Ceramah Master Cheng Yen: Kembali Menyebarkan Ajaran Buddha di Tanah Kelahiran Buddha
Saya sering berbagi tentang tanah kelahiran Buddha. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Buddha yang saat itu merupakan seorang putra mahkota, melihat kemiskinan yang dialami rakyat di negerinya. Di dalam istana, semua orang hidup dalam kemewahan. Namun, saat keluar dari istana, beliau melihat orang kurang mampu, lansia sebatang kara, dan orang yang jatuh sakit. Sebagian orang sakit hingga tidak mampu berjalan. Saat mereka terjatuh, tidak ada yang peduli. Mereka hanya bisa menanti ajal di tepi jalan tanpa ada yang menghiraukan mereka. Kondisi-kondisi seperti ini disaksikan secara langsung oleh Pangeran Siddhartha.
Mengapa beliau bisa menyaksikannya? Karena di luar istana, rumah orang-orang tidak dikelilingi dinding. Meski ada dinding, itu pun terbuat dari jerami. Saat jerami-jerami itu hancur, orang di dalam rumah dapat melihat ke luar, orang di luar rumah pun dapat melihat kondisi di dalam. Kehidupan mereka sungguh sangat menderita.
Bagaimana kondisi tanah kelahiran Buddha sekarang? Apa yang terlihat lewat telekonferensi sungguh membuat saya merasa tidak tega. Jika orang-orang di seluruh dunia yang memahami ajaran Buddha melihat kondisi kehidupan warga di tanah kelahiran Buddha yang begitu kekurangan, mereka pasti juga merasa tidak tega.
Memberikan bantuan dan menyebarkan Dharma, inilah yang harus kita lakukan sekarang. Kita semua memiliki tanggung jawab ini. Pikullah tanggung jawab untuk kembali menyebarkan ajaran Buddha di tanah kelahiran Buddha. Untuk itu, kita harus belajar menapaki Jalan Bodhisatwa. Dengan belajar, kita akan tersadarkan. Jadi, kita harus menapaki Jalan Bodhisatwa serta terus-menerus belajar agar segala sesuatu yang kita lakukan senantiasa membawa manfaat bagi semua makhluk.

Kita harus belajar untuk melapangkan hati guna membawa manfaat bagi semua makhluk dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Demikianlah proses kita meneladan Bodhisatwa. Kita belajar menuju kesadaran.
Lihatlah, jarak antara aksara belajar dan sadar sangat dekat. Namun, sesungguhnya tidak sesederhana itu. Jarak ini harus ditempuh dari kehidupan ke kehidupan. Sebelum mencapai kesadaran atau pencerahan sempurna, kita terus mengalami kelahiran dan kematian terfragmen. Memiliki jalinan jodoh untuk mempelajari ajaran Buddha, kita hendaknya segera mempelajarinya. Kita harus mempelajari, mendengar, dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.
Setelah kehidupan ini berakhir, segala sesuatu yang telah kita pelajari akan tetap tersimpan dalam kesadaran kita. Saat terlahir kembali di dunia ini, kita akan memiliki jalinan jodoh baik untuk kembali mengenal ajaran Buddha dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Kita akan kembali mempelajari ajaran Buddha di kehidupan baru. Dengan mempelajari ajaran Buddha secara mendalam, pemahaman kita pun akan makin mendalam.
Dari kehidupan ke kehidupan, pemahaman kita perlahan-lahan meresap dari kesadaran keenam hingga kesadaran kedelapan. Lewat enam kesadaran, kita mengenal ajaran Buddha dan mulai mempelajarinya. Lebih sering mendengar, melihat, dan mempraktikkan, inilah yang kita lakukan pada tahap-tahap awal.

Setelah kehidupan ini berakhir dan kita terlahir kembali, kita akan tahu untuk mencari ajaran Buddha. Dharma sudah ada dalam kesadaran kita. Namun, di dunia ini, dibutuhkan adanya jalinan jodoh. Setelah mengenal ajaran Buddha, kita dipenuhi rasa sukacita dan terus mempelajarinya hingga meresap ke dalam kesadaran ketujuh kita.
Apakah demikian bisa disebut memahami ajaran Buddha secara menyeluruh? Belum. Namun, saat kehidupan ini berakhir dan terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kita sudah membawa Dharma. Jadi, begitu mendengar dan melihatnya lagi, kita bisa langsung memahaminya. Meski demikian, pemahaman ini juga belum menyeluruh. Kita harus terus mendalami ajaran Buddha hingga meresap ke dalam kesadaran kedelapan.
Dengan kesadaran kedelapan, saat melihat suatu materi, kita tahu bahwa itu hanyalah perpaduan sebab dan kondisi sehingga tidak tamak akan materi tersebut. Segala materi di dunia ini bukanlah milik kita. Meski bukan milik kita, kita tetap harus menghargai. Ini disebut menghargai berkah. Pada saat yang sama, kita juga harus menciptakan berkah. Untuk itu, kita harus meneladan Buddha.
Kini, relawan kita telah menjangkau Nepal. Berkat matangnya jalinan jodoh, kini adalah momen yang tepat untuk pergi ke sana. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, kita dapat kembali menyebarkan ajaran Buddha di Nepal dan mengajak para praktisi buddhis setempat untuk berhimpun dan melantunkan Sutra Makna Tanpa Batas bersama. Saya sangat sukacita karena ini merupakan harapan saya.
Kini, para anggota Sangha di Nepal makin memahami Sutra Makna Tanpa Batas. Ajaran Buddha yang sepenuh hati ingin saya sebarkan telah kembali tersebar di Nepal. Jadi, saya tak lagi merasa khawatir. Saya hanya berharap semua orang dapat bersungguh hati mempelajari dan mempraktikkannya. Makin sering mempraktikkan Sutra Makna Tanpa Batas, kalian akan makin memahami maknanya. Jadi, menjalankan Tzu Chi berarti menjalankan Sutra Makna Tanpa Batas. Kalian mempraktikkannya secara nyata.

Kini, kalian harus mempelajari Sutra Makna Tanpa Batas dan renungkanlah apakah perbuatan kalian setiap hari berkaitan dengan Sutra tersebut. Berhubung telah bersumbangsih secara nyata, saat mempelajari Sutra ini, kalian pasti sangat mudah memahaminya.
Saya bisa melihat Dokter Chen dan relawan lainnya yang membawa Sutra Makna Tanpa Batas ke tanah kelahiran Buddha dan menyebarluaskannya di tengah para anggota Sangha setempat. Pada tanggal 24 Imlek setiap bulannya, para anggota Sangha setempat selalu berhimpun di Kuil Maya Dewi, Lumbini untuk melantunkan Sutra Makna Tanpa Batas.
Sutra Makna Tanpa Batas dilantunkan di Kuil Maya Dewi. Bayangkanlah, bagaimana bisa saya tidak bersukacita? Saya sangat sukacita dan bersyukur mendengarnya. Harapan saya di kehidupan sekarang telah terwujud. Tiada penyesalan dalam hidup saya. Saya sangat sukacita dan bersyukur.
Membawa Dharma sejati ke tanah kelahiran Buddha
Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan praktik Bodhisatwa
Menyebarluaskan Sutra Makna Tanpa Batas dengan sukacita
Belajar menuju kesadaran dengan menciptakan berkah dan menghargai jalinan jodoh
Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan praktik Bodhisatwa
Menyebarluaskan Sutra Makna Tanpa Batas dengan sukacita
Belajar menuju kesadaran dengan menciptakan berkah dan menghargai jalinan jodoh
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 25 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 27 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 27 Desember 2025







Sitemap