini. Mari kita mendoakannya. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baiklah.

Saya juga ingin mewakilinya untuk bersyukur kepada kalian. Kalian memiliki jalinan kasih sayang dan jalinan jodoh dengannya sehingga secara khusus kembali untuk mendoakannya. Saya sangat bersyukur pada kalian. Kalian semua adalah insan Tzu Chi dan murid saya. Melihat kalian begitu peduli dan dekat satu sama lain, saya sangat sukacita. Rasa sukacita saya sama seperti orang tua yang melihat anak-anaknya harmonis satu sama lain. Jadi, saya bersyukur kepada Bodhisatwa sekalian.

Mari kita mendoakannya bersama. Dia telah kembali dalam keluarga yang penuh berkah dan selalu tersenyum saat bertemu orang sehingga setiap orang yang melihatnya akan menyukainya. Semoga tekad pelatihannya tidak mundur dan tetap bersumbangsih sebagai Bodhisatwa Tzu Chi kelak. Semoga dia disayangi orang-orang dalam keluarganya sekarang. Mari kita mendoakannya.

Saya telah lanjut usia. Belakangan ini, saya merasakan dengan jelas bahwa saya telah lanjut usia. Ini tak terhindarkan dalam kehidupan. Usia kehidupan setiap orang terbatas. Jadi, saya berharap kalian dapat terus menapaki Jalan Tzu Chi. Jalan Tzu Chi adalah Jalan Bodhisatwa. Kalian menapaki jalan ini sesuai aturan setempat. Ini sangatlah baik. Intinya, saya sangat bersyukur.

Di Vietnam, kalian bersatu untuk bersumbangsih. Saya sangat bersyukur dan sukacita. Hendaklah kalian terus mempraktikkan ajaran Tzu Chi di dunia.

Bertekad untuk menjadi Bodhisatwa dan mewariskan silsilah Dharma
Menunjukkan keteladanan dengan ketekunan, semangat, dan kegigihan
Silent Mentor membawa manfaat besar
Kembali dengan membawa ikrar untuk membimbing sesama

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 10 Oktober 2026
Luangkan sedikit ruang bagi diri sendiri dan orang lain, jangan selalu bersikukuh pada pendapat diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -